Sebuah Pengantar untuk Orang-orang yang Merasa Takut

gabungan

Jika harus berkata, “tak terasa Kelas Literasi sudah masuk pekan ke-60”, maka sia-sia saja. Jadi selama ini apa yang dirasa? Menjelang 60 kali bertemu muka, berarti 60 minggu atau setahun lebih sedikit, membahas rata-rata 10 buku setiap minggunya, lalu keduanya dikalikan, didapatlah angka 600 judul buku. Ya, anggap saja jumlahnya segitu. Jumlah yang besar? Tentu saja tidak, jika dibandingkan dengan jumlah seluruh buku yang ada di toko buku, para kolektor, perpustakaan, termasuk yang dibakar. Lagipula ini bukan soal matematika, bukan juga soal kuantitas, sekadar upaya melirik konsistensi dari salah satu kegiatan Komunitas Aleut bernama Kelas Literasi.

Kelas Literasi hari Sabtu besok (17 September 2016), akan membahas beberapa judul buku pilihan masing-masing peserta. Artinya, tak ada tema, alias bebas. Selama yang dipilih itu sebuah buku, maka sah-sah saja. Delapan orang yang telah mengonfirmasikan keikutsertaannya sampai kata pengantar ini dibuat, kedelapan orang itu akan membahas buku dengan judul yang berbeda, nama penulis yang berbeda, isi ceritanya pastilah berbeda, gambar sampul buku juga tentu berbeda, tebalnya pun beda, salah satu kesamaannya adalah: sama-sama dibaca.

Berikut buku-buku yang akan hadir dalam Kelas Literasi pekan ke-60: Negeri Salju (Yasunari Kawabata), Keluarga Tak Kasat Mata (Bonaventura Genta), Sampar (Albert Camus), The Trial Proses (Franz Kafka), Hanya Salju dan Pisau Batu (Happy Salma & Pidi Baiq), Cerpen Pilihan Kompas 2013 (Klub Solidaritas Suami Hilang), Hujan (Thee & Rien), dan Metropolis/Universalis (Eko Laksono).

Jika harus mengedepankan kesamaan buku-buku itu daripada membicarakan perbedaannya yang sudah jelas, tentu ada kesamaannya namun tidak mencakup semua. Absurditas Pidi Baiq dengan kalimat-kalimat pendeknya identik dengan gaya Camus. Atau jika dilihat dari aspek sastra sebagai sebuah gosip, Kafka dan Camus sama-sama TBC. Cukup itu soal gosip.

Jika boleh menarik benang merah di antara tumpukan interpretasi, semua buku-buku itu menceritakan tentang manusia yang terjebak dalam satu situasi yang tidak mereka inginkan, dan bagaimana respon mereka terhadap situasi tersebut. Seorang pria beristri yang menghadapi dilema karena jatuh cinta pada seorang geisha dalam “Negeri Salju”, anak muda yang terjebak di tempat berhantu dalam “Keluarga Tak Kasat Mata”, penduduk kota Oran yang terisolasi di kotanya sendiri karena wabah penyakit dalam “Sampar”, seorang pria yang diadili karena suatu kesalahan yang tidak diceritakan kepada pembaca dalam “The Trial”, dan sisanya bisa disimak dalam Kelas Literasi hari Sabtu besok.

Kelas Literasi terbuka bagi siapa saja, khususnya bagi orang-orang yang takut hidupnya sia-sia! Mari. [Candra]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s