Muhidin M. Dahlan dan Tiga Inspirator Besar Literasi

Muhidin M. DahlanOleh : Irfan TP

Muhidin M. Dahlan atau dikenal juga dengan panggilan Gus Muh, yang lahir dan tumbuh di Donggala – Sulawesi Tengah, pada perjalanan hidupnya kemudian “hijrah” ke Yogyakarta untuk meneruskan sekolah. Di kota tersebut ia lalu berkhidmat kepada dunia baca tulis, dan total dalam menjalaninya. Namun sebetulnya ketertarikan Muhidin pada buku telah dimulai ketika ia masih berada di kampung halamannya. Ketika dihubungi, ia yang pernah tinggal di pesisir pantai barat Donggala itu, menceritakan masa-masa awal persentuhannya dengan buku :

“Saya punya kebun cengkeh, tapi saya tidak kuat memanjatnya. Bahkan memindahkan tangga yang dipakai untuk memetiknya pun saya butuh teman sebaya yang lebih kuat. Saya bisa saja menjadi nelayan, tapi Gus Muh kecil berumur 12 tahun ngos-ngosan mendayung tiap subuh dan senja, untuk mencari ikan-ikan di rumpon. Kerena pertimbangan kekuatan fisik yang lemah itulah saya menemukan buku. Dan ternyata saya kuat membaca lama. Dan Jogja adalah kota terbaik untuk itu. Bukan saja total dalam dunia literasi, tapi juga memilih untuk tinggal sepenuhnya di kota yang mendaku diri kotabuku ini,” tuturnya.

Setelah hijrah ke Yogyakarta, bersama beberapa koleganya, Gus Muh kemudian mendirikan Indonesia Buku (Iboekoe), sebuah yayasan yang berkhidmat di dunia literasi. Dari yayasan ini pula kemudian lahir Radio Buku dan Warung Arsip. Keberadaan pusat literasi ini telah banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dan meskipun mengandalkan semangat sukarelawan, namun eksistensinya teruji sampai hari ini.

Radio Buku mulanya lahir dari obrolan antara Gus Muh dengan Taufik Rahzen. Di tahun 2007 mereka berbicara banyak tentang perlunya keberadaan televisi buku di dunia literasi. Dari obrolan itu Gus Muh kemudian menyiapkan konsep hingga rundown harian dan nama program TVBuku. Namun sayang rencana itu gagal.

Lalu di tahun 2011, karena televisi buku sulit diwujudkan, akhirnya Gus Muh mendirikan Radio Buku. Ia membuka lagi dokumen dan transkrip yang selama ini ia simpan rapi. Dengan pengetahuan yang terbatas tentang dunia radio, ia kemudian mem-breakdown program televisi menjadi radio internet. Untuk mendukung pengelolan awal Radio Buku, ia menggandeng penyiar profesional dari Eltira FM bernama Endah SR untuk jadi tutor, dan dari dia juga akhirnya Gus Muh belajar mencintai ‘sejarah suara’.”

Teks dalam laku membaca dan menulis kerap berseberangan dengan tradisi lisan. Namun Radio Buku sebagai media yang penggerak utamanya adalah lisan dan pendengaran, dalam sudut pandang Gus Muh justru hadir sebagai pelengkap dari ikhtiar untuk membumikan budaya melek aksara.

“Lisan dan aksara adalah dua mata literasi kita yg saling melengkapi. Sedikit memodifikasi Sukarno, yang banyak bicara dan banyak baca. Sukarno nyontohin dua kultur itu. Radio Buku memfasilitasi orang yang jago ngomong, tapi malas baca. Atau jago baca, tapi kurang fasih ngomong juga diberi tempat. Radio Buku kemudian berada di lajur sejarah suara, mengarsipkan suara literasi yang dibutuhkan telinga. Karena radio buku dibangun dari kultur perpustakaan dan pengarsipan, maka dalam perjalanannnya radio ini menjadi semacam laboratorium pengarsipan suara,” terangnya.

Sementara Warung Arsip yang juga ia bertindak sebagai salah satu pendirinya, menghimpun benda-benda literasi yang dalam perjalanan masyarakat Indonesia, mengandung nilai sejarah yang layak untuk disimpan dan dilihat ulang. Arsip-arsip tersebut terentang dari masa kini sampai masa yang jauh ke belakang. Arsip yang berhasil disimpan terekam dalam bentuk buku, koran, majalah, kamera, kaset, dan video. Maka tak heran keberadaan Warung Arsip amat beririsan dengan Radio Buku.

Dalam proses penulisan dan pengarsipan, Gus Muh yang juga telah melahirkan beberapa buku, banyak dipengaruhi oleh para pendokumentasi kawakan yang pernah dimiliki oleh Indonesia, yaitu Pramoedya Ananta Toer, H. B. Jassin, dan Notosutardjo .

“Pram baru saya temukan pada tahun 2000. Jadi sebelum itu literasi dalam hidup saya adalah gapaian tanpa kompas. Karena Pram yang saya temukan dalam sastra Indonesia, maka Pram yang utama. Orang kedua adalah H. B. Jassin. Orang ketiga adalah Notosutardjo. Ketiga orang itu yang membuat saya tergila-gila dengan ‘praktik purba’ peninggalan abad 20: mengkliping koran,” ungkapnya.

Kegilaannya pada dunia kliping kemudian ia dikembangkan menjadi proyek pengklipingan nasional dengan skala besar. Bersama kawan-kawannya, ia mencoba berkhidmat untuk meneruskan tradisi tiga orang pendokumentasi tadi dengan mengkliping 100 Tahun Indonesia. Kerja pengarsipan yang membutuhkan dedikasi tinggi itu berhasil mengumpulkan renik peristiwa—setiap hari dan tentang apapun, yang terbentang dari 1 Januari 1908 hingga 31 Januari 2008.

Dalam proyek gigantik yang bernama “Kronik Seabad Indonesia” itu, Gus Muh memimpin sekira 80-an remaja dan mahasiswa Yogyakarta yang dibawa ke Jakarta, lalu bekerja bergantian selama 7 bulan. Dari proyek inilah, salah satunya kemudian lahir buku “Trilogi Lekra Tak Membakar Buku”, yang kehadirannya kemudian terlarang.

Kiprah Gus Muh tak berhenti sampai di situ, ia bersama koleganya di Iboekoe menggagas sebuah kerja literasi yang eksekusinya adalah menulis sejarah kampung dengan melibatkan peran aktif warga. Ihwal ini Gus Muh menjelaskan “Menulis sejarah kampung ‘dari dalam’ terinspirasi dari kata-kata Romo Mangunwijaya saat dia mau berkeringat membikin sekolah dasar di desa; yaitu untuk mengenal sejarah lebih besar, kenali sejarah di sekitarmu. Dan itu mesti dilakukan secara organik. Melibatkan ‘orang dalam’ secara utuh dalam pengerjaannya. Bahkan Iboekoe tak lebih sebagai fasilitator belaka, walau dari awal jadi mesin generator.” Menurut keterangannya, proyek menulis sejarah kampung ini sudah terselenggara di Kediri, Pacitan, Solo, Jepara, Majalengka, dan Donggala.

Gus Muh dalam semesta riwayatnya di dunia literasi, kiranya tak berlebihan jika disebut sebagai orang yang keras kepala. Dalam berbagai keterbatasan, ia seperti tak pernah letih menyalakan obor literasi dengan kerja-kerja kreatif dan berdedikasi.

Pada gelaran Frankfurt Book Fair 2015 kemarin, Gus Muh menyimpan beberapa harapan yang terkait dengan dunia literasi. “Siapa tahu ada kesadaran balik untuk memperbaiki infrastruktur literasi kita. Barangkali dengan momentum ini, pemerintah bisa menyusun blue print dan ngasih budget besar untuk program penerjemahan 4 arus; nasional ke daerah dan sebaliknya, nasional ke internasional dan sebaliknya. Jika infrastruktur penerjemahan kita baik, kita tak akan segugup ini menjadi tamu kehormatan. Tapi semoga literasi warna/gambar dan bunyi/suara yang sudah mendahului, bisa menutupi kegugupan di literasi teks/buku,” ungkapnya. [ ]

  • Irfan TP : Tukang menyampul buku, peminat sastra & sejarah, bergiat di Komunitas Aleut
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s