Angin hanya berembus pelan. Tak terdengar suara desiran. Pun goyangan rerumputan. Langkah ini ragu untuk dilanjutkan. Tapi hasrat menyuruh tetap jalan ke depan. Maka kunci itu pelan kumasukkan ke lubang pintu. Agak seret dilapis karat.

Pintu telah sempurna terbuka dan aku tengah berdiri menghadap ruangan hampa. Ada dua lemari dengan cermin di bagian pintunya. Sempurna memantulkan bayangan ruang dengan aku tersorot di salah satu retakannya.

“Dari mana saja dek?” suaranya dingin membuatku seketika bergidik. Mirip sekali dengan suara ibu tiap aku pulang terlampau larut.

Lantas sunyi lagi. Kuputar pandang ke sekitar. Kosong. Akupun melangkah jauh ke dalam. Mengabaikan suara-suara entah apa yang seketika diam. Mata begitu tekun menjengkal dinding. Di satu titik ada banyak coretan bekas anak kecil belajar menulis, beberapa tapak tangan bekas si empunya rumah, atau bingkaian foto yang tergantung di dinding.

“Cepat lepas sepatunya, ganti baju, cuci tangan terus makan” lanjut suara itu.

Akupun diam. Mencoba menahan keinginan lari ke luar. Beberapa kali malah terdengar suara tawa mirip seperti yang selalu Bapak lakukan ketika ia menonton acara televisi. Lalu suara musik keras dari kamar depan sebelah kanan. Mirip dengan musik kesukaan kakakku kala itu.

Kuraba tembok itu lembab. Pertanda air hujan merembes ke dalam. Foto-foto di dinding itu satu persatu kuamati lagi. Potret anak kecil bergandengan dengan kakaknya menatap ke arahku. Lalu dari jauh terdengar tapak kaki seseorang berlari mendekat, dan prraaangg! Sesuatu jatuh dan pecah.

“Ibu kan udah bilang, kalau di dalam rumah jangan lari-larian! Kalau vasnya yang pecah bisa beli, kalau kakimu yang patah gimana? Di toko nggak ada yang jual!” suara mirip ibu itu kembali muncul. Di sela suara anak kecil yang menangis kesakitan.

Selewatan. Hanya sepersekian menit suara-suara itu bermunculan tanpa urutan. Aku masih berdiri di tengah sebuah kamar. Sembari tersenyum mengolah imaji yang dicipta sepi.

Rumah ini memang tak lagi berpenghuni. Tapi gaung percakapan masa lalunya masih terdengar dan diserap dinding-dinding lembab. Hidupku pun terpatri di tiap sudutnya. Langkah kaki sedari kecil menapak tiap jengkal lantainya. Pun setiap benda yang tersisa, mereka memantik memori-memori yang selama ini dilupa. Hanya karena satu gambar stiker di lemari, rentetan cerita kembali muncul dalam ingatan. Atau hanya karena tapak tangan di dinding, kesedihan di masa itu kembali muncul ke permukaan.

Maka rumah ini tetaplah rumah. Dia tersingkir dimakan usia. Gempa 2005 lalu yang memorak-porandakannya. Ia kini tak lebih dari bangunan yang siap runtuh kapan saja. Meski kisah kehidupan di dalamnya akan kokoh mengarung masa. [Nurul]

 

Advertisements