pekan-ke-61-ultah-kota-bandung-ke-206

Apa yang akan kau berikan kepada yang sedang berulang tahun? Beberapa mungkin menjawab dengan sebentuk perayaan, berupa kado atau kejutan sebagai wujud sukacita atas bertambahnya (atau berkurang) usia. Remy Sylado tegas menyatakan hidup dalam judul novelnya, “Kita Hidup Hanya Sekali”. Bisa jadi mereka yang merayakan akan memaknai momen pengulangan tanggal itu bukan sekadar pertumbuhan deret hitung. Ada ruang waktu yang berjalan dinamis, tak hanya tumbuh, tetapi juga berkembang.

25 September Kota Bandung akan berulang tahun. Dan angka 206 bukanlah usia yang singkat. Sejak dipindahkannya ibu kota kabupaten dari Krapyak (Dayeuhkolot sekarang), ada perkembangan tata kota yang menyertainya. Sudarsono Katam pernah menjelaskan, misalnya, lapangan militer bekas rawa beralih fungsi menjadi Taman Insulinde (Nusantara), yakni salah satu kawasan kota dengan identitas jalan yang mengelilinginya berupa nama-nama pulau. Lapangan Citarum (Tjitaroemplein) beserta monumennya berubah dari masa ke masa—hingga akhirnya monumen tersebut dihilangkan, mempunyai keterkaitan yang erat dengan sejarah telekomunikasi pada masa Hindia Belanda.

Segala perubahan tentu disertai situasi sosial politik dan kehendak para pengampu kebijakan. Ini sama halnya dengan film “Loetoeng Kasaroeng” yang dianggap menjadi film cerita pertama di Indonesia dan berhasil diproduksi berkat dukungan dari Bupati Bandung saat itu, RAA Wiranatakusumah V. Melalui jejak film dan bioskop yang berdiri, Eddy Iskandar melabelkan Bandung sebagai tonggak sejarah film Indonesia. Begitu pula dengan upaya menjadikan Bandung sebagai Parijs van Java diterangkan oleh Ridwan Hutagalung dan Taufani Nugraha melalui berbagai bangunan dan arsitektur di sepanjang jalan Braga.

Turut serta merayakan hari kelahiran Kota Bandung, Kelas Literasi Komunitas Aleut pekan ke-61 (Sabtu, 24 September 2016) akan mencoba memandang dan memaknai ulang Kota Bandung dari perspektif literasi. Bukan hanya karena banyaknya teks yang membicarakan Bandung seperti beberapa contoh di atas, namun juga mengingat lagi ke belakang, bahwa Bandung sedari awal sudah menjadi pusat perbukuan yang ditandainya dengan maraknya toko buku, dan oleh karenanya menjadi pusat intelektual.

Bertempat di sekretariat Komunitas Aleut, yakni di Kedai Preanger Jl. Solontongan 20-D, Buahbatu, kami memang tak akan memberi kue tart beserta lilinnya. Kami hanya akan mencoba menjaga semangat literasi dengan merapal harapan pada tumbuh-kembang Kota Bandung. Mari bergabung! [Manda]

Advertisements