silhouetted-couple-on-park-benchtif-jim-corwin

“Aku tidak tahu harus cerita kepada siapa lagi, hanya kamu yang aku percaya.” / “Terima kasih sudah mendengarkan isi hatiku, kamu memang pendengar yang baik.” / “Aku lega sekarang, cuma kamu yang tahu tentang masalah ini.”

Kira-kira itulah yang diucapkan orang-orang yang aku kenal. Mereka datang padaku, membawa masalah dan menceritakannya. Kadang meminta pendapatku atau sekadar butuh didengarkan saja. Dan aku menikmatinya.

Aku tidak pernah membayangkan menjadi orang bijak yang paham betul tentang nilai-nilai kehidupan. Lulusan universitas negeri yang tidak benar-benar tahu untuk apa mengikuti perkuliahan. Laki-laki yang tak punya banyak keinginan dan ambisi. Itulah aku, hanya orang biasa.

Entah sejak kapan, aku tidak tahu persis. Orang-orang di sekitarku dengan mudahnya mulai menceritakan masalah-masalah dalam hidup mereka. Bahkan rahasia terbesar yang tersimpan rapat, mereka ungkap dibumbui isak tangis seolah-olah aku adalah buku harian pribadi bersama.

Lambat laun aku menjadi penampungan masalah dan rahasia-rahasia. Masalah-masalah seperti perceraian orang tua, hilang keperawanan, ditampar pacar, disorientasi seksual dan banyak lagi, aku tahu siapa saja pemilik rahasia-rahasia itu. Dan aku tidak akan pernah bilang pada siapapun, demi menghargai “klien”.

Aku bukan motivator mahal yang kerap muncul di televisi dan menerbitkan buku-buku. Tak perlu mahal-mahal untuk membeli waktuku. Cukup bertemu saja di kedai kopi, berbagi asap rokok menghembuskan keluh kesah.

Berbekal buku-buku yang pernah aku baca dan film-film yang pernah aku tonton, sang klien terbuai dengan nasihat-nasihatku. Pendapatku dibenarkan, nasihatku mereka terapkan. Lalu mereka akan kembali padaku untuk mengucapkan terima kasih atau membawa masalah yang lain. Dari setiap masalah yang aku dengar, aku bisa memberikan solusi.

Semakin banyak masalah keterampilanku semakin terasah. Definisi cinta Erich Fromm, sabda-sabda Nietzsche, syair-syair Jalaludin Rumi, puisi-puisi cinta Kahlil Gibran dan banyak lagi, adalah peluru-peluruku meskipun aku sebenarnya tidak memahami apa sebenarnya yang mereka bicarakan. Aku merasa seperti sufi yang bijak dengan kata-kata yang menelusup ke dalam relung hati setiap orang. Seolah-olah aku adalah pakar psikologi, filsafat, sang pemikir sejati. Sang filsuf kelas kedai kopi!

Hidupku dipenuhi banyak masalah milik orang lain. Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku punya masalah? Jika iya, apakah aku harus bertanya pada diriku sendiri?

Hingga pada suatu hari, takdir mempertemukanku dengannya. Biasanya orang-orang datang kepadaku dengan menceritakan masalah yang tak bisa mereka tanggung dan selesaikan sendiri. Tapi tidak untuk klien yang satu ini. Dia berbeda.

Kebanyakan klien datang kepadaku hanya ketika ada masalah, lalu hilang ketika hidupnya aman-aman saja. Anehnya klien ini datang kepadaku setiap hari dan tidak menceritakan masalah. Aku mulai penasaran dengan yang satu ini.

Setiap hari klien aneh ini datang kepadaku, mengajakku minum dan ngobrol. Senyumnya menyamankan hati, tutur katanya lembut dan ramah. Perempuan muda masih sendiri. Aku dikenalkan oleh kakakku seminggu yang lalu, saat aku pindah ke tempat ini. Aku menduga mungkin kakakku ingin punya adik ipar.

Lama-lama aku pikir dia cantik juga. Usiaku pun sudah kepala tiga. Mungkinkah sudah saatnya aku beristri? Pekerjaanku tak lebih dari sekadar nongkrong dan berbicara pada semua klien, mau dikasih makan apa dia nanti? Tapi terlanjur cinta. Lihat nanti saja.

Hanya perempuan inilah yang datang padaku dengan senyuman. Orang kebanyakan datang memasang muka cemberut. Tipikal orang banyak masalah.  Dialah satu-satunya yang ceria, memancarkan kehangatan dalam setiap geraknya. Mungkin dia memang tidak menempatkan diriku sebagai seorang sufi kelas kedai kopi. Dia datang dengan alasan lain. Mungkinkah ini pertanda dia cinta kepadaku? Jika iya, aku juga.

Suatu hari, aku sudah bersiap-siap untuk bertemu kembali dengannya. Membulatkan tekad untuk menyatakan cintaku padanya. Melamarnya. Menikahinya. Mempunyai anak darinya. Ah..bahkan seorang pemikir handal yang telah mencerahkan banyak jiwa pun ada saatnya jatuh cinta. Berbekal bunga yang aku petik di halaman, aku berjalan tanpa sekali pun menengok ke belakang.

Sampailah aku di tempat biasa kita bertemu. Aku memilih duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap ke arah kolam ikan. Bersiap menyambut kedatangannya. Sebagai laki-laki sejati aku tidak mau membuatnya menunggu, jadi aku datang lebih awal. Selain untuk memberikan kesan baik, aku pun ingin lama-lama menikmati senyumnya dari kejauhan ketika dia berjalan mendekatiku. Jujur saja, aku tidak berani lama-lama memandang ke arah wajahnya ketika dia berada di dekatku. Cinta bahkan membuat pemikir sepertiku tersipu.

Itu dia datang. Jantungku berdegup cepat. Bunga persembahan untuknya aku genggam semakin erat. Sungguh cantik, kulit putih yang dibalut pakaian serba putih. Rambutnya dibiarkan terurai, jatuh mengayun dibelai angin.

Tiba-tiba aku tersadar dia sudah ada di dekatku, maka aku segera saja menunduk mengalihkan pandangan dari wajahnya. Sesekali aku mencuri-curi pandang, terlihat cantiknya paras dari sudut mata. Gincu merah menyala  di bibir tipisnya, menggairahkan.

Dia menyapaku ramah. Tak berapa lama kemudian, aku menyerahkan bunga tanda cintaku padanya. Dia tersenyum dan berterima kasih.

“Maukah kau menjadi istriku, Nona?” aku langsung menyampaikan maksud hati. Dia tidak menjawab, hanya tersenyum. Malah balik bertanya, “Obatnya selalu diminum kan? Minum ya, biar cepat sembuh.” Aku menyeringai, tanda gembira mendengar ungkapan perhatian dari seorang perempuan bakal istriku nanti.

Dia pun segera berlalu setelah selesai menuliskan sesuatu di buku catatan yang sering dia bawa.  Berlalu, membawa jawaban yang tidak pernah dia sampaikan. Maukah dia atau tidak? Besok aku akan kembali bertanya padanya. Masih ada hari esok dan esoknya lagi pikirku. Lagipula aku tidak akan sebentar tinggal di tempat ini.  “Ya, inilah masalahku!” Ucapku lantang, lalu terkekeh sendiri. [Candra]

Foto : fineartamerica.com

Advertisements