Dea

7ee0e83e-7a54-42d5-83ad-7832fa1fe01a

Apa yang akan kamu lakukan jika kamu mempunyai teman yang lumayan cantik, lumayan pintar, sedang berusaha untuk lulus S2, menyukai film dan kopi, tapi jauh dari keluarganya?

Jika pertanyaan itu ditujukan kepada saya, dengan tegas saya akan menjawab: Mulai mempertimbangkan untuk TIDAK memacarinya.

Bukan, bukan karena saya minder karena ke-lumayan-an cantiknya, bukan pula minder karena ke-lumayan-an pintarnya. Untuk hal-hal seperti itu mungkin saya masih bisa menyiasati. Namun ada alasan yang paling mengganggu, alasan itu adalah: karena saya tidak bisa mendekati keluarganya secara intens. Selesai. Hahaha…

Alasan itu pula yang sampai saat ini saya pegang teguh saat perempuan idaman yang berada di Tangerang tak jua saya pacari. Walaupun sampai saat ini saya selalu berdoa semoga alasan saya itu bisa runtuh.

Sudah, kita tinggalkan Tangerang, sekarang kita kembali ke Bandung yang kerap kali menjadi kota yang bersahabat. Kali ini Bandung tak hanya bersahabat bagi saya, tapi juga untuk orang yang merantau seperti teman saya itu, teman saya yang pintar, suka kopi dan film itu. Perkenalkan: Dea.

Untuk saya pribadi, Bandung banyak mempertemukan saya dengan berbagai macam orang, juga dengan berbagai banyak wadah untuk mengisi hal-hal yang saya sukai, salah satu wadah itu adalah Pustaka Preanger. Siapa sangka, beberapa hasil coretan saya terpampang di sini, termasuk tulisan yang sedang kamu baca ini. Selain itu, seperti yang saya bilang tadi, saya juga kadang dipertemukan dengan orang-orang baru, Dea adalah salah satunya. Perempuan Jember ini menjadi teman baru saya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun ke belakang. Saya dipertemukan dengannya di Komunitas Aleut.

Pertama kali melihat sosok Dea, tak terbersit sedikit pun jika saya akan diberi keberanian untuk menulis tentangnya. Mungkin, banyak pertemuan dengannya yang mendorong saya untuk memberanikan diri bercerita. Kalau benar begitu, sering-seringlah bertemu. Supaya saya semakin rajin menulis tentangmu, Dea 🙂

Kesan yang saya tangkap pada perjumpaan pertama dengannya adalah bahwa dia sosok yang tak banyak bicara, pemalu, namun terlihat cerdas. Sesekali senyumnya berhasil membuat saya mengarahkan pandangan ke wajahnya.Tapi tak lama, saya sendiri justru yang merasa tak kuat. Rasa malu dan geer itu justru malah menyerang balik saya, jadi ya mendingan seperlunya saja.

Saya tak terlalu mengenal sosoknya lebih jauh. Satu-satunya “kedekatan” saya dengannya adalah saat saya memboncengnya ke Pangalengan. Walaupun sepanjang jalan kami bercerita ngalor-ngidul, tetap saja saya gugup.

Tak hanya sekali, karena kami berada dalam satu komunitas yang sama, kami beberapa kali pergi bareng. Lain dari itu, yang paling saya ingat adalah saat kami berfoto di –lagi-lagi daerah Pangalengan, tepatnya di depan Pabrik Teh Kertasarie. Entah kenapa saat itu saya merasa punya keberanian untuk berfoto bersamanya.

Saya perlu sedikit meralat, saya yakin tak hanya saya yang tiba-tiba berani bicara tentangnya. Suatu saat, entah kapan, saya juga yakin dia akan membicarakan saya. Walaupun di tempat yang berbeda. Setidaknya jika kelak dia memiliki buahhati, saya yakin dia akan menceritakan sosok saya kepada anaknya. Karena bersama saya dia memiliki memori cukup indah 🙂 Ya, saat kami mengikuti lomba menulis yang diadakan di daerah Bandung Utara sana, dia termasuk ke dalam 100 penulis yang hasil tulisannya dibukukan. Kelak dia akan bercerita kepada anaknya. Kira-kira begini bunyi cerita kepada anaknya:

“Nak, salah satu judul di buku itu nyaris nggak ada, soalnya Mama berniat mengundurkan diri setelah tabrakan kecil. Untung ada Om Akay yang memberi ide-ide segar di tengah pikiran buntu akibat masih shock. Usai menulis, pergi ngampus dan pulangnya bukan ngompres malah melipir nonton film. Ngompresnya baru malam. Hidup itu yang penting tahu batasan dirimu, Nak. Sisanya lakukan segala sesuatunya dengan riang gembira niscaya kau akan selalu berbahagia”

 Jika Dea adalah bunga, saya yakin akan banyak hama yang menggerutu karena dikecewakan olehnya. Dikecewakan karena dia memilih pergi. Bisa saja kan dia pulang ke Jember untuk jadi pengusaha kopi atau menjadi sutradara di sana?

Sebelum itu benar-benar terjadi, izinkan saya sebagai temanmu yang polos ini untuk mendoakanmu agar kamu disegerakan mendapatkan jejaka yang bisa diajak mengitari perkebunan teh Malabar, atau biar doanya nggak nanggung, saya doakan agar kamu bisa bulan madu ke Nepal sana. Seperti inginmu itu loh. Kalau benar terjadi, misi kecilmu berhasil.

Oh iya, bicara soal misi, saya masih ingat wejanganmu saat kita ngobrol-ngobrol ringan tentang asmara. “Cowok tuh, seberapa pintar atau cantiknya cewek yang lagi dikejar, yang penting harus punya visi.” Njiirr tajam!

Sebagai penutup, jika kamu sudah di Jember sana, kalau mau liburan jadikan Bandung sebagai tujaun utama ya 🙂 Saya yakin kota ini akan selalu menjadi bagian ceritamu. Karena seperti katamu, “Setiap jalan cerita terbentuk di dalam ruang bernama kota”. [Akay]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s