Aku membayangkan, masa tuaku yang kelak tiba

Aku yang menjadi semakin renta

Aku yang melemah berkurang daya

Aku, yang bisa saja menjadi pelupa

atau justru dilupa

Masih pagi. Pukul tujuh sebentar lagi. Di persimpangan gang itu, riuh orang-orang terburu-buru menyiapkan hari. Anak kecil menangis menolak mandi, pekerja kantoran yang sibuk mencari pasangan kaus kaki, atau pedagang bacang yang berteriak mengundang pembeli. Keributan di sana-sini. Tapi pasangan suami istri itu masih saja santai bergurau tentang kucing tetangga yang beranak lagi.

Sudah lebih dari setengah abad usianya. Tapi tanpa bertanya, kawan bisa salah menduga. Fisiknya masih tegap. Rambut di kepala masih gelap. Bicara pun masih cakap. Dan di pagi itu, dengan setelan kemeja dan celana panjang lengkap dengan sepatu, ia telah siap.

Sambil membetulkan letak topi di kepala, ia berpamitan pada istri tercinta. Melangkah meninggalkan rumah seperti pagi-pagi sebelumnya. Menenteng kotak peralatan di boncengan sepeda, serta sekantong ransum buatan istri ia gantungkan di atas roda. Beberapa kali ia menyapa tetangga sembari menuntun sepeda melewati gang menuju jalan utama. Tujuanya satu. Emperan toko di Jl. Teri yang sudah puluhan tahun menjadi tempatnya mengais rezeki.

Lapak itu sederhana. Tanpa bilik ataupun sekat pembatas. Tanpa papan nama ataupun sekedar penanda. Ada tumpukan perabot kayu yang ia rantai jadi satu. Tertumpuk di sebelah dinding tua. Rupanya, itu sekumpulan kursi dan rak sederhana. Harta berharga bagi Pak Ujang, si tukang cukur tua.

Pak Ujang adalah satu dari sekian banyak tukang cukur yang berdarah Garut. Ia mewarisi keahlian dari sang ayah yang dahulu membuka usaha yang sama. Sudah hampir 50 tahun, emperan di dekat pasar Andir itu menjadi tempatnya mengisi hari. Berjumpa dengan pelanggan yang silih berganti.

Termasuk pagi itu. Satu pelanggan duduk pasrah di depan cermin yang bagian pinggirnya telah pecah. Pak ujang sigap melilitkan kain pelindung di badan pelanggan. Usaha untuk melindungi pelanggan dari potongan-potongan rambut yang berjatuhan.

Paduan bunyi antara gunting dan rambut semakin seru. Tangan tua itu lincah memainkan alat-alat cukur yang tak lagi baru. Matanya pun sibuk mencermati ke mana benda tajam itu melaju. Memastikan bahwa karenanya, tak akan ada cerita luka tak sengaja. Atau sekedar sayatan yang mengundang tanya.

“Sepuluh ribu”

Samar kudengar Pak Ujang menjawab tanya pelanggan pertama. Dari jauh kulihat pelanggan itu kini sudah tampil berbeda. Wajah baru yang membuatnya terlihat lebih muda. Sebentar ia mematutkan wajahnya ke depan kaca. Tersenyum. Lantas berdua mereka tertawa. Pelanggan yang berpuas dengan rambut yang berganti gaya. Sedang bagi Pak Ujang, sangat sederhana. Ia bersuka melihat pelanggannya bahagia.

Aku, sedari pagi sengaja mengamati. Memunculkan kembali banyak memori. Ketika ia masih muda perkasa. Mengayuh sepeda dengan sesekali membawa anak kecil di belakangnya. Anak kecil yang ketika telah dewasa justru memilih tinggal ratusan kilo dari rumah. Mencari peruntungan dengan berhijrah ke kota sebelah. Anak kecil itu, aku. Putranya.

Sungguh. Ingin kularang bapak bekerja. Sudah cukup ia merasa capai dan berpeluh setiap harinya. Sedari tahun 60-an, ia telah bermain dengan pisau cukurnya. Ketika usianya menginjak dua puluh dua. Artinya kini telah 50-an tahun ia berkarya. Mengukir banyak kepala. Ah, bapak tetaplah bapak. Ia akan merasa tersinggung ketika aku mulai mengajaknya bicara. Tentang kesehatannya. Tentang keselamatannya. Tentang raganya yang tak lagi muda. Terlebih tentang penglihatannya yang semakin berkurang seiring bertambahnya usia. Namun ia pernah tegas berkata, bahwa bekerja bukan perihal uang semata. Ia merasa bahagia. Ketika orang lain masih membutuhkannya. Ketika hidupnya masih berguna. Meski hanya lewat lapak cukur sederhana di samping bangunan tua.

Maka kubiarkan saja sedari pagi ia pergi. Dan pulang menjelang sore hari. Sekedar memuaskan hati. Terlebih membuatnya merasa masih mampu memberi nafkah pada istri. Masih mampu berdikari. Tanpa menggantungkan hidup pada anak-anaknya sendiri.

Pada akhirnya, anakmu ini hanya bisa berdoa
untuk kesehatan
untuk keberuntungan
untuk keselamatan
untuk kebahagiaan
bagimu
lahir dan batin… [Nurul]
 
 
Postscript :
Tulisan ini dibuat tidak berdasarkan pengakuan langsung dari Putra Pak Ujang, namun lebih pada apa yang saya rasakan dan simpulkan dari obrolan dengan keluarga Pak Ujang.
Advertisements