14188142_10207508429568455_5138100967670559396_oBandung pada mulanya adalah sebuah kampung dengan jumlah penduduk sekira 25 sampai 30 orang, begitu setidaknya dari laporan Juliaen de Silva pada tahun 1641. Ketika De Groote Postweg atau Jalan Raya Pos dibuat di tahun 1810, Bandung menjadi salah satu wilayah yang dilewati jalan sepanjang 1000 km tersebut yang membentang dari Anyer hingga Panarukan. Dari sinilah kemudian Bandung perlahan berubah menjadi salah satu daerah penting di Pulau Jawa. Pembangunan terus menggeliat: dari Jalan Braga yang legendaris sampai hari ini ketika bisnis properti kian mengepung.

Bandung sebagai kota kerap dikenal dari tengara yang dianggap penting saja, baik peristiwa, tonggak batas, penanda, dll. Sebagai contoh peristiwa Bandung Lautan Api, Jl. Braga, Titik Nol Kilometer, Gedung Merdeka, dan Hotel Savoy Homann sering kali diidentikkan dengan Bandung. Hal-hal tersebut seolah dianggap cukup untuk mewakili Bandung sebagai sebuah kota yang kompleks. Padahal di semesta yang kota ada juga kehidupan lain yang kerap luput dari perhatian banyak orang, salah satunya adalah perkampungan kota yang justru sering “disembunyikan” demi menyelamatkan citra kota yang kadung terbentuk.

Minggu ini (4 September 2016) Komunitas Aleut akan NgAleut Cikapundung Kolot, salah satu perkampungan tua di Kota Bandung. Selain menelusuri setiap pojok perkampungan dan mencatat kisah-kisah menarik yang mungkin akan kami temui, NgAleut kali pun adalah bentuk pengenalan ulang kepada kawan-kawan pegiat yang masih muda akan cepatnya laju pembangunan kota yang kapan saja siap menenggelamkan perkampungan oleh gemuruhnya. Tak ada titik yang jelas untuk kami berhenti dan menerangkan sejarahnya, kali ini kami akan benar-benar menggali dan memindai setiap titik baru yang kami lewati.

Kegiatan kami ini tak lepas dari ulang tahun Kota Bandung yang sudah menunggu di muka dan jatuh tepat pada tanggal 25 September 2016. Kota yang akan berusia 206 tahun ini telah banyak mengalami perubahan, dan seperti kebanyakan kota besar lainnya, arah pembangunan cenderung mengkutubkan dua hal: perkotaan yang gemerlap dan kampung kota yang semenjana, kumuh dan terabaikan. Sebuah ketimpangan yang khas.

Dari kegiatan ini kami mencoba mengingat dan melihat ulang bahwa Kota Bandung yang hari ini semakin cantik dan terkenal, tak bisa dilepaskan dari sejarah dan kondisi kompleksnya. Cikapundung Kolot dan sekitarnya sebagai salah satu representasi dari sejarah dan kehidupan perkampungan kota, kiranya bisa menjadi bahan awal untuk mengakrabi kembali dinamika kota yang tidak sederhana. [irf]

Advertisements