1. Sabda Zarathustra (Nietzsche)Sabda Zarathustra

Zarathustra adalah tokoh yang jujur. Ia menyampaikan prinsip dan kejujuran dengan pandangan-pandangan tentang kebenaran. Lewat Zarathustra, Nietzsche yang kerap dianggap sebagai seorang Atheis yang menyatakan “Tuhan telah mati”, menjelaskan bahwa filsafat tidak akan berkembang jika masih terbelenggu oleh dominasi teologi yang mengatur nilai dan aturan yang ada di masyarakat.  Lewat tulisan yang berisi persahabatan, kegembiran, dan angan-angan, filsuf yang mempopulerkan Manusia Unggul atau Ubermensch ini, menggeledah kebobrokan manusia yang diselimuti berbagai macam dalih. “Sesungguhnya manusia adalah arus yang tercemar. Seseorang harus menjadi seperti laut, untuk menerima arus tercemar tanpa menjadi kotor,” ungkapnya.

  1. Bandoeng Baheula (R. Moech A. Affandie)Bandung Baheula

Dalam buku yang berbetuk pdf ini (versi cetaknya sudah langka), R. Moech A. Affandie menuliskan pengalamannya tentang Bandung–kota yang ia akrabi dalam keseharian. Ditulis dalam bahasa Sunda, sehimpunan catatan ini mengingatkan akan buku “Basa Bandung Halimunan” karya Us Tiarsa yang diterbitkan Kiblat Buku Utama. Memoar tentang kota–setidaknya di Bandung, memang belum terlalu banyak. Kota dalam perjalanannya kerap hanya menggantung di lereng ingatan warga, namun sering luput dari dokumentasi tertulis. Dan tulisan, sebagaimana umumnya, adalah pengikat ingatan yang cukup ampuh. Buku “Bandoeng Baheula” memang tidak selengkap dan semurung “Istambul”-nya Orhan Pamuk, misalnya. Namun apa yang telah dikerjakan oleh R. Moech A. Affandie, setidaknya menjadi penanda bahwa pendokumentasian interaksi warga dengan kota bandung telah digulirkan.

  1. Pergolakan Pemikiran Islam (Ahmad Wahib)Pergolakan Pemikiran Islam

Kumpulan catatan harian seorang yang gelisah, yang terus mempertanyakan banyak hal, terutama wacana-wacana ke-Islam-an. Wahib adalah wartawan Tempo yang meninggal dunia di usia masih muda, karena kecelakaan lalu lintas di daerah Senen, Jakarta. Pikiran-pikirannya menerabas batas-batas logika, ia tak jarang melabrak beberapa hal yang menurut pandangan umum telah “final”. Wahib seperti terlahir untuk terus bertanya, ia seolah tak pernah menemukan tempat pemberhentian dari gerak pikirannya. Sikap inilah yang kemudian menjadi inspirasi banyak anak muda. Hari ini Ahmad Wahib telah (hampir) menjadi simbol keberanian untuk berpikir kritis.

  1. Semerbak Bunga di Bandung Raya (Haryoto Kunto)Semerbak Bunga di Bandung Raya

Inilah magnum opus dari Sang Kuncen Bandung. Dengan gaya menulis yang seolah sedang mendongeng, Haryoto Kunto menggeledah masa lalu Kota Bandung yang terentang panjang ke belakang. Ia yang sangat mencintai kota ini, menghimpun cerita-cerita tentang Kota Bandung yang digali dari banyak buku dan pengalamannya sendiri. “Hana nguni hana mangke. Tan hana nguni tan hana mangke” (Ada dahulu ada sekarang. Bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang); begitu tulisan pembuka di buku ini. Kutipan tersebut jelas menyurat dan menyiratkan satu hal, bahwa waktu yang berkelindan menegaskan jejaknya pada ruang. Ya, karena pada ruanglah waktu bisa dideteksi. Dan Bandung sebagai ruang, lewat “dongeng” Haryoto Kunto di buku ini, begitu kaya akan cerita dan kisah yang beragam.

  1. Kearifan Pelacur (Elizabeth Pisani)Kearifan Pelacur

Di halaman 7 buku terbitan “Serambi” ini tertulis; “Buku ini adalah sebuah buku mengenai hidup dan mati, seks dan narkoba; mengenai harapan dan kekecewaan. Buku ini mencoba menggambarkan kehidupan dalam dunia HIV/AIDS internasional yang berputar di sekeliling hotel-hotel dan pusat-pusat konvensi yang mewah, maupun di jalanan kumuh kota Jakarta.” Sebagai sebuah karya dari seorang jurnalis, penulis, dan peneliti, buku ini begitu kaya dengan data.

  1. Segenggam Cinta dari Moskwa (M. Aji Surya)Segenggam Cinta dari Moskwa

Rusia yang dulu dikenal sebagai Uni Soviet, yang terkenal sebagai negara “beruang merah” atau komunis, dalam catatan seorang M. Aji Surya ternyata memancarkan satu sudut pandang penting. Negara ini, setidaknya dalam pengembaraan selama empat tahun penulisnya, ternyata dihiasi dengan toleransi yang melahirkan keunikan serta keajaiban. Tentu apa yang dikabarkan di buku ini bukan gambaran secra umum Kota Moskwa apalagi Rusia, namun apa yang terbuhul dari catatan pengembaraan Aji Surya, sudut pandang kita menjadi semakin kaya, untuk kemudian tidak gegabah dalam menilai budaya sebuah kota.

  1. Memang Jodoh (Marah Rusli)Memang Jodoh

Konon sang penulis pernah berwasiat, bahwa karya terakhirnya ini hanya boleh dipublikasikan ketika ia telah meninggal dunia. Jika dilihat dari isinya yang semiotobiografi, buku ini (barangkali) banyak memendam kisah yang dirahasiakan oleh penulisnya. Seperti cerita “Siti Nurbaya” yang seolah menjadi karya puncak Marah Rusli, buku ini pun pekat dengan pantangan adat. Hamli, tokoh dalam kisah ini melabrak pantangan orangtuanya untuk tetap pergi merantau. Selain itu, ia pun memutuskan untuk menikah dengan gadis beda suku, yang bagi keluarganya adalah sebuah pantangan. Demi cinta, Hamli rela dibuang dari lingkungan batihnya sendiri. Karya ini menjadi klasik karena ditulis oleh Marah Rusli dan “terpendam” selama puluhan tahun. Dengan gayanya yang khas, sekali lagi, Marah Rusli mewarnai khazanah sastra Indonesia.

  1. Dengarlah Nyanyian Angin (Haruki Murakami)Dengarlah Nyanyian Angin

Seperti halnya dalam kisah “Norwegian Wood”, kali ini Haruki Murakami kembali menggambarkan satu kondisi tentang generasi yang gelisah, pencarian identitas, mabuk, dan dipenuhi rokok dan bir. “Kaze no uta o kike” (judul asli buku) menceritakan seorang remaja berusia 21 tahun yang kerap menghabiskan waktunya untuk ngobrol di bar. Tokoh aku bersahabat dengan Nezumi, seseorang yang menganggap kekayaan sebagai ancaman, dan hal itu membuatnya gelisah. Selain itu, tokoh aku pun bersahabat dengan seorang perempuan yang didapatinya ketika perempuan itu pingsan karena mabuk. Persahabatan yang terjalin dijalani tokoh aku sembari menggali nilai-nilai. Setelah berpisah dengan si perempuan, tokoh aku kembali ke kampung halamannya dan bertemu dengan kawan lama. Dalam pencarian identitas, kiranya tokoh aku dihinggapi kecemasan yang berparade, ia kerap membandingkan masa yang lampau dengan pertanyaan tentang pilihan hidup untuk masa depannya. Namun demikian, kegelisahan itu, yang mungkin menyeret tokoh aku pada jurang putus asa, seperti ditulis Murakami di pembuka buku ini, “Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.”

  1. The Sicilian (Mario Fuzo)The Sicilian

Kelanjutan dari kisah “The Godfather” ini menceritakan tentang Don Corleone yang mengirim putranya untuk menjemput Salvatore Guiliano yang berada di Sisilia. Salvatore Guilian adalah seorang bandit muda yang sikapnya mirip Robih Hood. Ia juga seorang penantang korupsi yang gigih. Petualangan putra Don Corleone dengan bandit muda ini dipenuhi dengan darah, balas dendam, dan pengkhianatan. Inilah kisah dari orang-orang Sisilia yang romantis namun menor dengan kekerasan.

  1. Candra Kirana (Ajip Rosidi)Candra Kirana

Ini adalah salah satu kisah klasik yang berakar dari cerita rakyat Nusantara. Kisah tentang Raden Panji yang hendak menentukan nasib sendiri, namun takdir berkata lain. Demi menyatukan Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Kadiri, orangtua Raden Panji menjodohkan dirinya dengan seorang putri. Namun ketika dewasa, ia malah memilih gadis lain yang dicintainya. Dewi Anggraeni, gadis pilihan Raden Panji tersebut, karena sadar ia telah menjadi penghalang bagi bersatunya dua kerajaan, maka dia akhirnya memilih untuk bunuh diri. Di bawah cahaya bulan yang benderang (Candra Kirana), Raden Panji menguburkan Dewi Anggraeni, pujaan hatinya. Ketika nasib mempertemukan Raden Panji dengan putri yang pernah dijodohkan dengan dirinya, ternyata sosok putri tersebut mirip dengan Dewi Anggraeni yang telah meninggal. Ia akhirnya bersedia menikah dengan putri tersebut.

  1. Serat Chentini (Kamajaya)Serat Chentini

Naskah ini adalah salah satu kesusatraan Jawa terbesar. Beberapa pihak bahkan menganggapnya sebagai salah satu kesusastraan dunia klasik. Isinya bercerita tentang banyak sisi dari kebudayaan Jawa. Kisah ini adalah tentang pelarian anak-anak Sunan Giri ketika ditaklukan oleh Sultan Agung dari Mataram pada tahun 1636. Pelarian ini merekam pengalaman perjalanan mereka, di antaranya pertemuan dengan berbagai tokoh di berbagai pelosok Jawa yang menuturkan berbagai cerita, legenda, adat istiadat, dan bermacam ilmu lahir dan batin.

  1. Midah Si Manis Bergigi Emas (Pramoedya Ananta Toer)Midah Si Manis Bergigi Emas

Dalam cerita-cerita yang ditulis oleh Pram, perempuan kerap tampil sebagai sosok yang tegar, tahan banting, dan melawan. Nyai Ontosoroh, misalnya. Dalam sosok Midah, karakter itu kembali muncul. Midah melawan sikap kolot orangtuanya. Ia tak betah tinggal di rumah. Dalam perjalanannya, ia kemudian bergabung dengan grup musik keroncong, sesuatu yang dianggap haram oleh bapaknya. Pergaulan jalanan menyeretnya pada kehidupan yang makin jauh dari harapan orangtuanya. Kisah Midah adalah suara tentang perlawanan terhadap kaum kolot. [irf]

Advertisements