buku bekasOleh : Arif Abdurahman*

“Resep buku kiri teu?” (Suka buku kiri ga?)

“Mana, cik atuh hoyong ngasaan” (Mana, sini aku pengen nyoba)

Saat tengah asyik mengekskavasi timbunan buku bekas, Om Simon sang penjual dengan setengah berbisik menawarkan “kekirian” pada saya yang seorang kekinian ini. Trotoar Jalan Cikapundung Barat senja itu disesaki jajaran tumpukan buku dan hilir mudiknya para manusia. Saya sibuk kembali dengan pencarian buku yang pas buat diajak bercinta, dan Om Simon balik kanan menuju gerobak yang berisi koleksi buku tersembunyinya. Lembayung masih setia menggantung di zaman yang serba digital, namun tetap, buku fisik susah buat ditinggal.

Bila Jakarta punya Kwitang untuk mencari buku langka atau buku bekas, maka di Bandung ada Cikapundung. Secara luas area memang jauh berbeda, tapi yang pasti sentra buku dekat alun-alun Kota Bandung ini sudah jadi salah satu primadona bagi penikmat literasi buat belanja, khususnya para kolektor buku.

Kadaluarsa tidak berlaku bagi sebuah buku, isinya selalu baru. Meski memuat pemikiran usang dan kolot, tapi tetap bisa dibaca untuk konteks kekinian, sebagai bahan komparasi, misalnya. Dan jangan merasa jijik sama buku bekas, karena tak seperti pelacur, buku akan tetap suci meski sudah ‘bekas pakai’, namun tetap harganya murahan. Ya, karena faktor harga inilah banyak yang memilih alternatif dengan beli buku bekas. Meski dibilang bekas dan murah, tapi untuk kondisi kita bahkan bisa dapat fisik mulus kayak buku yang masih perawan.

Untuk photobook, satu jenis buku yang bacaannya seuprit tapi harganya selangit ini, saya tentunya memilih yang bekas. Harga buku baru pasti selalu tak merakyat. Majalah National Geographic pun, meski sudah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lalu rilisnya, tetap terasa baru dan masih nikmat digali ilmunya.

Spesies bacaan paling saya suka adalah soal humaniora, sekarang sih lagi doyan sama kebudayaan, utamanya sastra. Ternyata karya sastra yang paling merangsang saya untuk mencapai orgasme, untungnya si buku tak sampai jadi bolong-bolong. Alhamdulillah.

Dengan harga miring kita bisa bersenggama lewat buku-buku bekas ini, ngirit tapi tetap nikmat. Tilas tapi raos (Bekas tapi enak). Eh tapi jangan salah loh, buku bekas juga kadang malah dibanderol dengan harga yang dimahalkan karena kelangkaan dan keantikannya. Saya sendiri tak terlalu mempermasalahkan ini, yang penting bisa baca bukunya, cuma bajakan atau fotokopian juga tak masalah.

Saya adalah orang yang selalu kalap kalau ada yang dagang buku, isi dompet pasti selalu terkuras sampai tipis. Jadi bahaya deh kalau sampai harus silaturahmi ke Cikapundung Barat, Pasar Buku Palasari, Gramedia, Togamas, Kineruku, Ultimus, Lawang Buku, Pameran Buku, apalagi sekarang ada kamerad penjual buku yang hobi nawarin tapi rada sulit buat ditawar. Dan gerak cepat juga dalam menagihnya lewat WhatsApp.

| “Geura transfer. Keur beli buku yeuh urg. Kan 40k (psikologi eksistensi) + 30k (budaya massa, agama, wanita)”

| “40 + 30 = 50. Matematika cinta.”

| “Ora iso 70k”

| “Ajig”

| “Matematika akuntan”

Ah memang sulit berdebat dengan seorang kawan jurusan Akuntansi yang kontrol cashflow-nya ancur ini. Tapi untungnya sih saya tidak perlu buang energi buat berburu buku, karena tinggal tunggu saja buku buruannya. Apakah tetap bernas dan akan berbekas kah buku tersebut? Jika iya, tanpa tedeng aling-aling saya ambil.

Dengan membeli buku bekas, kita secara tak langsung telah ikut melestarikan lingkungan hayati. Pohon yang bertransformasi jadi lembaran kertas ini tentunya jangan kita sia-siakan. [ ]

  • Arif Abdurahman adalah salah seorang pegiat Komunitas Aleut. Diehard fan Kinal JKT48. Ia kerap memposisikan dirinya sebagai “pekerja teks komersial”
Advertisements