Tuan-tuan

tuan-tuan

Sekelompok orang tengah berkumpul mengitari meja bundar di suatu ruangan luas yang berdinding cat putih. Di tengah meja itu tergantung lampu kecil, terangnya redup hanya cukup menerangi luas meja itu saja. Di atas meja tersaji beberapa botol anggur merah dan gelas kaca. Masing-masing orang yang hadir mendapat jatah satu gelas kaca dan satu botol anggur merah.

Orang-orang itu memakai jubah hitam dengan penutup kepala. Berambut putih panjang, begitu pun dengan kumis dan jenggotnya. Keriput menghiasi wajah mereka. Sekilas, mereka mirip dengan pandir. Mereka dikenal dengan sebutan tuan-tuan.

Seluruh tuan berjumlah enam orang, satu di antaranya adalah Tuan Besar yang memiliki kewenangan untuk menjatuhkan keputusan, tentunya dengan melalui proses berunding terlebih dahulu. Tuan-tuan ini melakukan perundingan rutin di setiap penghujung tahun. Perundingan ini mereka namakan “Perjamuan Anggur”.

Anggur memang kerap dihidangkan di meja perundingan, mungkin karena itulah perundingan ini mereka namakan demikian. Orang yang setia menuangkan anggur pada tuan-tuan adalah seorang gadis muda, berkulit putih bersih, dan berparas cantik. Gadis muda itu menjamu para tuan dengan bertelanjang tubuh. Tuan-tuan memanggil gadis itu dengan sebutan Ophelia.

Tuan-tuan membahas semua hal yang ada kaitannya dengan dunia. Membicarakan projek-projek terbesar sampai yang terkecil, dari yang terburuk sampai yang terindah, dari yang merusak sampai yang memperbaiki. Kejadian-kejadian besar yang terjadi di dunia selama ini adalah hasil karya dari para tuan.

Musa yang menyebrangi laut merah, Nuh yang berbahtera, kematian Hitler, bahkan kisah Adam dan Hawa, malaikat, iblis, virus influenza, wabah pes, dan semua kejadian yang pernah tertulis adalah hasil dari perjamuan anggur.

Bahkan kisah Tuhan, para tuan ciptakan dengan perdebatan yang cukup seru. Saat itu, salah satu tuan mengabarkan di meja perjamuan bahwa manusia tengah mencari-cari siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan apakah penyebab dari akibat yang ia hadapi kini. Karena itu, Tuan tersebut mengusulkan untuk membuat suatu sosok yang dapat manusia yakini sebagai penyebab keberadaan mereka.

“Baiklah, mungkin ada masukan dari para Tuan yang lain?” Tuan Besar berkata penuh wibawa sambil mereguk anggur yang baru dituangkan Ophelia.

“Mohon izin bicara, Tuan Besar.” Tuan berkalung angkat bicara.

Tuan besar mempersilakannya dengan gerakan tangan.

“Setelah sekian lama manusia bungkam, dan hanya mengisi kesehariannya untuk mempertahankan hidup mereka, atau hanya sekedar mengagumi keindahan dunia lalu mencurahkannya di dinding-dinding gua, akhirnya tiba juga saat ini. Kita harus memberitahukan manusia, bahwa kitalah yang menentukan hidup mereka, kita adalah si penyebab yang manusia cari-cari sekarang ini. Bukankah memang begitu kenyataannya?”, ujar tuan berkalung dengan nada yang meninggi.

Begitu mendengar apa yang tuan berkalung ucapkan, beberapa tuan yang lain mengiyakan, beberapa yang lain bergumam sendiri, dan ada juga yang lebih memilih memusatkan perhatiannya pada kemolekan tubuh Ophelia.

“Harap tenang tuan-tuan…” Tuan besar mengakhiri keriuhan.

Lalu Tuan berkacamata tiba-tiba angkat bicara, “Kita tidak bisa melakukan itu, bukankah kita sudah sepakat pada awal pembentukan perjamuan ini, bahwa kita tidak akan memperlihatkan siapa kita sebenarnya, kita bergerak di bawah bayangan, kita bekerja di bawah tanah, yang mengetahui usaha kita biarlah kita sendiri. Memberi tahu manusia bahwa kita adalah si penyebab berarti melanggar kesepakatan awal kita. Dan apalah gunanya pengakuan dari manusia-manusia itu,” sanggah Tuan berkaca mata.

Meja perundingan kembali riuh ketika mendengar sanggahan dari Tuan berkaca mata. Beberapa tuan membolak-balik dokumen di hadapannya, beberapa bergumam sendiri, ada juga yang bermain mata dengan Ophelia.

Tuan Besar kemudian mencoba menengahi, “Mohon tenang tuan-tuan, baiklah, mari kita dengar pendapat dari setiap Tuan terlebih dahulu, silakan Tuan Bercerutu anda mulai terlebih dahulu, bagaimana menurut Anda?”

Tuan Bercerutu mengangguk, menghisap cerutunya dalam-dalam kemudian menjawab.

“Menurutku, manusia butuh objek lain di luar dirinya. Sesuatu yang tak terlihat mata, biarkanlah manusia bermain dengan ide-ide kreatif mereka untuk mewujudkan siapa objek ini. Kita hembuskan satu konsep yang merupakan awal dari semua yang ada di dunia ini. Sang penyebab, dan itu bukanlah kita.”

Tuan Besar mengangguk, mengernyitkan dahinya. Tampak berpikir keras dalam mencerna pendapat dari Tuan Bercerutu.

“Menurutmu apa maksudnya yang tidak terlihat? Aku sangsi bahwa manusia akan mempercayai bahwa objek yang tidak terlihat ini adalah sang penyebab dari semua yang ada di dunia ini. Bukankah manusia sangat mempercayai apa yang mereka lihat?” Tuan Besar bertanya pada Tuan Bercerutu.

“Anda benar Tuan Besar, manusia sangat percaya pada apa yang mereka rasakan melalui indera mereka. Karena itu mungkin sulit untuk membuat mereka percaya pada sesuatu yang tidak terlihat. Namun, setelah kupikir-pikir kita buat suatu dalih bahwa saking sucinya objek ini, maka manusia tidak mampu untuk melihatnya. Di sisi lain kita buat mereka percaya bahwa objek ini ada.” Tuan Bercerutu menjawab pertanyaan Tuan Besar sambil menggigit cerutunya yang setengah habis.

“Sebentar! Mohon izin berbicara..” Tuan Berkalung memotong pendapat Tuan Bercerutu.

“Bagaimana caranya agar manusia mempercayai objek yang tidak terlihat agar tampak ada? Lebih sederhana lagi, bagaimana jika objek tersebut dibuat dari batu atau apapun itu, yang tampak nyata oleh manusia. Bukankah itu lebih memudahkan manusia untuk mempercayai apa yang kau sebut sang penyebab?”

“Pada awalnya memang akan seperti itu. Manusia tidak akan bisa lepas dari indera yang menjebak ruh mereka. Namun, seperti yang aku katakan tadi, biarkan ide-ide kreatif itu muncul, aku yakin manusia akan membuat suatu alasan-alasan yang kuat agar mereka percaya pada suatu hal yang tidak terlihat.” Timpal Tuan Bercerutu.

Semua Tuan hening sejenak, lalu pandangan mereka tertuju pada Tuan Besar yang tengah menerawang jauh, sibuk dengan pikirannya.

Tuan Besar lalu angkat bicara, “Bagaimana menurutmu Tuan bertopi?”

Tuan bertopi yang sedari tadi lebih memperhatikan kemolekan tubuh Ophelia dan tidak terlalu memperhatikan jalannya diskusi, tampak kaget ketika diminta menyampaikan pendapat. Namun, kagetnya itu tak lama, sejenak kemudian ia tersenyum pada Tuan Besar seraya berkata.

“Jangan kira aku tak menyimak obrolan kalian. Kita akan menciptakan sang penyebab… hahaha” dia tertawa terbahak dalam kebingungan semua Tuan.

“Konsep ini sungguh menggelikan, tapi tak apalah. Sang penyebab, adakah nama lain untuk itu? Semua berpikiran bahwa ketika ada penyebab pastilah ada akibat. Namun tidak menurutku. Akibat tidaklah benar-benar ada. Akibat adalah sebab lain dari sebab itu sendiri. Sebab adalah penyebab dari sebab yang lain. Jika benar sebab akibat itu ada, maka betapa jahatnya kita.” Tuan Bertopi meneruskan bicaranya sambil tersenyum sinis.

“Aku setuju dalam hal itu Tuan Bertopi. Namun sekarang ini manusia tidak akan berpikiran jauh sampai ke sana.” Tuan Bertongkat angkat bicara.

“Ya, memang benar. Seperti apa yang tadi aku dengar dari Tuan Bercerutu. Biarlah ide kreatif mereka melengkapi kekurangan-kekurangan itu.” Tuan Bercerutu lekas menjawabnya.

Semua Tuan mulai mengangguk-anggukan kepala mereka, pertanda ada kejelasan dari perjamuan anggur kali ini.

Setelah perdebatan yang cukup panjang, maka Tuan Besar mengambil kesimpulan untuk menciptakan Tuhan. Tentunya dalam berbagai nama, mengingat Tuan Berkacamata menciptakan berbagai macam bahasa di setiap daerah yang manusia tinggali. Sebelum itu, manusia hanya menggunakan bahasa isyarat. Setelah kesimpulan dirumuskan, mulailah Tuan Besar membagi-bagikan tugas yang harus dilakukan oleh semua Tuan.

Tuan Bertongkat diberi tugas untuk membuat konsep tuhan sebagai sesuatu yang pantas untuk dipuja dan dipuji, konsep yang maha bijak dari segala hal yang bijak, dan maha-maha lainnya.

Tuan Berkacamata bertugas untuk membuat konsep ini bisa diterima manusia dengan mencari hal-hal ilmiah yang tersembunyi di balik konsep ketuhanan tersebut. Hal ini akan membuat manusia untuk lebih mudah percaya pada sesuatu yang tidak terlihat.

Tuan Bercerutu bertugas untuk membuat hukum sebab akibat bila tidak mempercayai Tuhan. Surga, neraka, dan segala penggambarannya adalah tugas yang harus diselesaikan Tuan Bercerutu.

Tuan Berkalung dan Tuan Bertopi diberi tugas untuk membuat kisah awal penciptaan manusia, yang pada akhirnya akan terkesan khayali dan imajinatif. Namun Tuan Berkacamata berusaha keras untuk membuatnya tampak ilmiah. Meskipun pada beberapa bagian tetap akan gelap.

Penciptaan Tuhan dikerjakan oleh semua tuan dengan seksama dan hati-hati. Tetap saja tidak dapat membuat diri manusia puas. Justru inilah yang akan menyebabkan perpecahan selama berabad-abad terus berlangsung. [Candra]

Foto : www.amazingwallpaperz.com

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s