Patron Anonim dan Bid;ah PenerbitanOleh : Adhe Ma’ruf*

Tepat di Hari Pahlawan, 10 November 2009, saya merayakan kematian doktrin Marxian yang saya lakukan sendirian. Saya mengubur ulang jasad Guy Debord di terik matahari siang hari. Saya merekonstruksi upacara penumbangan patung Vladimir Ilych Lenin. Seremoni tanpa basa-basi ini bukan terjadi di Moskow, Pyongyang, atau Havana, tapi di Ambarrukmo Plaza.

Saya menyetir mobil dalam semangat yang melebihi rapat-rapat Partai Komunis Cina pasca-Mao. Pikiran dan indera saya menggemuruh dalam teriak paling gagah: saya mau bersenang-senang, sebahagia Archimides mandi pagi dan menemukan teori; seriang pion-pion di kabinet baru yang pemilihannya didasarkan pada kompensasi.

Sekuriti memeriksa mobil, pura-pura bekerja sesuai perintah atasan walau mereka tahu teror bom sedang berhenti. Lalu saya parkir di lantai bawah tanah, merasakan pengap ditindih tonase kapital yang justru akan segera saya rasakan kamuflasenya dalam wujud deretan Oakley, Breadtalk, Rotiboy, dan Carrefour.

Saya sejak awal bernawaitu untuk tidak menjadikan kategori dan definisi “senang-senang” dalam konteks ideologikal. Saya hanya ingin meringankan pikiran, bukan menjadikan kehendak personal saya hari ini sebagai kontras terhadap pemahaman bahwa keberangkatan saya merupakan pengingkaran atas kenyataan ihwal buang-buang uang.

Lalu saya membeli DVD, kali ini bukan bajakan, “Helter Skelter”, dan membayangkan bahwa nanti malam Charles Manson akan memberi pelajaran tentang etika pembunuhan dalam konteks Amerika pasca-perang. Dengan harga Rp 45.000, DVD ini lebih mudah saya kunyah daripada saya membongkar kembali ingatan atas premis-premis Johan Galtung tentang wacana kekerasan.

Saya mampir ke “foodcourt”, memesan “Chicken Katsu” yang tradisinya tak pernah saya miliki karena saya lebih akrab dengan ayam goreng Nyonya Suharti. Sambil makan, saya mengobrol dengan seorang pemuda yang duduk di depan saya. Dia tipikal manusia dalam deskripsi Douglas Coupland: individualis, “nerd”, dan tak pedulian. Dia sibuk dengan Macbook, dan kupingnya tak lepas dari iPod.

Saya menepuknya dan bertanya, “Nunggu makan juga, Mas?”

Dia menjawab malas, “Veteran, Mas.”

Saya tersenyum miris. Bukan tuli yang menjadi persoalan hidup pemuda ini, tapi ketidakpedulian pada konteks pertanyaan saya yang membuatnya tidak menjawab tanya melainkan menyebut nama kampus tempat dia menempuh kuliah.

Setelah satu jam menyembah berhala kebudayaan advans ala Indonesia dalam miniaturnya yang paling mudah diakses, yaitu mall, saya lantas pulang kandang. Di perempatan Condongcatur, saya membeli empat bungkus kerupuk ikan tengiri khas Palembang, walau Sriwijaya FC adalah klub sepak bola yang saya benci sepenuh hati.

Setiba di rumah, saya menunaikan ibadah: mengambil baju yang dijemur di pekarangan belakang. Hujan sepertinya sudah mengancam, dan saya memilih tak pergi lagi hingga besok pagi. Yeah, alhamdulillah saya berhasil bersenang-senang, tanpa perlu “anti”, “non”, “class struggling”, atau apa pun.

Pola “self-entertaining” yang saya lakukan itu adalah ritus urban yang lazim dilakukan banyak orang sekarang. Tapi saya yakin para pemberontak Mei 1998 tak akan menghujat polah saya yang jalan-jalan di waktu orang lain sedang sibuk menghujat Susno Duadji.

Saya percaya bahwa mendiang para aktivis Situationist di Amsterdam dan Paris tak akan menyalahkan perilaku quasi-hedonis itu. Bukan hanya karena mereka tak mengenal saya, tapi juga karena saya bisa berapologi: saya pulang dari mall tanpa menenteng produk-produk kapitalis global. Ah, lagipula saya punya segudang alasan.

Berapa uang yang Anda kantungi hari ini?

Jika setelah Anda memenuhi segala kewajiban konsumsi, dan uang tersebut masih tersisa sekadar untuk membeli botol kecap dan serbet meja makan, maka Anda layak membikin bom molotov.

Jika Anda merasa molotov adalah pilihan goblok, sumbangkanlah sisa uang Anda untuk membayar lagu dangdut nan sumbang yang dinyanyikan banci sinting di pinggir jalan.

Jika Anda menilai kaum waria sebagai “scum”, berikanlah sisa harta Anda itu pada saya. Dan saya segera beranjak ke toko besi, membeli kunci Inggris untuk saya hantamkan ke kepala Anda. Maksud saya, Anda dan saya ternyata sama saja: terlampau mudah menilai orang lain.

Lalu saya merebahkan badan, mengingat sejumlah teman yang sekian lama tak bertemu pandang. Saya sudah memenggal kenangan atas puluhan kawan di kampung halaman sejak belasan tahun lalu ketika saya mulai menjalani pola hidup “squatting” di kota ini: lima kali pindah rumah kos, empat kali pindah kontrakan. Satu teman akrab saya semasa SMA menjadi bedebah kriminal dan dibui di LP Paledang. Dua orang bekerja sebagai marsose di Manado. Sisanya pernah kuliah lalu kini bekerja, dan atau tidak bekerja.

Lalu Tony, injeksi awal di usia kuliah saya yang meracuni saya tentang buku ketika saya masih lebih menghamba ketengan rokok daripada mengagumi Sartono Kartodirdjo. Dia kini menjadi guru, dan terakhir saya menemuinya ketika menengok kelahiran anak pertamanya lima tahun lalu.

Hingga tiba masa sepuluh tahun yang lalu, saat saya dikerubuti obsesi untuk mempraktikkan orasi Soekarno perihal berdikari. Di titik itu pula saya bertemu dengan para martir setengah baya dengan jenis pekerjaan yang menurut saya luar biasa. Bagi saya, mereka adalah pionir yang membuat saya percaya bahwa dunia buku memiliki keasyikan yang jauh melampaui pijat shiatsu.

Kini, orang-orang dari generasi awal itu masih mengerjakan buku. Yang berubah hanya jumlahnya. Taruhlah dulu populasinya sepuluh orang, maka separuh di antaranya sekarang adalah veteran. Jumlah itu sebenarnya tak mengkhawatirkan, toh masih ada barisan kombatan yang pernah terjun di medan aktivisme politik era lalim Orde Soeharto. Jumlah para petarung bisnis buku lantas kian bertambah, walau gerbong mutakhir ini terbagi menjadi tiga irisan: wirausahawan cerdik, pembelajar, dan penumpang gelap.

Kadang-kadang saya bertemu dengan beberapa pionir dari generasi awal tersebut. Mereka masih mengombinasikan aktivisme intelektual dan realisme bisnis. Mereka bergerak dalam lamat, menegakkan etos survivalitas dan semangat enduransi dalam kadar yang bisa bikin Aburizal Bakrie mengangkat ibu jari. Sambil menghirup sisha, mereka kerap mengajak saya bicara tentang stagnasi ilmu sosial pasca-Frankfurt, dengan sampiran berupa obrolan tentang munculnya gejala monopoli dalam bisnis perbukuan.

Pabrik-pabrik buku lokal tidak lahir dari rahim Muflidah Kalla. Bos-bos penerbitan setempat bukan berasal dari pusat kota. Kebanyakan dari mereka berlatar belakang seperti “rude boys” ala Jamaika: miskin, keras, obsesif. Kalau beberapa pemilik penerbitan di Jogja lantas bisa berlibur ke Hongkong, atau menonton pameran buku antar-bangsa di Singapura, maka itu tak berarti mereka sudah memangkas kelir lawas realitas: mereka tetap saja kampungan, rada norak, gagap, tapi pintar.

Saya percaya, tak ada peningkatan kasta dalam jagat penerbitan di kota ini. Kalau Anda menduga bahwa kini mereka berjaya dibanding masa-masa mereka dulu yang selalu naik sepeda unta, maka dugaan Anda sepenuhnya keliru. Saya tahu mereka hanya bisa menikmati kesenangan kecil dan seperlunya, semacam hura-hura ke pusat perbelanjaan hanya untuk menemani istri belanja tomat dan mentega.

Saya yakin bahkan di setiap langkah mereka kemana pun, isi otak mereka tak beranjak dari buku, termasuk perihal omset, target, utang, piutang, gunjingan para karyawan, dan manajemen perusahaan. Saya percaya bahwa mereka risau dengan hilangnya teman sejalan akibat persekongkolan, munculnya kepalan tangan dan teriakan, juga persaingan yang sering kali berubah menjadi pertempuran.

Sampai di sini, saya lebih apresiatif pada mereka dibanding pada anak-anak muda usia nyaris 30-an yang antri mengikuti tes ambtenaar skala nasional. Saya lebih salut pada orang-orang yang menanduk nasib hidup di panggung buku daripada sekelompok manusia yang berharap dipilih oleh negara sebagai abdi dan pegawai.

Tapi bisnis buku bukanlah Rotary Club. Tak ada syarat mutlak untuk mengetuk pintu kewirausahaan penerbitan. Itulah sebabnya gerbong berikutnya dari para pelakon buku adalah wirausahawan cerdik, pembelajar, dan penumpang gelap. Untuk urusan ini, saya tak membunuh Marx. Dalam konteks ini, saya percaya bahwa industri buku berumpak-umpak. Dan saya dengan terbuka mengatakan bahwa saya sedang menilai orang. Persetan kalau saya dibilang Neo-Nazi, toh nyatanya memang ada stratifikasi dalam soal kepintaran menggarap dan mengelola penerbitan buku.

Sejak Ken Kesey mengecat bus dengan warna-warna psikedelik, lalu mengajak anak-anak muda yang disebut Merry Pranksters menyambangi Woodstock 1969, maka genderang perang antar-kelas pun ditabuh. Siapa bilang kontrakultur adalah gerakan resistensi kaum muda di seluruh penjuru dunia dalam nafas yang seragam? Faktanya, Generasi Bunga adalah bid’ah kelas menengah, yang menjadikan ganja dan rock n’ roll sebagai senjata, lalu terjatuh menjadi sekadar alat madat dan belantik laknat.

Kalau hari ini Anda sedang menempuh studi sarjana dan siap turun ke jalan setiap saat, lalu mengidentifikasi diri sebagai bagian dari pawai panjang perlawanan terhadap penindasan, maka Anda harus awas pada satu hal: siapa yang menyuruh Anda sehingga Anda merasa wajib melakukannya?

Sedari Gutenberg mencetak Alkitab, hingga mesin cetak milik Cahaya Timur mampu mengalahkan tenggat order penerbitan buku, maka khotbah panjang ihwal mandeknya gerakan literasi pun tak lagi menarik hati. Siapa bilang masyarakat kita kekurangan bacaan? Nyatanya, ibu-ibu muda pun memaksa para guru TK agar mengajarkan kemampuan menulis dan membaca kepada anak-anak usia sangat belia.

Kalau Anda hendak mendirikan perusahaan penerbitan buku, maka Anda tak harus sepintar Budiarto Shambazy. Alih-alih sibuk memamah teori dan berkontemplasi, Anda justru hanya akan menjadi sosok yang tak bisa turun ke Bumi. Anda tak perlu sok tahu makanan ruhani yang pantas disantap oleh masyarakat. Anda hanya perlu siasat tentang bagaimana menaklukkan kemalasan rakyat dalam mengatur jumlah uang untuk belanja daging ayam dan membeli barang bacaan. Kalau Anda pikir daging ayam itu adalah penyebab dekadensi gerakan literasi, maka lebih baik Anda gantung diri. Yakinlah bahwa cara pandang Anda itu sepenuhnya salah proporsi.

Tapi itu menurut saya. Saya tak mendengar cara analisis yang serupa dari para penumpang gelap. Saya justru lebih melihat mereka sebagai orang-orang yang tak peduli pada apa pun selain diri mereka sendiri. Mereka lebih mirip para produser film mistik yang selalu yakin bahwa penonton akan menjerit terbirit menyaksikan hantu yang diusahakan seram walau ternyata lebih mirip personel band Kuburan. Para penumpang gelap di kumparan bisnis buku itu berperan seperti gadis-gadis pemandu sorak di serial pertandingan Indonesian Basketball League: tampil sok keren padahal butut, bertingkah sok paten padahal kentut.

Saya pikir siapa pun tak ingin mengalami blunder seperti Aidit yang ceroboh memegang palu arit. Fakta adalah nyata, termasuk bahwa para pemilik rumah-rumah penerbitan kecil yang berusaha menjadi bos hari ini justru tak berupaya menangguk ilmu tentang bos yang pintar. Nyata adalah harga, termasuk bahwa kemalasan membangun sindikasi “duit-dan-ilmu”, juga “bertahan-secara-cerdas”, hanya akan menjadikan mereka kecebong dan bukan cerobong.

Entah kenapa selalu saja hadir para pelaku baru di jejaring bisnis buku. Setidaknya dalam ranah lokal yang saya tahu. Mereka adalah sejumlah pembelajar yang merujuk pada pahlawan-pahlawan anonim, berharap menggenggam berlian, walau mereka sadar bahwa masa depan di jagat buku tak semanis janji para penjaja polis-polis asuransi. Saya senang melihat mereka berada di tengah sengkarut pelik perniagaan barang bacaan. Setidaknya karena mereka mampu menunjukkan pada negara bahwa mereka tak butuh Raskin, BLT, dan Askeskin.

Penerbitan skala lokal sekarang berjalan tanpa patron. Sauh sudah dikayuh, jangkar telah dibongkar. Kapal-kapal pengangkut barang bacaan berlayar di samudera hitam menuju salah satu kalimat dari paragraf keempat preambule Konstitusi 1945. Destinasi diimajinasikan eksistensinya, seolah-olah ada, seakan-akan nyata dan bisa dijangkau secepatnya. Tapi tak semua kapal memiliki nahkoda yang bisa membaca kompas dan paham ilmu navigasi. Alih-alih menuju surga, justru Titanic akan menemukan banyak teman dari Jogja.

Kini pertemuan-pertemuan kerap berlangsung sesuai penanggalan dan jadwal penagihan hasil penjualan. Di luar itu, yang berlangsung adalah intip-mengintip dapur sesama kawan. Tak ada yang aneh dengan pola ini, namun kita kehilangan tambang pengait kesepadanan. Kita tak lagi menyempatkan waktu untuk kursus rehabilitasi pemikiran. Kita terlampau sibuk menekan tombol kalkulator hingga lalai bahwa kita harus selalu mengisi baterai kepintaran yang sumbunya terletak di kepala bagian belakang.

Anda bisa kaya tapi bodoh, dan yang bodoh ternyata bisa kaya. Ini kombinasi “puzzle” paling absurd dalam tatanan industri buku lokal kita sekarang. Kalau Anda berusaha membela diri seperti eksepsi sang mafioso Sam Giancana di hadapan Jaksa Agung Robert Kennedy, maka saya bertepuk tangan untuk omong kosong yang Anda sampaikan. Nyatanya Anda memang penunggang kuda lumping yang pura-pura dirasuki siluman walau sebenarnya Anda hanya ingin mendapat lembaran uang. Bagi saya, Anda tak perlu repot berdusta, berteriaklah bahwa Anda mencari nafkah di bisnis ini, tapi lantanglah pula bersuara bahwa Anda siap berdebat soal pengetahuan di luar perihal dagang.

Untuk urusan buku, setidaknya dalam lingkup geografi domestik, saya adalah penganut taat teori kelas. Tapi saya selalu ingin murtad, memberangus keyakinan kuno tersebut dan menyaksikan semua wirausahawan buku bisa meningkatkan kemampuan perniagaan, mengadopsi pengetahuan tanpa membebek televisi, serta mampu menjadi bos penerbitan yang makan rejeki halal dengan isi otak yang lebih pintar dari rata-rata kecerdasan seorang kopral.

Mari berhenti bergaul jika pergaulan ternyata hanya berisi rumor tanpa pangkal. Kita harus menghentikan silaturahmi kecuali untuk hal-hal yang bisa membuat kita semakin mawas diri. Jangan pernah lagi minum alkohol atau mengakrabi kopi beramai-ramai selepas penat berjualan buku kalau ternyata kongko-kongko itu membuat kita sekadar tepar atau terserang hipertensi. Kita semua, saya pikir, akan lebih mempesona jika terus belajar dan meningkatkan kemampuan diri.

Kita bisa segera berwisata ke Karibia, dikipasi perempuan-perempuan tanpa busana, sambil menghisap cerutu Kuba sebagai hasil kerja keras berniaga buku. Kita dapat secepatnya menunaikan ibadah haji, membayar berapa pun Departemen Agama memungut biayanya, dan pulang dengan memborong selaksa kurma. Kita mampu menggaji berapa saja yang diminta staf dan karyawan, lalu memberi mereka bonus paket makan siang selama enam bulan di Banyu Mili yang ikan bakarnya minta ampun enaknya. Kalau Anda pikir ini utopia, menurut saya, tidak, kecuali Anda memang sama pelitnya dengan Uda Faisal di sinetron Trans TV.

Saya tak peduli pada slogan, bahasa pamflet, definisi, istilah, ataupun kategori. Saya tak mempercayai dongeng segala konon dan kisah-kisah kanon. Kalaupun saya mengadopsinya, justru karena saya ingin menunjukkan invaliditas di dalamnya. Tak ada penerbit buku skala lokal yang sangat kaya sebagaimana tak ada pabrik buku yang saking miskinnya hingga tak bisa membedakan mana uang dan mana dedaunan. Juga, tak ada pekerja buku yang makmur sebagaimana tak ada pekerja buku undur-undur.

Ancaman terkini terhadap bisnis buku bukanlah besaran rabat yang kian tinggi, perang tema antar-sesama, sikut-sikut yang menyilang di depan rak-rak pajangan, ataupun kebijakan toko buku yang tak sama permanennya dengan Piramida Giza. Problem pokok kita justru ada pada diri kita sendiri, yang selalu merasa sudah sehebat para pejuang Hamas di Tepi Barat padahal kita sekadar lalat-lalat belangsak. Masalah utama kita adalah arogansi ala Benny Dollo padahal kita tak punya apa pun sebagaimana korban-korban lumpur Lapindo.

Bagi saya, tak ada yang luar biasa dari lingkungan kita saat ini. Yang ada hanyalah kemalasan, sikap bebal, pola pikir yang dekaden, dan kebiasaan yang tidak kreatif. Kalau seorang pimpinan sebuah rumah penerbitan yang sedang berkembang saja selalu kelihatan sigap berpikir dan bekerja, dan kita justru sibuk bergunjing tentang dia, maka titik nyaman pekerjaan di jagat buku hanya akan menjadi milik orang-orang yang fokus untuk belajar maju.

Saya pikir tak seorang pun yang merasa harus bertanggung jawab atas mampatnya transfer pengetahuan di antara para pembelajar dan penumpang gelap. Penerbitan bukanlah klub arisan ala sosialita ibukota yang harus menyortir para anggota. Bahkan eks juru tagih kartu kredit pun bisa menyulap diri menjadi bagian dari gerbong pepak “bisnis literasi”. Tapi kantor penerbitan bukanlah agensi model yang lebih mementingkan rupa dan penampilan daripada isi kepala dan pemikiran. Jadi, jika Anda ingin tahu ramalan kiamat yang paling tepat, jangan dengarkan ocehan paranormal, cukuplah dengan menyaksikan polah para pemilik penerbitan yang lebih suka mengeja paha mulus Olla Ramlan daripada mempelajari langkah-langkah Bagir Manan.

Kita tak pernah benar-benar tahu masa depan. Kita hanya bisa membaca gejala dan mengukurnya sebagai kira-kira. Tapi, menurut saya, hidup tak bisa sepenuhnya diletakkan pada kemungkinan nasib dan besaran pahala. Karenanya, saya rasa sebaiknya kita menancapkan patok-patok resolusi dan secara konsisten menjalankannya: bahwa kita bisa pintar tanpa harus menjadi ular.

Saya tak bemaksud mengajak siapa-siapa, karena saya juga tengah belajar hal yang sama. Tapi saya ingin berkata bahwa dalam perkara ini, saya tak ingin sendirian. Bukan apa-apa, saya cuma merasa berdosa jika terus-menerus menjadi penganut stratifikasi kelas yang akut. Juga, karena saya ingin kita semua bisa berwisata ke Karibia. [ ]

* Adhe Ma’ruf adalah penulis buku Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja 1999-2004

Advertisements