Trilogi Insiden: Ikhtiar Seno Melawan Lupa

trilogi-insiden

Sejarah itu bukan hanya catatan tanggal dan nama-nama, Florencio, sejarah itu sering juga masih tersisa di rerumputan, terpendam dalam angin, menghempas dari balik ombak. Sejarah itu, Florencio, merayap di luar kelas, kini kalian harus mempelajarinya.

/1/

Barangkali Seno berlebihan. Waktu menerima penghargaan Anugerah SEA Write Award di Thailand, dia menulis: “Paduka Yang Mulia Putra Mahkota Thai Vajiralongkorn. Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk  mengetahui harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepakbola, membaca karena ingin tahu berapa persen discount obral di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca sub-title opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekadar hiburan. Sementara itu, bagi lingkaran eksklusif kaum intelektual di negeri kami, apa yang disebut puisi, cerita pendek atau novel, barangkali hanya dianggap mainan remaja saja.”

Seno memang bukan seorang peramal masa depan, sebab beberapa tahun setelah dia menulis paragraf tersebut; “Supernova”, “Laskar Pelangi”, “5cm”, dan “Negeri 5 Menara” meledak di pasaran. Masyarakat negerinya ternyata tidak sepenuhnya seperti yang dia risaukan. Bahkan buku kumpulan puisi karya Chairil Anwar, setidaknya sampai tahun 2006, telah naik cetak sebanyak tujuh belas kali. Meskipun demikian, kita akhirnya bisa memaklumi kerisauannya, sebab Seno menulis hal tersebut di era ketika bacaan sastra tiarap dari segi peredaran dan penjualan. Bermula dari sini kita bisa menilhat kembali apa yang telah dikerjakan Seno beberapa waktu ke belakang.

Tahun 1991 peristiwa Santa Cruz meletus. Militer Republik Indonesia menembaki rakyat Timor Timur yang tengah bergerak dalam iring-iringan menuju sebuah permakaman di kota Dili. Semua media tiarap, yang berani bicara langsung dibabat. Di titik inilah Seno menyiasati fakta dengan fiksi.

/2/

“Pada hari libur aku menulis puisi / Menyiram bunga mawar / Bicara dengan kura-kura / Lantas tidur siang / Pada hari libur / Kulupakan Timor Timur / Berpura-pura tak sedih / Lantas bermimpi jadi Jenderal”—(Improvisasi untuk Lagu Penguburan, 1 Januari 1992)

Seno sedang bekerja di majalah Jakarta Jakarta ketika peristiwa Dili terjadi. Suhu politik di provinsi termuda itu (sebelum lepas setelah referendum) sedang memanas. Seruan untuk merdeka dan melepaskan diri dari cengkraman RI begitu kencang. Para demonstran yang bergerak ke sebuah permakaman terus menerus meriakkan, “Timor Leste…Timor Leste…”, sambil beberapa orang membawa bendera yang kelak menjadi bendera resmi negara Timor Leste. Tentara bersiaga. Tapi tidak melakukan apa-apa. Terkesan membiarkan saja para demonstran tersebut. Namun ketika para demonstran sampai di komplek permakaman, tentara kemudian berbicara lantang dengan senjata.

Jakarta Jakarta melaporkan kisah para saksi mata peristiwa tersebut. Seno yang waktu itu menjabat sebagai redaktur pelaksana, beberapa waktu setelah meloloskan peristiwa Dili tersebut, langsung diberhentikan. Jelas, bahwa pemberhentiannya adalah untuk membungkam usahanya dalam mengungkap fakta seputar peristiwa berdarah tersebut. Mari kita baca salah satu laporan saksi mata yang dimuat di Jakarta Jakarta:

“Tentara yang tidak pakai baju dan bawa senjata mesin, langsung menembak ke arah demonstran. Jarak tembak kira-kira 10 meter. Lama tembakan 5 menit. Orang-orang yang di depan roboh semua kena tembak. Saat itulah, tentara yang berseragam lengkap dan bawa sangkur mulai turun dan memeriksa mana yang masih hidup, dengan cara ditendang-tendang pakai kaki. Yang kelihatan masih bergerak dan masih hidup ditusuk pakai pisau. Saya menyaksikan kekejaman mereka kurang lebih 10 menit, sampi saya dibentak oleh komandannya untuk segera keluar dari daerah tersebut. Saya segera meninggalkan Santa Cruz, tidak lama kemudian (sekitar 3 menit), terdengar lagi tembakan kedua, tidak lama sekitar 2 menit saja. Saya kira yang luka saja 200 lebih.” (“Pandangan Mata Saksi Tragedi” dalam Cerita dari Dili, rubrik “Gong!” Jakarta Jakarta No. 288, 4-10 Januari 1992, hlm. 98-99)

Ketika diberhentikan dari Jakarta Jakarta, Seno telah bekerja 15 tahun sebagai wartawan dan 18 sebagai penulis cerpen. Kenyataan ini tentu menjadi modal bagi Seno untuk bersiasat, yaitu mengungkapkan fakta dengan gaya menulis fiksi. Maka kemudian lahirlah “Saksi Mata”, yaitu kumpulan cerita yang berisi 16 cerpen. Isinya begitu mengiris, bahkan cenderung sadis. Meskipun dengan menghadirkan tokoh-tokoh rekaan, tapi tetap saja aroma pembantaian Dili begitu kuat tercium, juga insiden-insiden lain yang terjadi di Timor Timur sepanjang konflik antara RI dengan provinsi bekas jajahan Portugis tersebut.

Saya kutip dari cerpen “Pelajaran Sejarah” :

Kanak-kanak itu menunggu sambil bertopang dagu, tapi dengan mata yang tiada pernah lepas dari Guru Alfonso. Maka, Guru Alfonso pun berkisah. “Pada suatu hari, delapan tahun yang lalu…” Maka angin pun bertiup mengembuskan gelombang sejarah. Kanak-kanak itu mulai terpesona. Mereka dihanyutkan sebuah dunia tempat debu bertebaran, peluru berhamburan, darah bermuncratan, dan air mata menetes, tapi mulut terkatup dengan geram. Sebuah dunia tempat ibu-ibu kehilangan anaknya, anak-anak kehilangan orangtuanya, kaum wanita dilecehkan dan diperkosa, seorang pemuda berteriak : “Viva…!!” dan terbungkam dengan darah mengalir dari telinga, yang kemudian dipotong oleh tentara.

Jika dalam “Pelajaran Sejarah” pilihan katanya begitu vulgar dengan aroma kengerian, maka dalam cerpen yang lain yang berjudul “Kepala di Pagar Da Silva” kita akan menemui sesuatu yang lebih ngeri lagi. Waktu menulis cerpen-cerpennya, barangkali Seno tidak sedang ingin mengumbar aroma kekejaman, tapi bisa jadi karena kesulitan untuk menggambarkan peristiwa yang sebenarnya dalam  semesta kata-kata. Juga, bukankan dia di wilayah jurnalistik sudah dibungkam dengan cara-cara kerdil? Lalu kenapa di wilayah sastra dia harus tunduk dan takluk? Ya, Seno memang menolak tunduk.

Dia melekatkan fakta dalam karya fiksinya. Dan memang sejatinya buku ini adalah usaha Seno untuk menyelamatkan fakta yang tidak bisa bergerak bebas dalam bingkai jurnalistik, lalu dia berbicara lewat sastra. Karena seperti katanya, “Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Buku sastra bisa dibredel, tapi kebenaran dan kesusastraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tertahankan.”

Buku trilogi ini terdiri dari “Saksi Mata” (kumpulan cerpen), “Jazz, Parfum, dan Insiden” (Novel), dan “Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara” (kumpulan essai), yang sebelumnya sempat terbit sendiri-sendiri. Penggabungan dalam satu buku ini diniatkan oleh penerbitnya untuk menyambungkan benang merah dari karya-karya Seno tentang tragedi berdarah di Timor Timur. Dan lebih dari itu semua, karya ini kiranya adalah usaha Seno Gumira Ajidarma untuk melawan lupa. [irf]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s