Marie AntoinetteOleh : Candra Asmara*

Judul Buku : Marie Antoinette, Wajah Seorang Wanita

Penulis : Stefan Zweig

Penerjemah : Ali Audah

Penerbit : Pustaka Jaya

Tahun Terbit : Cetakan 1, 1986

Halaman : 260

Kulitnya yang seperti pualam, sepasang mata biru yang berbinar, mulutnya yang manis serasi dengan sikap kebesaran yang menarik. Begitulah deskripsi Stefan Zweig, penulis berkebangsaan Austria dalam bukunya yang berjudul Marrie Antoinette, Portrait of An Average Woman yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dengan judul Marrie Antoinnete, Potret Seorang Wanita.

Penerjemah sekelas Ali Audah, tentu dengan sadar tidak menerjemahkan kata average menjadi biasa, meskipun tidak menjelaskan apa alasannya. Padahal kata average tersebut akan sangat mewakili isi cerita yang ingin disampaikan oleh Stefan Zweig, yaitu sisi kejiwaan Marrie Antoinette sebagai wanita, ibu dan istri yang penuh kasih dan penuh hormat pada anak-anak dan suaminya, Louis XVI. Dengan kata lain, Marrie Antoinette pun memiliki sifat-sifat layaknya wanita biasa, di luar otoritasnya sebagai Ratu Prancis yang kerap berpesta dan bersenang-senang hingga menumpuk utang.

Mari kita rasakan perbedaannya jika judulnya menjadi Marrie Antoinette, Potret Seorang Wanita Biasa. Cukup kentara perbedaannya, bukan? Atau mungkin bagi penerjemah, kata wanita saja sudah cukup untuk mewakili kewajaran atau ke-biasa-an? Allohualam bissawab. Yang pasti, apa-apa yang menjadikan karya Stefan Zweig  dianggap berbeda ada di pendahuluan yang sangat ringkas.

Mari bergegas ke bagian ranjang, aku sudah tak tahan. Begitu pula Marrie Antoinette yang tak tahan ranjangnya dibiarkan dingin oleh suaminya, Louis XVI, selama bertahun-tahun! Marrie Antoinette yang cantik jelita juga muda, tak sanggup membuat suaminya perkasa. Bukan maunya sang Louis, tapi ada kelainan fisis dari pria peragu dan senang berburu itu. Meski pada akhirnya, pasca operasi, kenjantanannya bangkit juga, ditambah bukti produktivitasnya berupa empat orang anak.

Dalam biografi rasa novel ini, diungkap bahwa Louis XVI tidak berkompeten menjadi seorang raja karena karakternya yang sulit mengambil keputusan, peragu, dan lemah di gelanggang seks. Sehingga kelemahannya ini dianggap sebagai penyebab sang Louis tidak dapat mengendalikan ke-hedon-an istrinya. Penghamburan uang untuk kesenangan pribadi sang ratu belaka, menjadi salah satu faktor pemicu pecahnya bisul revolusi. Sementara itu di dalam istana Versailles, intrik-intrik politik dan kisruh kepentingan menjadi laten, siap menggabrug ketika mangsa lengah. Tentunya, rakyat yang lapar dan bangsawan yang mengincar kekuasaan sama-sama mengibarkan jargon, Viva Le Revolusyong!

Bersenang-senang dahulu, lalu di-guillotine kemudian. Terlambat, sangat terlambat semua penyesalan dan penginsyafan. Sisi baik dari seorang Marrie Antoinnete muncul justru ketika masa-masa susah. Tapi lupa ketika ia masih memiliki segalanya, yaitu sebagai ratu Prancis yang dicintai rakyatnya. “Mahkota tidak lebih daripada mainan baru. Ia ingin menikmati kekuasaan, bukan mempergunakannya”, tulis Zweig menggambarkan Marrie Antoinette setelah naik tahta.

Katanya, karakter asli seseorang akan terlihat ketika kesusahan. Sama halnya dengan Marrie Antoinette yang dulu sering menghabiskan waktu di atas lantai dansa atau meja judi, setelah susah menjadi sering menghabiskan waktu bersama anak-anaknya. Sebuah bukti keinsyafan atau memang sudah tak punya kawan dan tak punya uang lagi, lagipula sifat-sifat baiknya muncul ketika ditawan.

Dia menginsyafi banyak hal karena posisinya yang tersudut. Sering membaca surat-surat sampai selesai yang dulu tak pernah dilakukannya, karena dia berharap dalam suratnya ada bantuan untuk meloloskan dirinya dari cengkraman teror revolusi. Nasehat ibunya, Ratu Austria yang kerap menyuruhnya untuk membaca buku, baru ia insyafi ketika ia tengah di penjara serta merta hanya untuk membunuh rasa kesepiannya.

Ia menginsyafi banyak hal, kecuali menyesali sifatnya yang boros dan menghambur-hamburkan uang. Mengingat dia melakukan hal-hal baik itu sebagai respon terhadap situasinya yang terpojokkan, apakah bisa hal baik yang muncul setelah penginsyafan disebut karakter asli (sisi baik kejiwaan) dari Marrie Antoinette? Atau hanya respon baru dari situasi yang baru pula? Adakah yang bisa menjamin, jika Marrie Antoinette lolos dari lubang jarum revolusi, dan kembali hidup sebagai bangsawan istana, berubahlah ia menjadi pribadi yang (minimal) lebih hemat soal belanja pakaian? Sialnya, sebelum itu terbukti Guillotine sudah tak sabar ingin mencumbu leher sang Janda Cupet.

Saya akhiri tulisan ini dengan endapan dari kalimat-kalimat yang digelontorkan imam Kelas Literasi minggu yang lalu di halaman Gedung Indonesia Menggugat:

“Seseorang menjadi dewasa dan bijaksana bukan kepalang, ketika ia merasa ajal telah menjelang.” [can]

  • Candra Asmara adalah seorang pengelamun profesional. Alumni sebuah kampus di bilangan Ledeng ini menyukai Sigur Ros dan rokok elektrik. Aktif di Komunitas Aleut sambil menekuni usaha yang berguna bagi kehidupan manusia.
Advertisements