Manda, Bunga Para Hama

allamanda

Alkisah ada sekuntum bunga. Bukan bunga mawar, juga bukan bunga-bunga penghias lain semacamnya. Ini bunga bernama latin Alamanda Thevetifolia, orang-orang mempermudah sebutannya menjadi Manda saja.

Bunga Manda, warna mahkotanya tak tentu, berganti-ganti setiap hari. Harumnya juga tak tentu, kadang wangi sabun, kadang wangi parfum, kadang juga wangi deodoran, bahkan pernah juga tak berbau sama sekali. Durinya tajam, tapi malu-malu. Mahkotanya akan menguncup tak mengenal waktu, mekarnya tiba-tiba tak terduga. Bunga ini rumit, sehingga para ahli bunga sulit mengambil kesimpulan dari penelitiannya. Sejauh ini, hanya satu hal yang mampu mereka kenali dari bunga rumit ini, yaitu hama-hama yang kerap mengerubutinya tak terhitung jumlahnya.

Setiap saat, hama-hama yang buruk rupa itu kerap mengerubungi, merayap di antara sela-sela kelopak, atau berdiam diri di antara duri-duri, ada juga yang membuat sarang persis di sebelah bunga Manda tumbuh. Entah apa yang membuat hama-hama itu betah berada di sekeliling bunga Manda, mungkin karena warna dan aromanya yang tak tentu, membuat hama-hama penasaran apa yang bisa mereka hisap dari bunga rumit ini.

Para ahli bunga khawatir, hama-hama akan mengganggu keberlangsungan hidup bunga Manda. Karena itu, mereka kerap menggunakan berbagai macam pestisida untuk mengusir hama-hama pergi. Alih-alih akan bersih dari hama, justru hama-hama itu malah bertambah banyak. Para ahli bunga menyerah, lagi pula sepertinya bunga Manda tak terganggu dengan adanya hama-hama itu. Para ahli berasumsi bahwa bunga Manda hidup dari hama-hama, membentuk satu ikatan emosional yang tidak normal, inilah temuan baru di dunia flora bahwa bunga juga tidak mau kesepian.

Kabar tentang bunga Manda tersebar ke seluruh dunia, lalu sampai juga di telinga seorang ahli bunga dari Kampung Gekbrong di pedalaman Cipeuyeum, bernama Profesor Cingcaleupeu: master of flower. Ia sungguh tertarik ihwal fakta-fakta yang menyelimuti bunga Manda, dan berencana untuk mendatangi langsung ke tempat bunga itu tumbuh.

Singkat cerita, setelah melalui berbagai macam rintangan di perjalanan dan gonta-ganti angkutan, sang profesor tiba di lokasi bunga Manda. Ternyata lokasi itu sudah menjadi tempat wisata, para petani beralih profesi jadi tukang parkir, penjaja makanan dan membuka rumah makan. Untuk melihat bunga Manda dari dekat harus membeli karcis terlebih dahulu, tiga ribu limaratus rupiah per jam, dengan aturan tak boleh menyentuh dan tak boleh bawa makanan dan minuman dari luar. Bunga Manda dan hama-hamanya dipagari kawat berduri, dipisahkan dari lingkungan sekitarnya, dijadikan kepentingan, diobjekkan sebagai pemuas rasa keingintahuan.

Kenyataan tersebut tidak membuat niat Prof. Cingcaleupeu untuk meneliti bunga Manda surut. Memang agak tidak nyaman, tetapi atas nama ilmu pengetahuan ia tak patah arang. Berminggu-minggu mondok di rumah warga sekitar, agar setiap hari bisa mengungkap misteri di balik bunga Manda.

Sudah hampir tiga bulan ia meneliti bunga Manda, tapi tak membuahkan satupun kesimpulan. Kertas laporan penelitiannya masih putih bersih. Ia bingung, lalu mengambil pensil tumpul dan mulai menuliskan sesuatu. “Pada akhirnya, mau tak mau setiap bunga yang tumbuh pasti akan layu.” Prof. Cingcaleupeu segera berkemas, lantas pergi mendapati dirinya yang klise. Di perjalanan pulang, ia justru memikirkan bagaimana nasib para hama nanti. [Candra]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s