bunga-krisan

 

Aku sering lupa kalau ternyata kita sudah beda dunia. Sengaja aku selalu datang menjelang petang. Ketika langit berpendar menyalakan malam. Karena kurasa itulah waktu tersyahdu yang bisa kugunakan untuk mengajakmu “bertemu”. Heningnya. Semilir anginnya. Temaram senjanya. Sempurna. Aku bisa berlama mengajakmu bercerita.

Selayak sore itu, kedai bunga di Kota Baru sudah hafal apa yang harus disiapkan ketika aku datang. Sebuket krisan putih tanpa dirangkai. Sesekali aku meminta warna kuning. Biar kamu tak bosan. Terkadang saking baiknya, tukang bunga itu memberikan diskon. Hari itu dia memotong 5000 dari harga asli. Ya, lumayan.

Hai. Aku pulang lagi. Nampak sisa krisan sebelumnya masih ada. Kerontang dihantam terik setiap hari.

Hai. Aku pulang lagi. Rerumputan tampak subur merimbun di gundukan. Biar kucabut sekedar membuat “tempatmu” lebih rapih.

Hai. Ya, aku pulang lagi.

“Aku kemarin beli buku-buku baru. Lagi diskon di Gramedia. Agak kalap sih. Cuman ya gapapa lah ya. Kapan lagi. Tapi bingung kapan bacanya. Sekarang udah ga seintens dulu. Pulang kerja udah capek. Males dibawa mikir berat. Apa karena usia juga ya. Haha.

“Oh ya, kemarin teman datang ke rumah. Sempat nanyain sih aku udah ke sini apa belum. Terus dia banyak cerita tentang kedai kopi, jalan-jalannya ke Karimun Jawa, temannya yang meninggal belum lama, dan bapak ibunya yg habis touring ke Malang dengan vespa. Ah aku pun ingin. Tapi sekarang udah susah. Kakak udah nikah. Kemana-mana jadi sendiri. Ini aja tadi motor tante aku sengaja ambil buat kesana kemari.”

“Pohon mangga depan rumah sudah berbunga lagi lho. Aku jadi inget dulu pohon itu pernah kita ancam mau ditebang. Sengaja menggurat kulit kayunya dengan parang. Biar si pohon merasa terancam dan mau segera berbuah. Tapi benar dia jadi berbuah. Ternyata itu ada teorinya juga lho di dunia botani. Ada kawan pernah menyebutnya tapi aku lupa. Oh ya, tadi pagi waktu aku di teras, di dahan yang menjorok ke sawah ada bunyi cicit burung kecil. Kayaknya ada sarang pipit. Tapi aku ga liat di mana.”

“Aquarium kita pecah. Ga tau kenapa. Kakak ga cerita. Kayaknya ada terumbu yang runtuh dan kena kaca. Jadilah nemo-nemo itu ditaruh di toples-toples. Aku khawatir mereka ga akan tahan lama. Secara ga ada aliran oksigen ke sana.”

“Seharian tadi aku ngurus SIM. Perpanjangan tapi udah telat 6 bulan. Aku lewat jalur legal lho. Seriusan. Ikut test teori dan praktik. Tapi ujung-ujungnya gagal pas naik motor di angka 8. Jadinya bayar juga. Gapapa wes. Da gimana. Terlalu mepet waktunya kalau harus ngulang praktik lagi.”

“Oh ya, aku sekalian pamit ya. Selasa malam keretaku berangkat jam delapan malam. Mungkin Desember aku baru ke sini lagi.”

Seperti orang gila. Aku antusias bercerita. Bahkan sesekali tertawa. Berbincang pada dimensi yang berbeda. Tapi aku yakin kamu pun terduduk takjub seperti biasanya. Mata ikut berbinar menyimak setiap kata.

“Udah maghrib, aku pulang dulu Pak.” [Nurul]

Advertisements