Judul: Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta (Jilid I, II, dan III)
Penulis : A. Heuken S.J.
Penerbit: Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta
Tahun : 1999, cetakan I

Saya sangat tertarik dengan semangat penulisan buku ini. Pertama, buku ini menyajikan sumber-sumber sejarah tentang Jakarta dalam bahasa aslinya, kemudian diterjemahkan. Peminat sejarah seperti saya yang tidak memiliki latar belakang disiplin Sejarah dapat meneliti dan menarik kesimpulan sendiri. Naskah-naskah itu bukan hanya milik ahli sejarah. Banyak sumber yang saya butuhkan mengenai naskah kuno tentang Jawa Barat ada di dalamnya. Mengapa? Karena Jakarta atau Sunda Kalapa dahulunya adalah bagian dari Kerajaan Sunda. Hingga awal kemerdekaan, Jakarta adalah bagian dari Provinsi Jawa Barat.

Kedua, mengapa buku ini dibagi menjadi tiga jilid? Karena kalau dibuat dalam satu jilid akan tebal dan mahal sehingga tidak terjangkau oleh peminat sejarah dengan anggaran terbatas. Tetapi dengan dibagi menjadi tiga jilid, orang dapat membeli dengan mencicil, itu juga yang saya lakukan.

Pembagian jilid sbb :

Jilid I : Dokumen-dokumen sejarah Jakarta sampai dengan akhir abad ke-16

Jilid II: Dokumen-dokumen sejarah Jakarta dari kedatangan kapal pertama Belanda (1596) sampai dengan tahun 1619

Jilid III: Sumber-sumber sejarah pada dasawarsa pertama kota Batavia (1619-1630) dan kutipan dari karya sastra Indonesia yang menyangkut awal mula Jakarta

Susunan dokumen adalah naskah asli, terjemahan, kemudian komentar penulis, dan kepustakaan. Dengan demikian peminat sejarah sangat beruntung apabila dapat mengerti bahasa aslinya. Naskah dari berbagai bahasa yang tidak dimengeti penulis diserahkan penerjemahannya kepada ahlinya. Tidak mudah memang menerjemahkan kosa-kata dan aturan bahasa yang hidup berabad-abad lampau. Kepustakaan yang disertakan sangat membantu peminat dan pemerhati sejarah Jakarta bila ingin studi lebih lanjut.

Sebagai peminat sejarah Sunda, saya sangat beruntung mendapatkan salinan naskah Summa Oriental (1513-1515) catatan perjalanan Tome Pires yang di dalamnya ada catatan tentang Kerajaan Sunda. Naskah asli yang berbahasa Portugis diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

Kemungkinan kesalahan dalam penerjemahan dan penarikan kesimpulan bisa saja terjadi. Oleh karena itu pula buku ini bersifat terbuka. Saya mengharapkan ada lagi buku-buku yang mengupas naskah-naskah kuno Nusantara seperti ini. Agar para pemilik dan ahli di bidang naskah kuno dan sejarah tidak “ngakeukeuweuk” (Sunda, menyimpan untuk kepentingannya sendiri) naskah-naskah tersebut. Sebab benda dan jiwa dari naskah tersebut merupakan warisan bangsa yang harus dikemukakan kepada pewarisnya. [Asep Suryana]

Advertisements