Cerita Pendek yang Tak Terlalu (B)Agus

chungking2

Malam tahun baru Imlek. Kali ini masuk tahun ayam, yang berdasar ramalan, justru tahun kesialan bagi mereka yang bershio maskot Tottenham Hotspur ini, saya salah satunya. Karena ayam ketemu ayam bakal berakhir gontok-gontokan. Di malam itu, yang belum terlalu larut, dia muncul dengan wajah kisut. Setelah memarkirkan motornya di depan Kedai Preanger, lalu melepas helm, dia menyapu rambut panjangnya ke belakang seperti dalam iklan shampo. Bukan tontonan yang aduhai sebenarnya. Saya sedang duduk di luar, lalu dia mendekat, langsung menempati kursi di sebelah, dan menyandarkan kepalanya di bahu saya. Menurut testimoni yang sudah-sudah, bahu saya lebih seperti sudut meja sekolahan. Keras, agak runcing. Tapi, apapun sandarannya, bagi orang-orang yang kelelahan, semua bidang terasa layaknya sofa. “Baru pulang kerja lembur, soalnya besok libur,” keluhnya sedikit senewen.

Dia nyaman bersandar di bahu saya. Pikirmu romantis, kan? Boro-boro! Situasinya, untuk memudahkan, memang seperti adegan dalam film Chungking Express. Saya si pria tampan itu, tak perlu ada debat, dan tonal warna di malam itu memang terasa melankolis, lampu jalan yang kekuning-kuningan beradu dengan lampu neon dari Kedai. Saya mungkin sedikit meromantisasinya, tapi itulah yang saya ingat. Bedanya, saya tak sedang menyesap scotch, hanya kopi Lanang tubruk tanpa gula. Dan dia, ya, dia yang bersandar di bahu saya itu, tak berambut pirang, dan sialnya bukan perempuan. Dia rupawan, yang kalau pakai kacamata hitam akan jadi kembaran Yayan Jatnika. Saya menyambar kotak rokok LA-nya yang baru dia keluarkan, mengambil sebatang, padahal saya pun punya Dunhill yang masih bersisa banyak. Sebagai barter, meski tanpa ijab kabul terlebih dahulu, dia mencicipi kopi saya. Mukanya makin kecut, sulit untuk membedakannya dengan kanebo kering. “Hirup mah leuwih pait,” komentarnya sendiri. Saya menyalakan rokok tadi dan menghisapnya. Merokok, menerawang, dan melamun, ingin tampak keren dan sinematik seperti dalam film-film Wong Kar Wai, tapi berakhir mengenaskan.

2

“Maneh nu terakhir teh nulis tentang naon sih? Urang teu ngarti.” Dia menanyakan soal tulisan terakhir saya di blog. Saya balas dengan diam. Pura-pura cuek. Bikin orang lain jengkel adalah keahlian utama saya. Saya ingin menjelaskan kalau saya menulis cerita itu karena habis membaca kumpulan kisah-kisah sufi; ketika Tuhan, Kebenaran, Kejujuran, dan Pengetahuan bisa ditemui dalam wujud manusia, yang kemudian saya kawinkan dengan fanfiksi dari drama Korea: Goblin yang lagi ngehits itu, judulnya sendiri diambil dari judul salah satu lagu latarnya, “첫눈처럼너에게가겠다”, yang kalau diterjemahkan: “Aku Akan Mendatangimu Seperti Salju Pertama”. Bagaimana jika Kematian ingin ngadu bako di depan sebuah minimarket? Sesederhana ini ceritanya. Sebuah cerita sok sufistik di era kapitalisme lanjut. Tapi entah kenapa saya malas menjelaskan padanya. Sebenarnya, tak perlu ada penjelas. Ini murni kesalahan saya: payah dalam menulis cerita pendek. Padahal cita-cita saya begitu muluk, cerpen saya ingin dimuat New Yorker atau Paris Review. Oke, salah satu bukti kepayahan saya adalah terlalu egois dan pretensius, tulisan ini harusnya tentang dia, bukan tentang saya.

3

Baiklah, kembali kepadanya. Sekarang dia selonjoran di dua bangku, yang tak lebih baik dari bahu saya. Dengan ekspresi lelah, dia memejamkan mata. Ada gelisah, juga sedikit depresi. Saya tak tahu pasti, hanya mencoba menebak. Saya teringat pada bacaan Capitalist Realism: Is There No Alternative? Buku yang dibuka dengan bab berjudul “It’s easier to imagine the end of the world than the end of capitalism”, soal sikap skeptis bahwa enggak bakal ada yang berubah, dan kesadaran kolektif yang menyesatkan bahwa kapitalisme adalah akhir sejarah. Sebenarnya enggak ada pemikiran baru, banyak mengutip Alain Badiou dan Slavoj Zizek dan pemikir lainnya, namun disampaikan dengan ngepop, banyak referensi ke berbagai film, dari Memento, Children of Men, sampai Wall-E, dan enggak lupa novel-novel Franz Kafka, untuk menganalogikan apa sih kapitalisme lanjut dan kenapa. Mark Fisher mendiagnosis penyakit bernama kapitalisme dengan cemerlang. Salah satu tesisnya adalah bahwa tingkat stress yang makin meninggi adalah akibat buruk dari sistem kapitalisme ini: perasaan terasing, perasaan enggak aman yang konstan, beban kerja yang berat, keharusan membayar tagihan-tagihan yang entah untuk apa dan akan dikemanakan uang kita itu, ilusi bahwa kita bisa membeli apa yang kita mau padahal aslinya kita hanya didikte untuk membeli apa-apa yang sebenarnya enggak kita butuhkan, dan jeratan-jeratan lain.

Tentu saja, saya tak mau membebaninya dengan wacana kiri-baru dan dialektika soal kapitalisme. Saya, sebagai kelas menengah, hanya tukang omong besar, dan mungkin dengan diam adalah penghiburan paling tepat di kala itu. Saya menyesap habis kopi tadi. Dia masih terpejam. Dan sekarang, saat menulis ini, saya berjanji untuk menulis kisah yang lebih Agus di masa mendatang, kalau ada royalti akan saya kasih sebagian padanya. Kalau ingat. [Arif]

ebook ‘Capitalist Realism’ bisa didapat gratis di Tesis-tesis Mengenang Mark Fisher

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s