akay

“Nah, kalau ini dulu bercita-cita ingin jadi pemain Persib junior,” begitu ucap seorang kawan baru memperkenalkan dia. Saya hanya mengulurkan tangan sambil berkata, “saya kira anggota Koboi Junior”. Dia hanya mengeluarkan tawa khasnya sambil menyebutkan nama, “Akay”.

Setelah perkenalan itu, acara Kelas Literasi yang diadakan oleh Komunitas Aleut pun berlanjut. Dan Akay yang mengawali acara itu dengan meresensi buku berjudul Awal dan Mira karangan Utuy T. Sontani.

Entah kenapa saat itu dia seperti gugup dan berbicara dengan terbata-bata, dan sampai saat ini saya masih belum sempat juga menanyakannya kenapa ia berlaku seperti itu.

Dan kalau ditanya kenapa saya masih mengingat kejadian tersebut, jawabannya bukan karena terpesona dengan Akay yang saya kira salah satu anggota Koboi junior, tapi karena dari sanalah mulai ada perasaan ingin lebih dalam lagi mengenal Komunitas Aleut, sampai akhirnya saya “terjerumus” dengan kegilaan-kegilaan mereka dan tidak bisa move on, duh.

Saya sempat berbincang dengannya tentang pengalaman bergabung dengan Komunitas Aleut, dan kalimat pertama yang dia utarakan, “urang salut ka manéh, wani langsung gabung di Kelas Literasi”. Dia berkata begitu karena dia bergabung dengan cara pura-pura membeli minuman di Kedai Preanger, dan meminjam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe karangan Haryoto Kunto, saat itu pula dia melakukan pengakuan bahwa buku yang dia pinjam tersebut tidak dibaca.

Semakin lama saya mengenalnya, saya semakin tahu kebiasaannya, termasuk masalah tidur. Dia ini termasuk orang yang gampang sekali tidur, jangankan ada tempat luas untuk merebahkan diri, kursi dan bahkan kolong meja pun bisa dia jadikan tempat tidur. Jadi jika ada yang mau memperkosanya, saya kira tidak perlu bersusah payah memberinya obat tidur, cukup kasih bantal dan perkara selesai.

Tapi kalau saja ada sesuatu yang sedang dia kerjakan, maka begadang semalam suntuk pun bisa ia jalani sampai pekerjaan tersebut selesai. Pernah sekali waktu kami—saya dan Akay menginap di Kedai Preanger, dan saya bertanya, “tumben belum tidur, Kay ?” dia jawab “lagi bikin lamaran”. Saat itu dia berencana akan resign dari tempat kerjanya, mulai dari sana obrolan kami berlanjut hingga menjelang adzan subuh.

Saat itu kami berbagi tentang pengalaman kerja masing-masing dan juga penghasilan yang didapat, dan dari sana pula saya tahu bahwa dia pernah bekerja di bidang telekomunikasi. Sebelum obrolan itu saya merasa sudah cukup mengenal dia, tenyata saya salah besar. Saya hanya sedikit tahu tentang dia. Di balik semua tingkahnya yang kadang membuat kami–para penggiat Komunitas Aleut terpingkal-pingkal, atau tawa khasnya yang kadang memancing kami tertawa juga, Akay memiliki keresahan yang bisa ia tutupi dengan semua itu, keresahan yang mungkin dirasakan oleh sebagian banyak orang, hingga memunculkan pertanyaan dalam diri saya kapankah sistem ekonomi ini berpihak pada kaum kecil seperti kami.

Namun di balik semua kisah itu, dan mungkin tanpa ia sadari: saya sebagai teman mengaguminya. Kagum karena dari dialah saya belajar tentang mensyukuri apa yang didapat dan dialah salah satu motivasi saya untuk mencoba menulis, karena dia sangat produktif munulis di—salah satunya: blogakay.wordpress.com walaupun mungkin kerjaan dia sedang banyak dan ruang yang memberi inspirasi sangat sempit. Serta bagaimana dia dapat tertawa lepas walaupun beban hidup mungkin sudah menunggunya di depan sana.

Jadi Kay, terimakasih telah memberikan salah satu bekal dalam saya menjalani hidup ini, dan tetaplah berikan tulisan-tulisanmu yang membuat kami tertawa, dan tetaplah keluarkan tawa khasmu itu supaya saya bisa menertawakan tawamu itu. [Agus]

Advertisements