Lembaga Kehidupan Telah Hancur Sebuah Lagi

maemunah-foto-hernadi-tanzil

Sekali ini aku ingin bicara kepada kalian tentang lembaga yang menjadi pangkal. Mula kehidupan manusia : keluarga! Payung yang melindungi keturunan manusia daripada hujan dan terik pergaulan hidup. Titik permulaan di mana tiap suami dan isteri mendapat atau tidak mendapat kebahagiaan.

Aku telah banyak mengenal keluarga. Dengan mencari hakikat-hakikat yang ada padanya, orang lebih gampang mengerti apakah lembaga kehidupan ini salah pasang ataukah telah bergeser dari tempatnya yang semestinya. Demikianlah pada suatu ketika telah aku perhatikan suatu keluarga yang sebenarnya banyak terdapat di dalam lingkungan kita, banyak juga terdapat di antara kawan-kawan kita sendiri, dan banyak juga terdapat di antara para tetangga kita.

Aku ingin tahu pendapat kalian tentang cerita yang hendak aku bicarakan, cerita tentang lembaga kehidupan yang aku telah perhatikan. Dan sebenarnya demikian cerita itu :

Machmud adalah seorang pemuda yang amat menghormati ibunya. Ia anggap wanita ini sebagai isteri yang ideal : selalu membantu ayahnya dalam tiap kesulitan, siap menggulung lengan baju membantu suami dalam kesempitan keuangan, mendidik anak-anaknya agar kelak tak terlempar dari masyarakatnya mendatang, seorang ibu tumahtangga yang menempatkan segala benda dan hal pada tempatnya yang benar dan layak, dan melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa mengeluh atau meminta pujian. Ibu ini menjadi ukuran baginya untuk mengukur nilai seorang perempuan.

Pada waktu ia menginjak alam dewasa, justru ia membutuhkan bantuan ibunya, wanita yang dihormatinya itu meninggal dunia. Akibatnya adalah tentu : ibu tetap hidup di dalam hatinya.

Kemudian ia kawin. Dengan seorang gadis yang menarik hatinya. Di Jakarta.

Sebelum meninggalkan kampung halaman, embahnya memberinya nasihat :

Machmud! Aku tak tahu berapa tahun kau akan tinggal di Jakarta. Barangkali engkau pun akan menetap di sana. Kelak engkau akan kawin. Hati-hatilah mencari isteri. Pilihan yang salah akan membuat hidupmu menjadi salah.

Walaupun pada waktu itu Machmud telah memikirkan kawin juga, tetapi pikiran itu masih merupakan cita, belum menjadi sesuatu yang memastikan dan mendesak. Dan waktu itu, ia telah mendapat penghasilan baik dan berkenalan dengan gadisnya, ia ceritakan halnya kepada embahnya.

Machmud, kata embahnya. Dalam suatu perkawinan, cinta itu tidak benar. Mengapa?Karena ada dua macam wanita. Yang pertama adalah wanita yang hanya bisa dicintai tetapi tak mampu menjadi isteri yang baik–wanita yang hanya baik menjadi kekasih. Yang kedua adalah wanita yang baik untuk menjadi isteri tetapi mungkin tidak bisa dicintai. Untuk mencari isteri aku ikut berdo’a agar kau mendapat isteri yang memang baik menjadi isteri. Datanglah pada waktu-waktu yang tak tertentu ke rumahnya, dan perhatikan rumah tinggalnya, perhatikan sedang apa ia waktu kau datang. Kalau selamanya atau sebagian besar pada kedatanganmu yang mendadak itu rumahtinggalnya berantakan dan dia tak lakukan sesuatu untuk membereskannya, betapapun juga engkau cinta kepadanya, tak patut kau teruskan niatmu mengawini dia.

Kolot! Machmud mengejek surat itu sambil mencibirkan bibir.

Sesungguhnyalah. Surat itu tak menyenangkan hatinya, karena sering ia datang pada waktu-waktu tertentu ke rumah gadisnya. Dan ternyata si gadis tak pernah lakukan sesuatu hal untuk membereskan rumahtinggalnya. Ia lihat lantai yang berdaki setebal buku tulis, tiang-tiang pintu yang dekil tak pernah digosok, meja-kursi yang berhamburan seperti kulit pisang. Ia teguk habis teh yang disediakan kepadanya, walaupun ia lihat gelasnya nampak berminyak, dan teh berbuih. Bahkan pada suatu kali di pagi hari ia dapati si gadis masih tidur, walau hari telah jam delapan.

Tetapi ia dapat memaafkan.

Bila cinta tak dapat memaafkan, tak adalah cinta yang berumur panjang!, pikirnya.

Machmud pun kawinlah.

Ia merasa berbahagia dalam hidupnya pernah mempunyai isteri seperti gadisnya. Pagi-pagi benar waktu baru bangun isterinya telah menyediakan kopi. Kemudian sarapan pun menyusul. Ia berangkat kerja dengan perasaan senang. Di rumah pun ia merasa senang tinggal di rumah, karena kedua mertuanya tak pernah ikut campur dengan urusannya. Bahkan kadang-kadang mertua lelaki dapat diajaknya bicara tentang hal-hal yang sedang menjadi pikirannya. Bila ia pulang isterinya telah menyediakan makanan masakannya sendiri. Kadang-kadang ia kagum melihat amarah isterinya karena ia kehilangan nafsu makan. Ia mengerti, si isteri ingin masakannya mendapat perhargaannya penuh.

Beberapa bulan kemudian keadaan telah berubah. Isterinya tak memasak lagi. Yang memasak adalah babu. Isterinya tak mencuci lagi. Yang mencuci adalah babu. Bila ia bangun tidur, mandi, dan siap hendak masuk kerja, isterinya masih tergolek di ranjang. Tak jarang ia harus berangkat sebelum minum dan mendapat sarapan sebagaimana biasa. Tetapi ia mencintai isterinya. Dan cinta itu memaafkan dia.

Kemudian mengandunglah isterinya. Ia manjakan wanita yang ia cintai itu. Ia tak pernah ingatkan wanita itu pada kekurangan-kekurangannya. Di hari-hari libur sering ia lihat isterinya duduk di kursi depan hingga jam sepuluh atau sebelas pagi sebelum mandi pagi. Tetapi ini pun ia dapat memaafkan. Dan waktu anak pertama lahir, ia merasa mendapat anugerah besar dari segala maaf yang telah ia berikan kepada isterinya.

Anak kedua lahir.

Anak ketiga lahir.

Bangkitlah kemudian keinsyafannya, bahwa kemurahan hatinya akan maaf itu menyebabkan isterinya menjadi pemalas. Sejak anak pertama lahir hingga ketiga, belum lagi cukup sepuluh kali isterinya pernah memandikan mereka. Tak cukup duapuluh lima kali isterinya menceboki mereka. Ia lihat di hadapan matanya, anak-anaknya yang tumbuh menjadi liar. Ia bertambah lama bertambah tua, bertambah banyak pengalaman yang diperolehnya, tetapi kemajuan yang layak dan wajar ia tak peroleh : pikirannya mati, dibunuh oleh kekesalan dan kerisauan hati.

Jawaban yang diperoleh dari surat embahnya sederhana saja :

Soal itu soalmu berdua sendiri. Orang lain tak bisa memutuskan atau menentukan. Itu soal pribadi. Segala nasihat akan percuma. Itulah sebabnya dahulu kami harus menerima isteri pilihan orangtua. Mengapa, Machmud? Karena orangtua tahu, calon menantunya adalah wanita yang baik untuk menjadi isteri dan menjadi ibu dan menjadi ibu rumahtangga. Di rumahtangganya sendirilah lelaki itu mendapatkan segala-galanya. Kalau tidak ia mencari di luar. Bukan aku menganjurkan kepadamu, tetapi amatlah hinanya bagi seorang lelaki yang kematian akal di rumahtangganya sendiri, hanya berhenti sampai di perjuangan batin. Machmud! Engkau adalah lelaki, engkau harus tentukan sendiri keadaanmu.

Tetapi Machmud tak mampu membelokkan kedaan isterinya.

Kematian pikir menyebabkan penghasilannya tak pernah memadai bagi keperluan sehari-hari. Dan ia lihat isterinya tak pernah memikirkan betapa sulitnya ia mencari penghasilan. Kadang-kadang di malam hari Machmud duduk termenung di kursi luar. Sekali ia mendapat pikiran yang buruk.

Kita terbagi atas tiga golongan : aku, isteriku, dan anak-anakku. Tiga golongan yang terpisah. Kalau aku mati, soalnya menjadi gampang–terutama bagiku. Kalau isteriku yang mati, soalnya juga menjadi gampang, karena dengan demikian aku bisa bawa anakku ke arah yang ku idam-idamkan bagi mereka. Tetapi kini segala didikan yang kuberikan kepada mereka dihancurkan oleh ibunya sendiri, oleh embahnya sendiri. Dan kalau anak-anakku yang mati, soalnya juga gampang, aku akan ceraikan isteriku.

Pikiran itu diikutinya terus. Akhirnya ia merasa menyesal waktu sadar–soal kematian. Ia mengharapkan kematian di dalam rumah tangganya sendiri.

Tetapi maut tak dapat dipinta oleh mereka yang masih normal. Jadi Machmud tetap hidup, isterinya tetap hidup, dan anak-anaknya tetap hidup.

Dalam masa enam tahun perkawinan itu, Machmud telah berubah menjadi seorang lelaki yang kurus, tua, kehabisan tenaga dan berwajah muram. Pelipisnya dirujaki uban yang berkilau-kilau bila tertimpa cahaya. Ia diam-diam merenungi lantai bila isterinya memanggilnya kakek, dan mengejeknya, bahwa rambutnya tertumpahi rambut bunga jambu.

Sekali waktu ia pulang ke kampung, embahnya memandangnya dengan memendam perasaan pilu. Dan waktu beberapa orang tetangga menengoknya, dan salah seorang dari mereka bilang :

“Orang-orang muda sekarang cepat amat tua!”

Machmud merasa hatinya tersayat-sayat. Ia tahu orang yang bicara itu belum lagi dikaruniai uban selembar pun dalam umurnya yang limapuluh enam tahun itu. Dan Machmud sendiri? : duapuluh tujuh tahun!

Ia sadari : soalnya bukan soal tua. Soalnya adalah lembaga kehidupan–rumah tangga itu! Ia tahu, ia bukan tua, hanya : tubuhnya layu, jiwanya lemas. Bahkan di masa-masa sulit dan tiada jalan keluar ia masih mengharapkan isterinya suka menyapu atau mengepel lantai, atau membereskan buku-buku yang habis dipergunakannya. Ia masih mengharap hanya berpikir untuk maksud yang baik-baik saja : kebahagiaan rumah tangga, pendidikan anak-anak dan pekerjaannya.

Sebaliknya, rasa-rasanya sudah tua sekali tubuhnya dan sudah saatnya ia meninggal dunia. Ia tak sanggup kerja lagi. Nafasnya antara sebentar dirasainya menyesak. Buku-buku kaki dan tangannya lemas, matanya kabur. Ia berhenti dari pekerjaannya. Ia hanya bertiduran di rumah, siang dan malam. Ia minum banyak pel vitamin. Tetapi angan-angannya tetap mengembara tanpa arah.

Pada suatu sore datang seorang tamu. Ia masih bertiduran dan tak ada hasrat untuk menemuinya. Isteri masuk ke dalam kamar dan berteriak :

“Tidur saja! Kerja tak mau! Makan minum tiap hari!”

Hatinya menangis. Ia bangkit : Ia kenakan sarungnya dan keluar.

Kawan, katanya. Lebih baik jangan bicara. Engkau dengar sendiri tadi. Pulanglah. Aku tak sanggup menemui kau.

Dan ia pun menggolekkan dirinya di ranjang kembali.

Tidur lagi! Teriak istrinya waktu masuk ke dalam kamar. Kalau begini terus aku tidak sanggup! Beri aku ijin kerja, kau akan lihat aku bisa hidup tanpa pemberianmu.

Benar-benar Machmud menangis malam itu. Ia merasa malu mendapat tantangan demikian. Ia mengerti, sekarang sudah sampai waktunya ia memutuskan siapa yang harus mengelak antara keduanya : ia atau isterinya.

Mungkin aku. Aku yang telah kehabisan tenaga ini.

Waktu ia bangkit dari ranjang isterinya tidur di sampingnya dan berkata :

“Kalau engkau pergi dari sini bereskan dulu surat-suratnya.”

Ia ingat peringatan itu telah diterimannya tiga kali berturut-turut dalam setahun.

Baiklah, aku yang pergi, kata Machmud.

Dan keesokan harinya ia serahkan kembali isterinya kepada mertuanya beserta surat permohonan cerai untuk penghulu.

Semua sudah aku pikir, jawab Machmud. Dan tentang pendidikan anak-anak itu, katanya dalam hati, selalu mertua juga yang menghancurkannya. Untuk pindah rumah aku tak mampu.

Dengan menjinjing kopornya ia tinggalkan kampungnya, rumahnya, bahkan tak terpikir olehnya ia belum lagi minta diri dari anak-anaknya. Ia tak tahu mesti ke mana. Seorang kawan yang tak diduga-duganya telah mengajaknya tinggal bersamanya.

Sebuah lembaga kehidupan telah hancur sebuah lagi. Aku ingin kalian ikut memikirkan. Bukan untuk mencari kesalahan antara Machmud dan isterinya, tetapi apakah jadinya masyarakat kita bila begitu banyak lembaga kehidupan hancur. Dan apakah pertanggungan jawab yang berkepentingan terhadap anak-anaknya.

Kalian tahu, cerita ini belum lagi selesai, tetapi masalah pertama telah aku kemukakan kepada kalian. [ ]

Pramoedya Ananta Toer

Majalah Roman No. 5 Th. III

Mei 1956  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s