Yang Tersembunyi dalam Cerpen “Klub Solidaritas Suami Hilang”

speed_paint_lost_town_by_egoplus-d5lczhh

Cerpen Klub Solidaritas Suami Hilang karya Intan Paramaditha, beberapa kali menerima penghargaan sebagai cerpen terbaik. Juga dibukukan dalam kumpulan cerpen pilihan Kompas, ditemani oleh cerpen-cerpen karya sastrawan lainnya.

Cerpen ini menceritakan tentang satu klub yang beranggotakan istri-istri yang kehilangan suaminya. Mereka berada di klub untuk menghidupi kehilangan dengan ceritanya masing-masing. Dengan kata lain, klub ini klub curhat. Cukup itu saja ceritanya. Klub ini klub curhat. Curhat tentang suami yang dipertanyakan keberadaannya, atau dirindukan ketidakberadaannya.

Ada beberapa hal yang menarik dalam upaya pencarian yang hilang dalam cerpen ini. Bukan mencari si suami, tapi mencari ada apa saja di balik cerpen ini sebagai sebuah tulisan yang menyimpan pesan. Kalau tidak menemukan pesan pun, ya setidaknya mengorek sedikit apa yang dianggap tersembunyi dari cerpen ini.

Pertama, adalah soal sudut pandang. Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang kedua, melalui kata ‘Kau’. Dari kalimat pembuka saja, sudah diputuskan oleh penulis, bahwa pembaca adalah tokoh utamanya.

“Berbaju hitam, semua orang termasuk dirimu duduk membentuk lingkaran. Kau mulai menghafal beberapa nama: Carmencita dari Meksiko, Soonyi dari Korea Selatan, dan Andy yang lahir di Boston.”

Kebanyakan cerpen, biasanya memakai sudut pandang orang pertama, melalui kata Aku, atau sudut pandang orang ketiga sebagai pencerita atau narator. Ketika sebuah cerpen menggunakan kata Aku, sebagai si pencerita sekaligus tokoh utama, maka sudut pandang pencerita tak akan mengalami banyak lika-liku. Aku di awal, utuh sampai Aku di akhir. Sama halnya dengan sudut pandang orang ketiga (narator).

Seperti disebutkan sebelumnya, cerpen Klub Solidaritas Suami Hilang menggunakan sudut pandang orang kedua, yang jarang dipakai dalam kebanyakan cerpen, meski bukan yang pertama. Keputusan untuk menggunakan sudut pandang orang kedua ini, akan menggeser sudut pandang itu sendiri. Sudut pandang orang kedua akan bergeser menjadi sudut pandang orang ketiga. Di beberapa paragraf jelas terlihat bahwa penulis menggunakan sudut pandang orang kedua, di paragraf lain, bergeser menjadi sudut pandang orang ketiga.

“Setelah meninggalkan Malang di tahun 60-an, ia tak pernah pulang lagi. Bertahun-tahun ia tinggal di Den Haag sebelum pindah ke California.”

Paragraf tersebut jelas tidak menggunakan sudut pandang orang kedua, tetapi sudut pandang orang ketiga. Inilah lika-liku sudut pandang, mungkin di buku-buku lain pembaca akan menghadapi jalan cerita yang lebih tidak sederhana soal sudut pandang. Namun dalam cerpen Klub Solidaritas Suami Hilang, pergeseran sudut pandang ini tidak serta merta menjadikan sebuah penceritaan menjadi kacau.

Telah disebutkan, bahwa tokoh utama dalam cerpen ini  adalah Kau. Tokoh Kau adalah yang mengalami jalan cerita, bagaimana tokoh Kau mulai bergabung menjadi anggota Klub, karena suaminya hilang. Perjalanan tokoh Kau ini diceritakan oleh sudut pandang orang ketiga (narator), yang berada di posisi sebagai pencerita. Narator berada di luar cerita, sampai muncul paragraf ini:

“Di Klub Solidaritas Suami Hilang, kita mengingat yang tak hadir lewat cerita berulang. Kita bisa berangkat dari titik mana pun, baik secara linear— dari awal pertemuan sampai hilangnya suami—maupun dengan alur mundur. Sebagian memilih teknik in medias res.”

Narator sebagai pencerita, tiba-tiba menggunakan kata Kita dalam paragraf di atas. Narator yang semula berada di luar cerita, ternyata berada sangat dekat dengan Klub Solidaritas Suami Hilang. Dengan kata lain, narator bisa jadi adalah salah satu anggota dari klub, dan tahu betul perjalanan tokoh utama Kau. Seakan-akan tokoh utama Kau hilang ingatan, dan diceritakan kembali perjalanan hidupnya oleh narator yang ikut terlibat dalam jalan cerita. Dalam paragraf ini, peran narator berubah dari pihak yang hanya sebagai pencerita menjadi salah satu tokoh dalam cerita.

Intan Paramaditha seakan-akan bereksperimen dalam hal sudut pandang. Ini salah satu yang menarik dan masih ada hal-hal menarik lainnya. Seperti tak semua anggota klub adalah istri yang berkelamin wanita, atau tak semua istri harus seorang wanita, terlihat dari kalimat berikut ini:

“Perenungan tentang masa tua memicu keputusan Andy menikah di Toronto (di tahun 2006 ini belum dimungkinkan di California).”

Penulis tidak gamblang menjelaskan bahwa tokoh Andy adalah seorang gay. Tetapi dijelaskan secara halus seperti kalimat di atas.

Hal menarik lainnya adalah tokoh Soonyi, yang mengaku kehilangan suaminya, dan kemudian setelah sekian lama berkata jujur bahwa ia telah sengaja menghilangkan suaminya. Pengakuan Soonyi ini pun terasa dibenarkan oleh pembaca untuk sementara, sampai ada satu dialog yang menyatakan bahwa Soonyi kerap meludah di fasilitas-fasilitas publik. Berperilaku meludah secara terus menerus karena merasakan hal yang tidak disukai seseorang, adalah tanda bagi penderita shizophrenia yang mengalami halusinasi gustatorik (pengecap). Halusinasi ini sangat jarang dijumpai. Jadi, apakah cerita tokoh Soonyi benar? Atau hanya halusinasi belaka?

Cerpen ini menyembunyikan beberapa hal yang menarik untuk diinterpretasikan ulang, sebagai bahan pembelajaran dan tidak menjadikan bacaan semata-mata sebagai hiburan. Atau barangkali, hiburan sebenarnya adalah interpretasi itu sendiri? [Candra]

Foto : egoplus.deviantart.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s