Jugun IanfuOleh : Hani Septia Rahmi*

Enang Rokajat Asura adalah penulis novel bergenre sejarah yang saya kenal melalui karya Dwilogi-nya; “Prabu Siliwangi” dan “Wangsit Siliwangi” terbitan Edelwiss 2009. Perkenalan saya dengan berlanjut ketika saya berkunjung ke Rumah Buku, di salah satu sudut ruang, karya terbaru beliau menghiasi rak-rak display toko buku tersebut. Ada dua karya beliau terpajang, yaitu “Kupilih Jalan Gerilya”, sebuah novel biografi Panglima Jendral Soedirman dan “Jugun Ianfu, Jangan Panggil Aku Miyako.”

Saya memilih novelnya yang berjudul “Jugun Ianfu, Jangan Panggil Aku Miyako”. Sepengetahuan saya tak banyak bacaan ataupun novel yang mengangkat kisah kehidupan bangsa Indonesia pada Zaman Pendudukan Jepang atau Perang Asia Timur Raya terutama tentang “comfort women” atau Jugun Ianfu. Beberapa bacaan yang penah saya baca mengenai Jugun Ianfu adalah karya seperti “Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer” (Pramoedya Ananta Toer); “Momoye, Mereka Memanggilku” (Eka Hindra); dan “Cantik itu Luka” (Eka Kurniawan).

Novel ini memberikan gambaran tentang bentuk kekejaman Kekaisaran Jepang terhadap perempuan Indonesia. Novel “Jugun Ianfu, Jangan Panggil Aku Miyako” merupakan kisah kehidupan seorang remaja putri pada periode 1942-1945. Lasmirah, begitu remaja putri berasal dari Suryotarunan, belum pernah mengalami menstruasi, dan tak pernah membayangkan takdirnya akan menjadi “Ransum Nippon”. Impiannya untuk menjadi seorang penyanyi terkenal di Borneo pupus sudah. Zus Mer, seorang kenalannya di Suryotarunan yang menjanjikan padanya menjadi penyanyi terkenal di Borneo, ternyata malah mengantarkan Lasmirah hidup menjadi seorang Jugun Ianfu di Ianjo Telawang, selama kurun waktu Perang Timur Raya.  “Lasmirah”, nama yang memiliki arti berkilauan, kini kehilangan kilauannya, berganti dengan Miyako.

Ianjo Telawang, sebuah rumah bordil militer di daerah Kalimantan Selatan, menjadi tempat yang menyimpan kenangan pahit para penghuninya, tak terkecuali Miyako. Namun meskipun menggoreskan kenangan pahit bagi Miyako yang menghantuinya seumur hidup sebagai seorang Jugun Ianfu,  di dalam Ianjo Telawang inilah Miyako menemukan dua orang pria yang mencintainya dengan cara berbeda. Cinta pertama diperoleh dari seorang perwira menengah atas angkatan darat Jepang, tamu dari Ianjo Telawang bernama Yamada. Sosok Yamada memberikan kenyamanan dan harapan keluar dari Ianjo. Yamada memberikan janji untuk  memiliki keluarga dan hidup di Jepang ataupun Jawa. Namun, sosok ini pula yang menyebabkan Miyako beberapa kali bermasalah selama di Telawang.

Cinta kedua berasal dari seorang tentara PETA yang tinggal bersama keluarga pemusik Sahilatua di sebelah barat Ianjo Telawang, bernama Pram atau Pramudia. Sebelum perkenalan “resmi” yang disponsori Ayumi atau Rosa, salah seorang penghuni Ianjo Telawang dan pemusik Sahilatua, secara kebetulan Miyako pernah melihat Pram sebelum keberangkatannya ke Borneo di Stasiun Pasar Turi. Pada pemuda inilah, hati Miyako tertambat. Tak hanya menjanjikan mengeluarkan Miyako dari Telawang, pada akhir kisah dia pula yang mengusahakan agar hal itu terwujud. Tak hanya janji semata!

Secara garis besar, novel “Jugun Ianfu, Jangan Panggil Aku Miyako” mengadaptasi kisah hidup Mardiyem, seorang Jugun Ianfu di Asrama Telawang yang pernah ditulis oleh Eka Hindra dan Koichi Kimura dengan judul “Momoye, Mereka Memanggilku”. Alur cerita yang maju mundur menyebabkan novel ini bukanlah bacaan yang dapat dibaca “sekali duduk”. Dibutuhkan konsentrasi dan keseriusan dalam membaca dan memahaminya. Untuk menggambarkan situasi kehidupan Miyako dan Ianjo Telawang, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga di luar cerita.

Sebagai novel sejarah, “Jugun Ianfu, Jangan Panggil Aku Miyako”, memiliki batas terkait konteks kejadian, tempat, dan waktu. Hal ini dapat menjadi kelemahan novel, penceritaan pun terasa monoton, terlebih lagi bagi pembaca yang sebelumnya telah membaca  “Momoye, Mereka Memanggilku”. Namun, apabila penulis melakukan eksplorasi yang lebih mendalam dari segi materi, ide penceritaan, dan pemilihan kata, akan membuat novel ini yang lebih menarik lagi.

Terlepas dari kekurangan tersebut, novel ini menjadi salah satu dari sedikit tulisan yang mengangkat tema Jugun Ianfu. Selama ini –sepengetahuan saya, keberadaan Jugun Ianfu selama Zaman Pendudukan Jepang merupakan fakta sejarah yang tidak pernah dibahas dalam pelajaran sejarah di tingkat Sekolah Menengah. Hadirnya novel ini dapat memberikan informasi dasar mengenai Jugun Ianfu. Pengemasan informasi yang dilakukan secara populer, menyebabkan pembaca mudah menangkap keseluruhan isi dari tulisan E. Rojakat Asura ini –di luar konteks alur cerita.

Bagi pembaca yang ingin mengetahui salah satu sisi kelam Perang Asia Timur Raya bagi Indonesia, direkomendasikan untuk membaca buku ini. Selamat membaca! [ ]

  • Hani Septia Rahmi adalah penggemar TTS (Teka-teki Silang), merindu kekasih yang jauh, bergiat di Komunitas Aleut dan Sahabat Boscha
Advertisements