Kandjutkundang; Sebuah Antologi

kanjutkundang-frOleh : Asep Suryana

Judul Buku : Kandjutkundang; Prosa jeung Puisi Sabada Perang

Penulis : Ajip Rosidi dan Rusman Sutiasumarga

Penerbit : Dinas Penerbitan Balai Pustaka

Tahun : 1963

Halaman : 483

Ajip Rosidi sangat jeli melihat perkembangan sastra Sunda, terutama dalam bidang prosa dan puisi yang berkembang setelah perang atau setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda tahun 1949. Pada saat itu ada dua pendapat, pertama bahwa sastra Sunda dalam masa senja, pendapat kedua adalah sastra Sunda yang baru seperti fajar menyingsing. Sejak era penjajahan Jepang sastra Sunda yang tadinya sudah mekar kemudian mengalami kemunduran. Hampir segalanya dikendalikan penjajah. Setelah merdeka Indonesia masuk ke era revolusi fisik. Akibat perang sulit mencari penerbit dan percetakan yang dapat menghasilkan sebuah buku.

Pada waktu revolusi kata “Persatuan Indonesia” adalah kata-kata sakti yang jika digunakan orang yang kurang wawasan dapat mematikan kedaerahan. Banyak pengarang yang takut menulis dalam bahasa daerah termasuk dalam bahasa Sunda. Bisa-bisa dituduh kaki tangan Van Mook, sukuistis, atau penghambat persatuan. Mereka lupa arti sebenarnya dari ucapan Mpu Tantular: “Bhinneka Tunggal Ika” yang dijadikan semboyan dalam lambang kebangsaan Burung Garuda.

Meskipun tidak seperti masa sebelum perang ketika banyak dibuat buku-buku berbahasa Sunda terutama dalam bentuk roman, para pengarang dari kalangan muda Sunda banyak menulis di berbagai majalah dan surat kabar. Karena kekosongan buku-buku sastra Sunda, tetapi bukan berarti tidak ada sama sekali Ajip Rosidi dan Rusman Sutiasumarga menyusun sebuah antologi prosa dan puisi setelah perang, sekira tahun 1949-1959.

Mereka mengumpulkan karya-karya berupa cerita pendek, panineungan (kenangan), prosa lirik, cuplikan drama, dan sajak yang mempunyai nilai sastra dari berbagai majalah dan koran yang terbit pada kurun waktu tersebut. Media-media yang jadi sumber a.l.:Kiwari, Warga, Sunda, Panghegar, Sipatahoenan, Tjandra, Mangle, Siliwangi, Panglajang, dan Kalawarta Lembaga Basa djeung Sastra Sunda (hal. 11).

Hasil karya sastra disusun berdasarkan pengarang dari yang lebih tua hingga yang lebih muda. Bahkan diupayakan riwayat hidup singkat dari pengarang. Dengan demikian kita bisa lebih memahami kehidupan pengarang dan karyanya. Alhasil isi buku dimulai dengan karya Tjaraka yang bernama asli Wiranta kelahiran Conggeang-Sumedang tahun 1902, dan diakhiri karya Ajatrohaedi yang dilahirkan di Jatiwangi tahun 1939. Dari segi kota kelahiran pengarang cukup mewakili berbagai tempat di Provinsi Jawa Barat dan Banten sekarang. Bagi saya dengan membaca karya panineungan, cerpen, dan beberapa sajak dapat meraba kondisi sosio-kultural masa itu dan sebelumnya.

Beruntunglah ada Ajip Rosidi dan Rusman Sutiasumarga yang mengumpulkan karya-karya sastra Sunda setelah perang dalam sebuah buku, sehingga menjadikannya lebih bertahan lama dan bisa disampaikan ke generasi berikutnya. Bayangkan jika hanya diupayakan sebagai “klipping” dari surat kabar yang umurnya sehari atau seminggu dan majalah yang umurnya hanya bulanan. Bahkan dalam bentuk buku pun mungkin hanya tersimpan di beberapa kolektor yang mencintai sastra Sunda dan perpustakaan. Buku ini pun dihiasi dengan gambar hasil coretan Jus Rusamsi. Buku yang sudah berumur 45 tahun dan lembaran kertasnya dari jenis stensil harus diperlakukan hati-hati karena mudah robek.

Adapun judul buku diberi nama “Kandjutkundang” adalah seperti kebiasaan para leluhur jika ada bayi yang baru lahir dibekali semacam rajut dengan diisi berbagai kiasan agar dijauhkan dari marabahaya, dan menempuh hidup dengan penuh kerahayuan. Bukankah sastra Sunda pada masa itu seperti seorang bayi yang baru lahir yang jelas berbeda dengan sastra Sunda sebelum perang.

Doa

–Haturan Pa Oto Iskandar Dinata

jungjunan

pangnangkeupkeun éta nyawa

nu indit taya nu nanya

taya tapakna di dunya

angin

pangngusikkeun sapangeusi buana

yén aya sinatria nu perlaya

di wewengkon langit Sunda

bulan

baturan éta nyawa nu ditundung

di tempat baktina taya nu daék ngajungjung

hé panonpoé

geura awurkeun panas anu ngaduruk sagala

sangkan ieu dada

sakumna nyawa Sunda

nyaho boga pahlawan digjaya

–Tutugan Gunung Agung, 21 Juni 1958

Karya Apip Mustopa

Dari Kalawarta L.B.S.S no. 11

Agustus/September 1958.

(Kandjutkundang hal. 454) [ ]

  • Asep Suryana adalah penyuka olehraga jalan kaki, peminat sejarah, dan bergiat di Komunitas Aleut

 

Postscript :

Buku ini kemudian diterbitkan ulang oleh Kiblat Buku Utama

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s