didong

Didong baru saja patah hati, pacarnya yang cantik dan semok memutuskan tidak mau pacaran lagi dengannya. Padahal kisah cinta yang penuh liku itu, berhasil memupuk waktu sampai tujuh tahun lamanya! Terpaksa pagi tadi harus berakhir, tepatnya diakhiri secara sepihak tanpa proses penjelasan dan maaf-maafan.

Didong memberat-beratkan diri untuk tidak berangkat kuliah. Seharian hanya menjerembabkan dirinya di kasur tipis merk swallow, menerawang sambil sesekali memeriksa hapenya yang kini sepi tak ada suara dering lagi. Media sosial alias lapak untuk bermesraan bersama pacarnya kini tak hangat lagi. Sesaat setelah mewartakan putus, pacarnya… oh bukan, mantannya, mengubah status in relationship with-nya menjadi single. Tak hanya itu, baru dua menit yang lalu, akun pacarnya, eh mantannya yang seharian dikepoin kini tak bisa ia lihat-lihat lagi, tak bisa ia kenang-kenang lagi, alias di-blok. Berkali-kali Didong menghubungi mantannya (ok) lewat Whatsapp, BBM, Line, WeChat, SMS, dan lain sebagainya yang banyak itu, sebagai upaya rekonstruksi hubungan, tapi hasilnya tetap nihil. Tak ada jawaban, hanya centang, centang satu centang perenang.

Sedih campur kecewa. Didong menahan air matanya yang mulai menggenang dengan cara tak berkedip. Pandangannya mengarah ke langit-langit kamar, supaya air matanya tak jatuh terhukum gravitasi, membasahi pipinya yang diduduki koloni jerawat, jerawat cinta yang dipeliharanya hingga kini. Sembari menahan emosi yang sebentar lagi membludak, ia mulai menyalakan laptopnya yang bergambar buah apel yang tergigit sedikit.

Malang benar nasib pejantan Didong. Entah kepada siapa ia harus meluapkan emosinya, kawannya banyak tapi tak seorang pun kawan yang bisa menjadi tempat penampungan keluh kesahnya. Didong memang introvert, sahabat karibnya adalah media sosial, tuhannya adalah google yang maha tahu.

Facebook, twitter, path, instagram ia buka satu-satu, masing-masing menempati jendelanya tersendiri dalam rangka mengumpulkan kawan-kawannya yang siap menampung segala apa yang dikatakannya. Di jendela yang lain, tak lupa ada tuhannya, google, penuh kesiapan dalam diam. Siap meretas segala batas, memenuhi segala rasa ingin tahu umatnya.

Didong mulai berinteraksi dengan tuhannya, lalu mengetik kata kunci: kata-kata bijak bagi orang yang patah hati. Wuush, dalam hitungan detik terpampang sudah deretan kata-kata sebagai bukti terkabulnya doa. Dimulai dari motivasi bagi orang yang patah hati, sampai nama-nama motivator yang membahas hal tersebut begitu mudahnya ia buka satu per satu.

Klik.klik.klik. Tangannya tak berhenti menggeser-geser tetikusnya. Sampai pada kalimat yang menurutnya bagus, ia tandai, salin lalu tempelkan pada status media sosialnya.

“Aku mending mengemis di jalanan, karena pasti masih ada yang memberi. Karena kalau mengemis cinta darimu, cuma bikin sakit hati.”

Kalimat perdana yang menjadi ungkapan patah hatinya di media sosial, hasil salin tempel dari wahyu tuhannya yang baik hati. Lalu berharap semua orang membacanya, mengomentarinya, atau sekadar membubuhi tanda suka. Lebih berharap lagi mantannya akan membacanya, mengiba, lalu kembali merajut cinta.

Kalimat tersebut seolah-olah memperlihatkan bahwa di dunia maya, akun media sosial yang bernama DidongchayankKmoe4Ever ini adalah seorang pria sejati, tak mau ia mengemis cinta. Sementara di saat yang bersamaan, di dunia nyata, Didong tengah berusaha menghubungi mantan pacarnya itu, dengan kalimat-kalimat yang menghamba, mohon maaf, menyanjung, ingin rujuk dan…sama sekali jauh dari semangat Joni Iskandar!

Tak puas dengan satu unggahan saja, Didong mengunggah kata-kata bijak lainnya. Kali ini dengan kalimatnya sendiri,

“Sakit hati gua. Gua cuma bisa diem. Nge-ikhlasin semuanya. Yang terpenting gua sekarang tau. Gimana orang itu sebenernya.”

Cieee. Ok. Kalimat yang sungguh bijak. DidongchayankKmoe4Ever baru saja mengikhlaskan semuanya. Ciri dari orang yang kuat hati, mirip resi, mungkin sunan. Sedangkan di waktu yang bersamaan, di dunia nyata, Didong tengah diam terpaku di pojok kamar, menangis sambil sesekali membenturkan kepalanya ke tembok. Mengambil spidol marker, lalu menulis di tembok kamarnya dengan huruf kapital semua: KENAPA KAMU PERGI TINGGALIN AKU? AKU TAK RELA KEHILANGAN KAMU.

Emosi Didong sedikit mereda setelah mencorat-coret tembok kamarnya dan melahap lima potong roti bakar sisa semalam. Dengan air muka yang tenang, ia mulai mengetik lagi di status media sosialnya.

“Astagfirullohaladzim. Udah saatnya solat magrib, tuhan akan mendengar doa dari orang yang patah hati.”

Subhanalloh sekali. DidongchayankKmoe4Ever selain bijak juga soleh. Bukan pengemis cinta, berhati ikhlas, taat beragama serta rajin menjalankan syariat-syariatnya. Menyesallah sudah yang berani meninggalkannya, memang reaksi itu yang diharapkan Didong dari mantannya. Sementara DidongchayankKmoe4Ever sedang khusyuk solat magrib, Didong di dunia nyata malah asyik bermelankolia di atas secarik kertas bergaris merk sinar dunia, menuliskan surat patah hatinya. Begini isinya, “Gua udah ga sanggup, lebih baik gua ga hidup.”

Bunuh diri?! Ketika akun media sosialnya khusyuk mengakrabi tuhan, Didong di dunia nyata malah akan berbuat hal yang paling dibenci tuhan. Rencananya, Didong akan loncat bebas dari pasar baru lantai delapan, atau gantung diri di Taman Jomblo sebagai representasi kekecewaan terhadap cinta.

Didong bergegas keluar kamar, tak lupa membawa perlengkapan bunuh dirinya; surat terakhir yang disimpan dalam saku belakang jeansnya, tali yang cukup kuat untuk menggantung badannya, dan tentu saja mental yang tak utuh lagi.

Didong pergi, entah bagaimana akhir ceritanya, meninggalkan akunnya yang maha bijak terseret arus linimasa. [Candra]

Foto : towardsafuturetome.blogspot.com

 

Advertisements