atheis

Dunia dan kehidupan ini selalu kacau saja, padahal agama sudah beribu ribu tahun dipeluk manusia? Mengapa ketidakadilan dan kelaliman malah sekarang makin merajalela saja? –Rusli

Mungkin pertanyaan di atas akan terlintas dan terpikir secara terus menerus jika saya memposisikan diri sebagai Hasan, tokoh utama dalam Novel ini. Hasan adalah seorang pria yang mempunyai latar belakang agama yang saat taat, sejak kecil dibesarkan dalam keluarga yang alim dan lingkungan yang teramat agamis. Surga menjadi janji yang sangat nyata, dan neraka menjadi konsekwensi nyata terhadap dosa. Keduanya menjadi motivasi dan batas bagi Hasan sejak kecil.

Masa kecil di Garut, berganti oleh masa dewasa di Bandung. Ya, Bandung. Kota yang digambarkan dengan segala keindahan dan kebrengsekannya. Bandung, kota indah yang dibangun oleh Belanda serta kemolekan para pelacur yang siap melayani siapapun pelanggannya. Bandung juga kota pendidikan, kota yang melahirkan banyak pemimpin, kota ini juga yang membesarkan paham-paham radikal. Kota Bandung, menyuguhkan kemodernan hidup dan berpikir.

Hasan yang fanatik pada agama, berusaha untuk mengabaikan lambayan dan godaan Kota Bandung. Ia membulatkan tekad untuk terus memegang teguh agama dan tarekat kedua orang tuanya. Hasan bukan hanya menjalankan ibadah wajib sebagai orang beragama namun juga melaksanakan ibadah yang diharuskan oleh kalangan tarekatnya yang terkadang mengganggu kehidupan pribadinya karena bentuk ibadah yang sulit dan berat dijalankan.

Suatu ketika Hasan bertemu dengan Rusli, seorang teman lama ketika masih di Garut dan ia memperkenalkan Kartini sebagai adiknya. Rusli orang yang sangat modern dan memiliki pengalaman perjalanan hidup yang luar biasa. Ia kerap berpindah tempat tinggal, hingga pernah sampai ke Singapura. Perjalanan hidup Rusli penuh dengan pergaulan dengan kaum aktivis kemerdekaan. Rusli seorang aktivis yang banyak mengenal perkembangan dunia dan ia memilih Marxisme sebagai landasan idiologinya, juga baginya, Tuhan tidak ada dalam kamus hidupnya.

Dengan latar waktu tahun 1940-an, penulis memperlihatkan situasi para aktivis pada saat itu yang banyak menyerap ideologi selain ideologi keagamaan yang dianggap sudah usang. Para pengikut agama dianggap sebagai orang yang kolot dan orang yang tidak mau maju. Jika seseorang ibadah, maka akan jadi bahan olok-olokan. Ideologi serapan dari filsuf-filsuf Eropa seakan akan menjadi identitas yang membanggakan.

Dalam perjalanannya Hasan menjadi bagian dari orang-orang ini, persahabatannya dengan Rusli membawa keraguan tentang apa yang ia anut, apa yang ia sembah dan ibadah-ibadah yang selama ini ia lakukan. Bahkan pertemuannya dengan Kartini membuat dia perlahan jatuh pada cinta, cinta yang membuat setiap ibadahnya menjadi kurang khusyuk. Kartini juga yang mendapatkan dekapan pertama Hasan, juga ciuman pertamanya, dosa yang dinikmati oleh Hasan.

Dalam pergaulan Hasan dengan kaum aktivis, ia juga berkenalan dengan Anwar seorang teman Rusli yang menganggap Tuhan adalah dirinya sendiri. Anwar seorang yang sangat terbuka, berangasan dan kadang hidup sesukanya tanpa memikirkan orang lain. Ia orang yang berpendidikan, berwawasan, sehingga menjadi hal mudah bagi dia diterima dalam satu pergaulan. Hasan tidak terlalu suka terhadap Anwar, selain karena Anwar orang yang sulit diatur dan berangasan, juga karena Anwar terlalu dekat dengan Kartini. Api cemburu Hasan membuat semuanya lebih buruk.

Ketika keimanan Hasan kian meredup, ia datang ke kampung halamannya di Garut bersama Anwar. Hasan sudah meninggalkan ibadahnya, ia melakukan ibadah kembali hanya ketika berada di hadapan orang tuanya, kontan hal ini menjadi bahan olok-olokan Anwar. Ada satu peristiwa di kampung halamannya ini, yang merupakan klimaks dari ketidakpercayaan Hasan terhadap ekistensi Tuhan. Beberapa adegan yang disuguhkan sangat memilukan, bahkan sangat menyedihkan karena adegan yang dipertunjukkan bukan hanya perpisahan Hasan dengan Tuhan namun juga dengan Orang tuanya, keluarga yang pernah membanggakannya karena ilmu agama Hasan yang sudah tinggi.

Sepulang dari Garut, Hasan menikahi Kartini. Pernikahan yang penuh dengan cobaan, pernikahan yang mempersatukan antara kebebasan yang Kartini anut dan keinginan Hasan yang selalu dilayani. Kartini mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Hasan, kekerasan diterima oleh Kartini bukan hanya karena kebebasan yang dituntut olehnya namun juga perilaku Anwar yang selalu merongrong keadaan rumah tangga mereka. Perceraian pun tak bisa dihindarkan. Dan kepulangan Hasan kepada orangtuanya untuk mengadu tak mendapat respon baik. Hingga ajal ayahnya datang, Hasan tidak mendapatkan maaf.

Tekanan terus bertubi dalam hidup Hasan. Apakah ia kembali menjadi orang alim? Atau selamanya menjadi seorang Atheis? 4,25 dari 5 bintang untuk “Atheis”! [Tegar]

 

Advertisements