Germany's Irina Mikitenko runs on her way to winning the women's London Marathon in London

Judul buku           :              What I Talk About When I Talk About Running

Penulis                 :              Haruki Murakami

Penerbit               :              Bentang Pustaka

Tahun                   :              Mei 2016, cetakan kedua

Halaman              :              VI + 198 halaman

Selama ini karya Murakami bagi saya seperti angin sepoi di siang terik, perut kenyang, dan sambil mendengarkan irama semenanjung: ngantuk berat. Saya pernah membaca “Norwegian Wood”, “1Q84”, “Hear The Wind Song”, dan “Kafka on The Shore”, semuanya tidak selesai. Saya juga tidak pernah sekalipun mengkhatamkan buku karya para pengarang Jepang lainnya seperti Yasunari Kawabata dan Ryunosuke Akutagawa. Entah kenapa saya merasakan bosan yang akut ketika membaca karya-karya mereka, sampai akhirnya saya membaca “What I Talk About When I Talk About Running”.

Konon para pembacanya sangat menyukai buku ini. Bahkan The New York Times sampai menulis testimoni yang hiperbolis: “Buku ini membuat fans Murakami tergila-gila, bahkan sebelum sampai ke kasir.” Tidak terlampau salah memang, sebab di pengantar untuk bukunya ini Murakami menulis sesutu yang agak tengil:

“Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa laki-laki sejati tidak akan pernah membahas perempuan yang pernah putus dengannya atau jumlah tagihan pajak yang harus dibayarnya. Sebenarnya kata-kata itu hanya sebuah kebohongan. Aku cuma mengarangnya. Maaf, ya! Namun, kalau memang ada petuah yang seperti itu, menurutku ada satu syarat lagi untuk menjadi pria sejati, yakni tidak membicarakan cara yang dilakukannya untuk menjaga kesehatan.”

Di paragraf berikutnya, Murakami kemudian membatalkan semua “kalimat bijak” itu dengan caranya sendiri yang cukup segar namun agak terkesan pahit, “Sebagaimana yang diketahui semua orang, aku bukanlah pria sejati. Jadi, sebetulnya aku tidak perlu mengkhawatirkan syarat-syarat aneh itu sejak awal.” Boa edan!

Pada mulanya, Murakami—seperti kebanyakan para pengarang yang lain, kerap menghabiskan berbungkus-bungkus rokok ketika menulis untuk membantu fokus dan konsentrasi. Dalam sehari ia bisa menghabiskan sekitar 60 batang, artinya setara dengan tiga bungkus rokok Marlboro! Tapi kemudian ia sadar bahwa duduk berlama-lama di depan komputer dan menghabiskan begitu banyak rokok tidak baik bagi tubuhnya. “Jika berniat menjalani kehidupan yang panjang sebagai penulis, aku harus mencari cara untuk mempertahankan kebugaran tubuh dan menjaga berat badan yang ideal,” begitu tulisnya sekali waktu. Ia pun kemudian memutuskan untuk berlari dan mulai meninggalkan kebiasaan merokoknya.

Ihwal pilihannya untuk total menjadi seorang penulis pun ia ceritakan juga. Ia punya minat yang besar terhadap musik jazz. Semasa kuliah ia membentuk semacam kelab jazz yang kemudian juga membuka kedai kecil yang jika siang hari menjual kopi, dan malam dijadikan bar: selain menjual makanan juga setiap akhir pekan kerap diadakan pertunjukkan live music. Semua itu ia lakukan sebelum usianya menginjak 30 tahun.

Tak pernah sedikit pun ia berpikir untuk menulis novel, sebelum akhirnya—pada satu kesempatan ketika ia menonton sebuah pertandingan baseball sambil minum bir, tiba-tiba saja keinginan itu terbit. Entah apa namanya, namun keinginan itu muncul dengan sebab yang cukup aneh:

“Aku masih ingat bagaimana cerahnya langit, rasanya sentuhan rumput hijau yang baru diganti, dan suara retakan saat bola beradu dengan tongkat pemukul waktu itu. Sesaat pada kejadian itu, seperti ada sesuatu yang turun dari langit, dan apa pun itu, kupikir aku sudah menangkapnya. ‘Ya! Aku harus coba menulis novel!” begitu terangnya.

Sambil tetap menjalankan bisnisnya, Murakami kemudian mulai menulis novel tipis yang ia kerjakan di sesela kesibukannya. Ia menulis dalam kondisi waktu yang serabutan karena terbagi dengan pekerjaannya yang lain. Dua karya ia hasilkan dengan judul “Pinball, 1973” dan “Hear The Wind Song”. Selain itu, di tengah pengerjan dua novel tersebut, ia pun menerjemahkan beberapa cerpen karya F. Scott Fitzgerald.

Karena dirasa karyanya kurang maksimal, Murakami kemudian memutuskan untuk menghentikan bisnisnya dan total menjadi seorang penulis. Beberapa kawannya menyayangkan keputusan itu, namun tekadnya sudah bulat. Ia jual bisnisnya lalu hidup dalam kepompong rumah dan otomatis mengurangi interaksi sosial. Pada istrinya ia berkata, “Aku ingin bebas selama dua tahun ke depan untuk menulis. Kalau nanti gagal, kita masih bisa membuka toko kecil di suatu tempat. Aku masih muda dan kalau gagal, kita selalu dapat berusaha lagi.” Istrinya hanya menjawab pendek, “baiklah.”

Kembali ke soal berlari. Karena ia ingin lama menjadi penulis, Murakami pun kemudian berolahraga. Dan olahraga pilihannya—yang ia pikir paling tepat dengan karakternya, adalah lari. Sebagai seorang introvert yang tidak terlalu kesulitan jika hidup sendirian—lari sebagai sebuah olahraga yang tidak membutuhkan oranglain, membuatnya jatuh cinta. Ya, ia memang kerap menghindari berbagai jenis olahraga yang berkelompok, seperti sepakbola misalnya.

Dalam perjalanannya, ia pernah berlatih lari di Hawaii, mengikuti ultramaraton sepanjang 100 km di Hokkaido, berlari di siang terik dari Athena ke Marathon, sampai ikut lomba marathon di New York. Selain itu, ia pun telah beberapa kali mengikuti maraton di kota-kota negara lainnya. Semua pengalamannya itu ia catatkan dengan tekun, dan ketika hendak diterbitkan menjadi buku, ia hanya tinggal menyuntingnya sedikit.

Menulis dan berlari. Keduanya hidup di urat nadi Murakami. Maka tak heran jika kemudian ia menulis jurnal, atau semacam memoar tentang berlari. Isinya bukan ajakan untuk menjadi sehat, namun menjelentrehkan minat pribadinya disertai curhat-curhat yang filosofis. Tapi meskipun demikian, ia menolak jika buku ini dikatakan demikian:

“Aku tidak menyebut buku ini sebuah filosofi, meskipun di dalamnya mungkin memang mengandung sejumlah hal yang bisa disebut sebagai pelajaran hidup. Namun, buku ini adalah tentang diriku apa adanya,” demikian ujarnya.

Karena bukan kisah fiktif, buku ini lebih bisa mendekatkan pembaca kepada penulisnya. Dari hamparan memoar berlari, cerita kepenulisan, dan pernyataan-pernyataannya tentang pilihan dan hidup: pembaca dapat mengenal proses kreatif di balik karyanya. Murakami menimbang, membuat pilihan dan menjalankan keputusannya dengan sungguh-sungguh. Hal ini seolah kembali menabalkan satu hal: bahwa berapa pun banyak kutipan yang dirasa cocok buat kita, namun hidup berjalan sesuai kenyataan. [irf]

Foto : www.theatlantic.com

Advertisements