Teror Kampus, Muhidin, dan “Jalan Sesat”

dscn5636Ruangan student centre penuh dengan asap rokok dan gelas plastik berisi kopi. Saya dan kawan-kawan sedang rapat persiapan menyambut mahasiswa baru angkatan 2003. Siang itu agendanya adalah pemilihan ketua pelaksana OSPEK jurusan. Seperti juga yang lain, saya bolos dari kelas. Mata kuliah Kewirausahaan ditinggalkan. Rapat memutuskan saya sebagai ketua pelaksana. Buat saya, ini adalah keputusan yang kurang nyaman. Selama aktif di organisasi kemahasiswaan saya selalu memosisikan diri di belakang layar: dari Himpunan sampai BEM. Departemen Kajian Strategis selalu menjadi pos pilihan. Sekali ini tantangan hadir di muka, saya mesti menjadi sosok paling depan. Keputusan sudah diambil, dan saya tak boleh mundur.

Selesai rapat, kelas sudah bubar. Seorang kawan datang menghampiri, “Bung, tugas Kewirausahaan sudah bikin?” tanyanya. “Tentu saja,” jawab saya singkat. Dia kemudian melanjutkan bahwa tugas itu sudah dikumpulkan ke dosen yang bersangkutan, dan saya mesti segera menyetorkannya. Saya bergegas menuju ruangan dosen di lantai dua. Di ambang pintu saya berhenti dan mendapati ruangan telah kosong. Dengan tugas di tangan, saya masuki ruangan dosen lalu meletakkannya di di atas tumpukan tugas kawan-kawan yang lain.

Besoknya saya dipanggil dosen Kewirausahaan dan dicecar kemarahan tanpa ampun karena ia mendapati mejanya berantakan. Saya bilang, benar saya kemarin bolos dan terlambat mengumpulkan tugas, tapi saya tak membuat kekacaun. Saya hanya menyimpan beberapa lembar makalah saja. “Kalau kamu yang terakhir masuk ruangan dan tidak mengaku, lalu siapa lagi? Masa sama hantu!” Urusan semakin rumit karena dosen itu kemudian melebar ke sikap saya yang kerap “menyerangnya” selama di kelas.

Satu hal memang benar: selama kuliah saya adalah sosok menyebalkan bagi sebagian orang. Di kelas, jika ada diskusi, saya selalu bertanya dengan maksud menguji sejauh mana pengetahuan kawa-kawan, dan bukan bermaksud ingin tahu jawabannya. Begitu pula ke semua dosen, saya kerap “menyerang” para pengemban risalah pendidikan itu dengan pertanyaan-pertanyaan tajam yang sebetulnya saya sudah tahu jawabannya. Dosen yang satu ini, yang konon mejanya saya acak-acak itu, adalah juga yang kerap saya “serang”.

“Kamu sebenarnya mau apa? Setiap saya di kelas, kamu selalu menyerang saya seperti hendak mempermalukan!” Saya pikir, jawaban apapun tak akan meredakan amarahnya yang tengah muntab. Saya memilih diam. “Kamu mau DO?!” Sambaran yang cukup mengejutkan. Saya pribadi sejujurnya tidak takut DO, tapi apa kabar dengan orangtua di kampung. Tak terbayang reaksi mereka sekiranya tahu anaknya yang ditatah dengan segenap do’a dan biaya malah kalah di gelanggang pendidikan. Saya lemas dan cemas. “Tunggu keputusannya Senin, kamu mesti menghadap Kepala Program Studi dan Kepala Jurusan, sebelum akhinya kamu resmi DO!” Ancaman itu kembali menyambar.

Setelah itu saya menghubungi kawan-kawan dan menyampaikan semuanya. Kepada Ketua Himpunan saya bilang, “Bung, saya teracam DO, sementara saya juga harus memimpin OSPEK jurusan. Saya kira posisi kita tak aman. Segala perizinan yang terkait dengan acara kita pasti akan dipersulit atau bahkan akan digagalkan.” Dia diam sejenak. “Nanti sore kita ketemu distudent centre, kita bicarakan dengan kawan-kawan yang lain,” ujarnya. Kemudian saya pergi ke kantin, memesan kopi dan menghabiskan setengah bungkus rokok. Kelas saya lupakan. Sehari itu saya tak berminat kuliah.

Sore harinya keputusan diambil: saya meletakkan jabatan yang baru sehari diemban. Ketua pengganti diputuskan setelah melalui perdebatan yang panjang dan panas. Hal itu disebabkan karena salah satu calon pengganti berwatak keras dan arogan, dan kawan-kawan yang lain tak menghedakinya. Sosok itu akhirnya bisa disingkirkan, dan agenda kembali dijalankan. Menjelang pulang, seorang kawan mencoba membesarkan hati saya, “Bung, kalau kasusnya seperti itu, saya kira bung akan selamat, paling-paling hanya pending,” ujarnya.

Saya kuliah di sebuah politeknik negeri. Lembaga pendidikan yang tugasnya mempersiapkan buruh-buruh pabrik nomor wahid. Setiap hari kelas dimulai dari jam tujuh pagi dan selesai jam tiga sore. Dosen memegang absen, setiap hari mereka teriak di kelas menyebut mahasiswanya satu persatu. SKS dipaket, dan tiap semester mahasiswa menyerahkan lehernya di ambang pisau pancung. Jika dalam satu semester terdapat satu nilai E atau tujuh nilai D, maka ia otomatis DO. Tak ada semester pendek, tak ada kesempatan memperbaki bopeng di transkrip nilai. Lama kuliah dibatasi hanya tiga tahun, dan toleransi setahun bagi mereka yang malas dan lemah iman. “Pending” adalah kosakata politeknik untuk toleransi itu.

Asal tahu saja, baik pending maupun DO, keduanya adalah aib tak terampuni. Tak terhitung banyaknya anak politeknik yang menangis ketika vonis pending dijatuhkan. Alasannya jelas: malu dan biaya yang menggantang sebab mesti memperpanjang kuliah selama setahun ke depan. Maka dengan tak mengurangi rasa hormat kepada kawan yang berusaha membesarkan hati itu, sejatinya saya tetap cemas. Waktu pulang ke kosan, saya berjalan dengan kecemasan yang menggores.

Tiba di kosan, seorang kawan tengah uring-uringan dengan muka pahit, entah apa penyebabnya: yang terbit hanya satu, saya ingin melemparnya dengan sepatu. Sebuah pesan masuk di layar hp, bapak tanya kabar dan prestasi akademik. Deg! Inilah situasi yang saya takutkan itu.

Di kosan kecemasan semakin berparade. Saya tak tahu cara meredakannya. Lalu akhirnya teringat satu hobi yang sudah jarang dirawat: membaca buku. Karena di rak tidak ada stok baru, saya memutuskan pergi ke Gramedia di Jl. Merdeka. Angkot dari Ciwaruga berjalan serupa siput: terseok-seok kepayahan. Uang di kantong tak banyak, tapi saya harus membeli satu buku, ingin mencoba meredakan kondisi yang tengah berada di tubir kekalahan.

Di sudut sebuah rak, saya mendapati satu buku bersampul coklat muda, lusuh, sampul plastiknya sudah terlepas, berjudul “Aku, Buku, dan Sebuah Sajak Cinta” karangan Muhidin M. Dahlan. Sepenggal narasi di sampul belakangnya berbunyi: “Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma cerita”, sebuah kutipan dari Hannah Arendt. “Derita” dan “cerita”, bukahkan dua hal ini yang tengah saya hadapi? “Derita” berwujud kecemasan karena teror kampus yang mengancam, dan “cerita” adalah kondisi ketika saya ingin menuliskan semuanya. Di kasir yang lumayan antri, saya tak sabar, seperti salat isya baru rakaat pertama sementara perut mulas tak tertahankan.

Sesampainya di kosan, saya langsung menyuntuki buku tersebut. Memoar Muhidin ini menggiring saya ke apotek, maksudnya seperti menelan obat penangkal sakit: terlalu banyak kesamaan, sehingga saya merasa ada kawan senasib-sepenanggungan. “Bangke Muhidin ini!” gumam saya dalam hati. Catatannya seperti mengejek sekaligus menyembuhkan: anak rantau, bermasalah dengan kampus, mencintai literasi, dan kisah cinta yang morat-marit. Semuanya ditatah dalam semesta memoar yang menggigilkan.

Perhatikan kalimatnya ketika ia harus pergi ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah: “Aku meninggalkan kotaku, kampung kelahiranku. Hari itu adalah hari yang begitu mengharukan sekaligus mendebarkan. Mengharukan karena ia adalah perpisahan yang panjang dengan semua sanak, semua keluarga, semua kawan, semua kenangan. Mendebarkan karena aku tengah menuju ke suatu titik yang jauh dari bayanganku.”

Bukan soal meninggalkan kampung, tapi saya membacanya ketika kondisi hampir ditendang kembali ke kampung karena ancaman DO. Perpisahan dengan kampung ternyata ga panjang-panjang amat. Belum lagi perkataan bapaknya ketika ia hendak benar-benar berangkat, “Jangan pulang sebelum kau berhasil.” Asu tenan!

Muhidin kuliah di dua kampus: IKIP dan IAIN, keduanya di Yogyakarta, dan keduanya tidak ia selesaikan. Tapi berbeda dengan saya, ia mengambil keputusan itu karena sadar akan pilihan, hendak lebur dengan dunia literasi yang ia yakini. Berbeda dengan saya yang meskipun secara pribadi tidak takut DO, namun lingkungan sosial masih menjadi ketakutan yang menggenggam. Muhidin seperti menggedor-gedor nurani, bahwa keputusan adalah keputusan, tak peduli respon orangtua sekalipun! Ia menegaskannya dengan mengutip sesobek petuah Romo Mangun:

“Anggaplah ini pilihan. Dan aku memilih jalan itu walau tergolong pahit—bergelut tanpa kepastian akan nasib hendak diempaskan ke mana. Bersyukur-syukurlah aku masih sanggup memilih. Kesanggupan memilih, sebagaimana petuah novel ‘Burung-burung Manyar’ yang kubaca sejak aku menginjak semester tiga di Kampus IKIP, mengandaikan suatu kemampuan untuk menimbang, untuk memegang kendali nasib, untuk berkreasi. Sebab siapa berkemampuan untuk memilih, dia mengatasi nasib.”

Di titik ini saya tercerahkan. Tantangan Muhidin saya terima. Saya tak hendak mengemis ke kampus agar lolos dari ancaman, juga bersiap menghadapi orangtua dengan segala kekecewaannya. Anggaplah saya tidak lagi kuliah, dan kiriman bulanan dari kampung dihentikan, paling-paling saya menggelandang di Bandung. Kalau sedang mujur, sekali-dua mungkin hidup ditambali oleh honor tulisan yang dimuat di surat kabar. Setidaknya dengan begitu saya telah mengatasi nasib.

Besoknya saya datangi kampus dengan kepala tegak. Saya sampaikan apa adanya kepada para pengampu kebijakan dengan kalimat-kalimat terukur. Dan keputusannya saya hanya dijatuhi SP II dengan menandatangai surat pernyataan di atas materai enam ribu rupiah. Tak jadi DO. Tak jadi dihantam palu godam kekecewaan orangtua. Di akhir semester saya malah dapat nilai A untuk mata kuliah yang diampu oleh dosen yang mengancam itu. Ajaib!

Pasca kuliah saya menjalani hidup seperti orang kebanyakan, bekerja di firma-firma kaum kapital. Hidup dari gaji yang mengalir sebulan sekali. Di permukaan seperti tak ada gejolak, hidup hampir mirip ternak, dan saya bosan. Bosan menekan-mendesak. Lalu saya teringat lagi petuah Romo Mangun yang dikutip Muhidin, saya hendak memilih dan berkreasi. Pertengahan 2014 saya tinggalkan pekerjaan. Inilah saatnya tantangan Muhidin itu benar-benar bisa saya terapkan. Saya hampir menggelandang, kemudian berkomunitas, dan hidup dari menulis.

Keberanian memilih yang didadarkan Muhidin berkelindan dengan dua hal lain, yaitu gandrung literasi dan kisah percintaan yang cukup menyedihkan. Keduanya berjejalin membentuk diri saya yang lain. Sedari kecil saya telah terbiasa membaca koran dan buku cerita, namun hal itu tak pernah dijadikan nafas hidup. Saya tak pernah mencurahkan waktu, dana, dan tenaga kepada teks dan bahan bacaan. Sampai akhirnya Muhidin—di tengah kecemasan yang menggores, datang dan menawarkan “jalan sesat”. Ia menggilai buku. Menguruskan badannya demi buku. Begini siasatnya:

“Karena kekurangan droping pesangon dari orangtua, maka aku pun bersiasat. Uang makanku kupangkas sekecil-kecilnya. Aku memutuskan untuk jalan kaki dan tidak naik bus yang sewanya waktu itu hanya 300 rupiah untuk mahasiswa/pelajar. Dan aku coba menyisir uang makanku hanya 500-1000 rupiah perhari (makan normalnya 3000). Dan waktu makanku tidak pagi tidak malam, tapi sore. Waktu sore adalah waktu tengah dalam perputaran aktivitas manusia dan waktu tengah ketika energi dikeluarkan dan diistirahatkan. Dari cara yang menguruskan badan ini sedikit demi sedikit aku mendapatkan buku dengan cara membeli. Kalau ada uang mengapa harus meminjam. Aku tidak suka meminjam.”

Untuk menguatkan sikapnya, ia mengutip Desiderius Eramus (1465-1536) yang mengatakan, “Kalau aku punya sedikit uang, aku beli buku. Kalau masih ada lebihnya, barulah aku belanja makanan dan pakaian.”

Dan saya terpengaruhi. Dulu setiap kali gajian, saya pergi ke Bandung dan mendatangi Palasari: menukar ratusan ribu rupiah dengan buku. Pameran buku di Braga, Istora Senayan, dll, pasti menguras kantong karena saya kalap. Niat membeli dua selalu berakhir dengan sepuluh eksemplar. kantong-kantong buku loak, komunitas, dan toko buku besar saya datangi dengan semangat meluap hendak membeli. Duapuluh buku pertama saya hafal di luar kepala, dan akhirnya terpaksa harus dituliskan karena jumlahnya semakin membengkak menjadi ratusan.

Saya membeli karena hendak membaca. Tapi seperti kata orang-orang, “terlalu banyak buku, terlampau sedikit waktu.” Demikianlah pada akhirnya, meski setiap pulang kerja saya sempatkan untuk membaca, namun mata selalu kalah dihajar lelah setelah berjam-jam menyuntuki angka-angka di layar komputer. Tapi di luar hal itu, Muhidin telah membuka kembali setapak jalan bagi minat yang sempat tak terawat. Kegandrungan saya pada literasi, khususnya pada buku—setidaknya sampai hari ini, ibarat kumbang yang terperangkap ke dalam toples dan tak hendak keluar lagi.

Dalam hal menulis pun tak jauh beda. Muhidin menyodorkan satu kasus yang bakal mendorong siapapun meraba ulang ketakutannya untuk menulis. Menurutnya, plagiasi—bagi para pemula, bukanlah jalan asing, ditempuh banyak orang malah. Ia mengambil contoh Sartre:

“Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialisme sayap Kiri Prancis pernah melakukan plagiasi ketika pertama kali menulis novel. Seturut pengakuannya, novel pertamanya yang berjudul ‘Pour un Papillon’ (Demi Kupu-kupu) merupakan salinan plek dari buku cerita bergambar yang ia punyai yang terbit tiga bulan sebelum novelnya diterbitkan. Semua-muanya sama: tema, tokoh-tokoh, detail petualangannya, dan bahkan judul pun ia pinjam.”

Bukan laku plagiatnya yang hendak Muhidin tekankan, tapi keberanian yang tak boleh tertukar dengan ketakutan yang tak berdasar. Ya, ia mengobarkan pembacanya untuk membaca, membaca, dan menulis. Dua mantra itulah yang akhirnya menyeret saya ke “jalan sesat”.

Hari ini setiap kali saya bertemu beberapa kawan, mereka selalu bertanya tentang kawin. “Beli buku terus, kapan kawinnya?!” Seolah urusan yang satu itu adalah mantra sakti penangkal guna-guna istri muda. Di antara mereka ada juga yang agak bijak-bestari, ceramah dulu tentang sirah nabawiyah, lalu menjejalkan Ar Ruum ayat 21 agar saya membayangkan surat undangan pernikahan, lalu diakhiri dengan ucapan, “kurangi dulu beli bukunya, mending uangnya ditabung buat bikin buku nikah.” Baru-baru seorang saudara juga bilang, “coba cari kerja lagi, menulis doang ga bakal cukup, kan kamu juga suatu saat harus menikah.”

Ya, jalan ini memang “jalan sesat”. Tak banyak orang yang percaya. Dan sejujurnya saya juga tak butuh kepercayaan mereka. Saya yang paling berhak menentukan eksistensi dan makna hidup saya sendiri. Yang ingin saya sampaikan hanya satu: terimakasih banyak-banyak buat Muhidin. Jika suatu hari nanti hidup saya akhirnya berbelok karena harus berkompromi dengan banyak hal, setidaknya saya telah melalui perjalanan ini dengan senang dan pengalaman aduhai yang tak-tepermanai. [irf]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s