Suara detak jarum jam saat ini terdengar sangat jelas mengisi sunyinya malam. Sayang, apakah kamu sudah tidur? Apakah hari ini menyenangkan bagimu? Semoga saja menyenangkan. Malam ini, entah kenapa rasa rindu padamu begitu menggebu. Kalau sudah begini ingin sekali aku datang ke tempatmu, dan melihat senyum di wajahmu untuk mengobati rindu. Namun aku harus puas hanya dengan menatap selembar fotomu yang sedang tersenyum.

Andai saat ini kau ada di sisiku, kan kubiarkan kau bersandar di pundakku dan aku akan menyenandungkan lagu kesayanganmu kemudian kau akan protes karena suaraku malah merusak lagu itu. Sayang, kenangan-kenangan itu kembali datang padaku, kenangan di mana kau berbicara tentang segala omong kosong di dunia ini. Saat itu aku hanya bisa menatapmu sambil mendengarkan kamu berbicara tanpa jeda.

Yang tak mungkin bisa aku pungkiri lagi rindu ini begitu menyiksaku. Sayang, apakah kamu juga merasakan apa yang kurasa? Siksaan ini semakin menjadi saat malam datang dan sepi menerjang. Kalau itu terjadi yang aku lakukan hanya memaki diri sendiri, mengutuki diri yang hanya bisa pasrah menerima keadaan tanpa bisa berbuat lebih banyak lagi.

Adakalanya saat bayang wajahmu hadir setiap malam di mimpiku, hal itu membuatku khawatir dengan keadaanmu, apa yang sedang terjadi padamu? Apakah kau baik-baik saja di sana? Apalagi saat aku dengar kamu sedang mengandung, kekhawatiran itu semakin menjadi saja. Selalu jaga kesehatan dan jangan terlalu banyak pikiran, sayang. Jangan sampai janin dalam rahimmu terganggu pertumbuhannya, bukankah dari dulu kamu sangat menginginkan seorang anak?

Nazarku pada Tuhan jika kamu dapat melahirkan dengan lancar, aku akan puasa selama 7 hari berturut-turut. Maafkan aku yang tak bisa berada di sisimu saat semua itu terjadi, bukannya aku tak mau namun kondisilah yang tidak memungkinkan aku untuk melakukan hal itu. Tapi jangan khawatir apalagi takut, karena kamu takkan pernah sendirian menjalani semua itu, aku yakin kamu akan ditemani oleh doa-doa yang selalu aku panjatkan untukmu.

Gambaran-gambaran tentang kamu yang sedang menimang bayi terlukis jelas di langit-langit ruangan ini, kemudian kamu berkidung kisah-kisah kebajikan untuk meninabobokannya. Gelapnya ruangan ini semakin memperjelas wajah gembiramu melihatnya tertidur damai dalam pangkuanmu. Harapku semoga hal itu memang benar-benar terjadi.

Malam ini khayalanku tentangmu memang terlalu jauh, sayang. Tapi hal itulah yang setidaknya bisa sedikit mengobati kekecewaanku atas sebuah kesialan terbesar yang aku alami dalam hidup ini, kesialan yang membuatku harus berada dalam ruangan gelap dan pengap ini, kesialan yang merenggut semua kebebasanku, kesialan yang membuatku harus berada jauh darimu.

Aku yang saat ini berada di balik terali besi atas sebuah tindakan yang sama sekali tak pernah aku mengerti. Aku yang hanya lulusan sekolah menengah kejuruan ini dituduh korupsi uang perusahaan yang jumlahnya lima ratus juta rupiah. Jangankan uang lima ratus juta, lima puluh juta pun aku belum pernah melihatnya. Waktu itu aku hanya menuruti perintah atasanku untuk datang ke bank dan memberikan sebuah amplop ke petugas bank yang sudah dia telepon sebelumnya. Tapi katanya semua bukti dan saksi yang ada malah memberatkanku, semua cerita yang aku katakan dianggap karangan belaka karena tidak ada bukti dan saksi yang mendukung ceritaku.

Nasib orang miskin seperti kita mungkin memang sudah tertulis seperti ini, sayang. Tak pernah punya kekuatan untuk melawan orang yang mempunyai kuasa. Orang miskin seperti kita harus selalu menerima apa yang diperbuat penguasa kepada kita, orang miskin seperti kita selalu disuruh mensyukuri apa yang kita punya hari ini, orang miskin seperti kita akan ditertawakan para penguasa hanya karena kita bermimpi menjadi kaya.

Dalam sel penjara nomor tiga belas ini, aku mencoba menutup mata dan berharap semoga aku bermimpi dipertemukan dengan dirimu yang sedang menimang bayi. Namun yang terjadi, pikiran ini seperti mengkhianati ku, sayang. Walaupun mataku terpejam namun pikiranku tetap terjaga. Semakin kucoba untuk terlelap, semakin gencar kenangan-kenangan bersamamu hadir seperti sebuah film yang dipercepat pemutarannya.

Aku kembali membuka mata, karena tak tahan dengan serbuan kenangan-kenangan itu. Sebuah tanya pun kembali hadir dalam pikiranku: sayang, apa yang sedang kau lakukan malam ini? Apakah kamu sedang bermesraan dengan suamimu atau kamu tengah tertidur lelap dalam pelukan suamimu? [Agus]

Sumber foto: dagelan.co

Advertisements