Book Acquisition Syndrome

book-acquisition-syndromeOleh : Arif Abdurahman*

Seorang kawan berkisah kalau semangat membacanya timbul ketika menginjak masa putih-abu. Gara-gara paksaan, berkat sebuah keharusan dari sekolahnya di SMAN 26 Bandung, yang mewajibkan untuk membaca buku di pagi hari selama 30 menit. Berawal dari paksaan, kemudian jadi candu, kawan tadi tersihir oleh ‘Atheis’-nya Achdiat Kartamihardja. Membaca pun menjadi hobinya.

Kebijakan ini bisa ada berkat sang kepala sekolah yang sudah menimba ilmu ke Amerika Serikat. Memang, membaca menjadi budaya yang melekat di negara-negara maju. Dan nampaknya usaha beliau untuk membudayakannya juga di sini terbukti berhasil, minimal kawan saya tadi terpengaruh.

Saya jadi teringat ketika menonton anime dan dorama Jepang yang berlatar sekolah, sering ada sesi pembacaan sebuah buku tebal, novel sastra, nah di saat inilah sang tokoh utama biasanya sedang ketahuan melamun. Budaya baca orang Jepang telah dimulai sejak Restorasi Meiji. Dengan gigih mereka menerjemahkan buku-buku asing dari Amerika dan Eropa pada waktu itu. Alhasil, budaya literasi mengakar kuat sampai sekarang. Pantas jika Jepang menjadi negara di Asia yang mempunyai kedudukan sejajar dalam iptek dan perekonomian dengan raksasa dunia semacam Amerika.

Nahas, dalam lingkup ASEAN pun ternyata Indonesia masuk dalam golongan terendah dalam hal minat baca. Dan sebagai orang Indonesia, budaya membaca baru tumbuh saat saya menginjak bangku kuliah. Sungguh telat. Sayang budaya membaca kurang dalam keluarga saya, tapi tak masalah. Yang pasti saya harus mengejar ketertinggalanku. Dan ternyata susah, apalagi di era serba instan seperti hari ini. Banyak distraksi, banyak godaan. Godaan untuk melakukan beragam hal tak berguna. Jenis buku-buku yang saya baca pun kebanyakan cuma roman picisan, tapi tetap saja itu bacaan. Harus dihargai juga. Semakin ke sini, saya mencoba untuk keluar dari zona nyaman, mencoba untuk membaca beragam genre.

Dalam membaca, buku yang menjadi preferensi saya adalah yang berbentuk fisik, cetakan, yang berupa lembaran kertas. Dilematis memang, menganggap diri sebagai seorang enviromentalis, yang sayang lingkungan, tapi tetap mendukung terhadap penggunaan kertas yang notabene hasil dari tebangan sebuah pohon. Ah, tapi kalau pemanfaatan tepat kan tak masalah. Intinya, saya lebih suka buku fisik ketimbang e-book.

Akhir-akhir ini pos-pos pengeluaran saya jadi terganggu karena sudah kalap, habis semua duitnya buat membeli buku. Buku di kamar makin menumpuk menggunung. Entah kenapa saya lebih suka membeli ketimbang meminjam. Menjadi kebanggaan karena pajangan buku-buku di rak jadi makin banyak dan variatif. Merasa sebagai orang intelek, dan ingin dianggap orang sebagai cendikia. Apakah ini masuk sebagai bentuk kesombongan diri? Ya Allah, saya hanya ingin jadi seorang pembaca, ingin dimasukan jadi golongan orang yang berpikir, bukannya sebagai para penumpuk harta yang tak bisa memberi kebermanfaatan bagi sekitar. [ ]

  • Arif Abdurahman adalah salah seorang pegiat Komunitas Aleut. Diehard fan Kinal JKT48. Ia kerap memposisikan dirinya sebagai “pekerja teks komersial”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s