Animal FarmOleh : Irfan TP*

Judul Buku : Animal Farm

Penulis : George Orwell

Penerbit : Bentang Pustaka

Tahun : Cetakan Pertama, Januari 2015

Halaman : 140

Di sebuah ladang peternakan, seekor babi tua penuh pengalaman mengorganisasi massa untuk melawan dan menggulingkan kesemena-menaan manusia, yaitu seorang tua pemilik ladang dan para pegawainya. Dalam sekali serbu, sang pemilik yang suka mabuk dan para pegawainya lari kocar-kacir. Rezim manusia seketika tumbang.

Setelah kembali mengusai massa dan keadaan, sang babi tua menyerukan tentang pentingnya kerja keras, solidaritas, kebersamaan, dan kesetaraan. Hal itu kemudian mengejawantah ke dalam sebuah kesepakatan yang berisi tujuh poin yang berisi semacam aturan dan pandangan hidup berbangsa. Para binatang yang ikut serta dalam pertempuran melawan manusia, di antaranya biri-biri, sapi, kuda, angsa, burung, kucing, keledai, dan masih banyak lagi, tanpa banyak interupsi kemudian menyetujui kesepakatan tersebut.

Selang beberapa waktu setelah kemenangan gilang-gemilang, sang babi tua mati. Tampuk pimpinan kemudian diteruskan oleh dua ekor babi muda yang keduanya sama pintar. Golongan babi dikisahkan sebagai kelompok binatang yang paling pintar dan secara kepemimpinan paling bisa diandalkan. Maka bergulirlah kehidupan baru, sebuah tatanan hidup para binatang yang telah terbebas dari penjajahan manusia.

Dengan penuh semangat dan harapan yang bergelombang, para binatang bahu-membahu bekerja keras untuk membangun ladang dan demi kesejahteraan hidup yang lebih baik. Usaha ini tak perlu menunggu waktu lama sudah memperlihatkan hasil yang menggembirakan. Kesejahteraan meningkat dan kemakmuran ladang sebuah tatanan bangsa baru mulai mencuat.

Namun pada perjalanannya, tidak seperti pendahulunya–yaitu si babi tua, kedua babi pemegang tampuk kepemimpinan mulai menunjukkan sikapnya yang asli. Watak haus kuasa dan otoriter perlahan mulai dijalankan. Kondisi binatang lain yang berperan sebagai rakyat ladang–yaitu pekerja keras dan setia, mereka manfaatkan untuk kepentingan golongannya, yaitu golongan babi, dan juga golongan para penjaga atau militer, peran militer ini diemban oleh para anjing.

Hasil bumi yang mereka panen untuk lumbung nasional malah ditumpuk untuk kesejahteraan dua golongan ini. Rakyat dikurangi jatahnya, siapa pun yang mencoba kritis dan melawan harus bersiap dengan hukuman yang kejam. Korban bergelimpangan, dan kebanyakan rakyat tak berani melawan. Cita-cita agung kolektif yang semula murni, kemudian melenceng jauh dari niatnya.

Rakyat hanya “kenyang” dengan simbol-simbol keagungan bangsa yang semu, yang diciptakan oleh para penguasa. Di mana-mana slogan dan semboyan. Lagu-lagu pemujaan terhadap bangsa diciptakan. Proyek-proyek yang ditujukan untuk membuai rakyat dan politik mercusuar dikembangkan. Banyak yang muak namun tak berani dan tak mampu melawan. Beberapa pemberontakan kecil dapat dengan mudah dipatahkan rezim dua babi ini.

Jiwa serakah dan haus kuasa ternyata juga membuat kedua babi ini pecah kongsi. Antara yang satu dengan yang lain saling adu kuat, yang pada akhirnya membuat salahsatu dari babi itu tersingkir dari lingkar kekuasaan. Setekah berhasil disingkirkan, babi yang kalah ini dihinakan oleh kampanye-kampanye yang menggiring rakyat untuk berpihak kepada si babi pemenang. Ejekan, fitnah, dan tekanan yang terus-menerus membuat si babi kalah akhirnya meninggalkan ladang para binatang. Namun namanya tetap hadir dalam bentuk cerita-cerita tentang pengkhianatan.

Dalam kekuasan tunggal yang absolut, si babi pemenang semakin leluasa sekehendak hatinya ketika menjalankan roda pemerintahan di peternakan binatang. Lama-kelamaan kondisi ini akhirnya membuat sadar para binatang, bahwa ternyata antara babi dan manusia tak ada bedanya, dua-duanya adalah para penindas!

***

Orwell begitu lihai dalam menyusun cerita alegorinya. Kisah para babi keblinger yang mengkhianati dan menindas rakyat binatang ini adalah sindiran keras terhadap system kekuasaan Uni Soviet yang tengah berkuasa. Bagaimana pemerintahan komunis ini yang semula dibangun oleh semangat kesetaraan, ternyata pada akhirnya hanya memunculkan penguasa yang diktator.

Jika kita menelusuri setiap karakter perumpamaan binatang, maka kita akan terkagum-kagum, sebab Orwell begitu presisi dalam menulisnya. Kekaisaran Rusia, pemimpin komunis, para rakyat, negara sahabat, si babi kalah, dan peletak dasar atau sang ideolog komunisme; semuanya dibangun oleh tokoh para binatang tadi dengan karakter yang serupa. Sehingga jika para binatang ini diumpamakan sebuah system kekuasaan lain di luar Uni Soviet namun memiliki corak yang sama, maka niscaya akan tetap relevan. Seperti misalnya mengaitkan para binatang ini dengan rezim Kim Jong Un di Korea Utara, dan bahkan rezim Orba di Indonesia!

Inilah kisah alegori yang nyaris sempurna! Tak heran jika Animal Farm berhasil melejitkan nama Orwell di kancah sastra dunia. [ ]

  • Irfan TP : Tukang menyampul buku, peminat sastra & sejarah, bergiat di Komunitas Aleut
Advertisements