Bandung Awal Revolusi (1945-1946)

bandung-awal-revolusiBuku ini memotret suasana kebatinan, suasana sosial pasca proklamasi 17 Agustus 1945. Sebagian besar isi buku hasil penelitian lapangan terutama wawancara ketika penulisnya tinggal di Bandung pada kurun waktu 1959-1961 atau 15 tahun setelah peristiwa. Beberapa bagian merupakan kunjungan penulisnya selama dua minggu ke Inggris dan Belanda, dua negara yang berhubungan pada awal revolusi.

Buku ini terdiri dari enam bab. Dua bab pertama adalah latar belakang sejarah yaitu , Bab Kesatu melukiskan kehidupan Kota Bandung pada masa kolonial Belanda serta Jepang dan Indonesia pada umumnya. Sedangkan Bab Kedua menceritakan peristiwa di Jakarta, Agustus 1945. Bagian inti dari Buku ini sebanyak empat bab sebagai berikut:

Bab III Agustus dan September 1945

Bab IV Oktober dan November 1945

Bab V Desember 1945 hingga Maret 1946

Bab VI Bandung Lautan Api

Pemilihan judul seperti di atas bukan tanpa alasan. Tentu saja peristiwa di awal revolusi di Bandung harus unik dan ada perbedaannya dibanding daerah lain. Contohnya Tentara Pelajar yang dibentuk di Bandung menginduk ke pasukan resmi pemerintah, berbeda dengan daerah lain yang mempunyai induk organisasi tersendiri. Sebagaimana diketahui dua tahun pertama paska kemerdekaan organisasi militer masih belum sempurna. Sampai peristiwa Bandung Lautan Api pun (maret 1946) di samping ada TRI (Tentara Repoeblik Indonesia) ada juga badan-badan perjuangan yang mempunyai struktur organisasi tersendiri. Keadaan seperti ini tentu saja dapat menimbulkan friksi di antara organisasi perjuangan, seperti saling melucuti antar laskar atau atau laskar dilucuti tentara resmi.

Sayangnya kampung “Babakan” yang menjadi salah satu obyek penelitian terutama dilakukan wawancara kepada para pelaku di awal revolusi tidak jelas di mana letaknya hanya disebutkan di Bandung Selatan. Buku ini bukan buku memori, tetapi merupakan kajian akademis oleh seorang sarjana yang menaruh perhatian pada kajian Asia. Oleh karena itu jangan harap membaca sebuah kronik perjuangan yang ceritanya mengalir seperti novel. Layaknya karya tulis buku ini dilengkapi catatan kaki yang lengkap, daftar sumber, dan indeks, sehingga memudahkan untuk studi literatur berikutnya. Pada edisi terjemahan ini foto ilustrasi ditambahkan dari buku buku yang terbit kemudian  “Album Bandoeng Tempo Doeloe” (Sudarsono Katam & Lullus Abadi, NavPress Indonesia). [Asep Suryana]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s