Yang Terlupakan dari Pram

Satu hal yang menjadi ramai seiiring dengan perkembangan media sosial adalah kutipan. Beni Satryo, penulis buku puisi Pendidikan Jasmani dan Kesunyian, merekam hal ini dengan cukup baik di satu puisinya yang berjudul Berita Duka: “Di ujung jalan / ada nisan tanpa nama / Kuburan pengetahuan / Bertaburan manis bunga-bunga kutipan.”

Kutipan-kutipan tersebut biasanya diambil dari tulisan-tulisan tokoh nasional, sastrawan, pesepakbola, dan percakapan dalam film. Di Indonesia, ada beberapa orang yang amat populer di dunia kutipan. Kata-katanya terpampang di kaos, dinding kota, Instagram, Twitter, dll. Tan Malaka, Sukarno, Chairil Anwar, Wiji Thukul, dan Pramoedya Ananta Toer mempunyai tempat yang amat terhormat dalam masyarakat yang gandrung kutipan.

Setiap tanggal 6 Februari dan 30 April, di dua titimangsa kelahiran dan kematian Pram tersebut, media sosial dipenuhi oleh kutipan dari penulis yang belasan tahun hidup dalam bui dan kamp konsentrasi. Kebanyakan tentang berbuat adil, keberanian, menulis dan kerja. Berikut beberapa kutipan yang kiranya paling populer dari seorang Pram:

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.”

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Terlepas apakah kutipan-kutipan tersebut menjadi motivasi, penyemangat, kompas hidup, atau hanya pemanis rutinitas, namun ada satu hal yang kiranya agak terlupakan dari diri Pram, yaitu keluarga. Hal ini sebetulnya sangat benderang dari hampir semua karya Pram. Dalam Tetralogi Buru yang kesohor, Pram menulis keluarga Herman Mellema yang beristrikan seorang nyai. Anak pertamanya melakukan kejahatan incest terhadap adik kandungnya. Ia sendiri menjadi lemah, dan biduk keluarga kemudian diambil alih oleh istrinya yang menjelma menjadi seorang perempuan perkasa. Ada pula Minke—tokoh kesayangan pembaca dalam roman tersebut, ia beberapakali menikah dan tak sekalipun dikaruniai anak.

Banyak sekali kutipan yang dipungut dari tetralogi ini, namun amat jarang yang berkaitan langsung dengan keluarga. Baik hubungan orangtua dan anak, ataupun hubungan sepasang suami dan istri. Padahal beberapakali Pram menyinggung soal keluarga. Ketika Minke bersujud di hadapan ibunya dan memohon ampun, ibunya kemudian berucap, “Pernah kudengar orang kampung bilang: sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya.”

Dalam perjalanan menuju Blora, juga ketika sudah sampai di rumah kampung halamannya, Pram dalam tokoh aku menulis ihwal istrinya yang cerewet, bapaknya yang sakit keras, adik banyak dan masih kecil-kecil, serta rumah orangtuanya yang sudah tua. Sebagai anak tertua, ia berniat memperbaiki rumah, namun diberati ongkos yang tak sedikit. Persoalan keluarga mengepung. “Apabila rumah itu rusak, yang menempatinya pun rusak,” ucap seorang tetangga yang ditemui tokoh aku ketika berjalan di sekitar rumah. Roman Bukan Pasar Malam yang menjadi favorit Romo Mangun tersebut menjelentrehkan kehidupan keluarga Pram yang multi soal, merawankan hati, dan menegaskan bahwa Pram tak melulu tampil dengan karakter kuat dan pemberontak, ia juga bisa luluh hatinya dan mencoba berdamai dengan bapaknya yang tengah sakit.

Dalam tulisan-tulisan awalnya yang terhimpun di buku Menggelinding 1, Pram banyak menulis cerita pendek dan memoar semasa muda dan ketika tinggal di Belanda: beberapa di antaranya tentang keluarga. Ia berkisah tentang prajurit yang dianggap mati oleh keluarganya (Terondol), istri yang diberati persoalan kecantikan (Yang Cantik dan Yang Sakit), kehidupan pasangan muda yang hancur karena watak istri yang pemalas (Lembaga kehidupan Telah Hancur Sebuah Lagi), kasih seorang bapak terhadap anak (Suatu Pojok di Suatu Dunia), kehidupan keluarga seorang pengarang (Jalan yang Amat Panjang), kesetiaan seorang suami dari godaaan selingkuh (Tentang Emansipasi Buaya), hingga kehidupan pasangan suami istri yang tuna netra (Family Tanus yang Buta).

Meski Pram pernah sekali gagal dalam kehidupan rumahtangganya, namun keluarga kiranya menjadi tema penting dalam karya-karyanya. Atau mungkin justru karena kegagalan itulah yang menjadikan Pram begitu memperhatikan tema ini. Seperti sudah diketahui, Pram menikah pertamakali dengan Arvah Iljas. Setelah menikah, ia bersama beberapa orang adiknya kemudian hidup di rumah mertuanya, namun karena waktu itu kondisi Pram masih seorang pengarang yang tengah berjuang memperkenalkan karya dan meningkatkan taraf ekonumi, maka percekcokan timbul berkali-kali.

Salah seorang adik Pram menulis hal ini dalam buku Bersama Mas Pram; Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer, “Semua itu di tengah ekonomi seorang pengarang yang baru mulai menapaki jenjang kepengarangan, dan di masa itu, ketika apresiasi pembaca sastra nasional belum seberapa, dan pembaca internasional apa lagi, tentunya merupakan beban berat bagi Mbak Arvah. Maka tidak mengherankan kalau akhirnya ia pernah mengucapkan kalimat ekstra keras kepada Mas Pram, yang seolah palu godam bagi putusnya ikatan perkawinan mereka.”

Pram sebagai anak, kakak, ayah, dan suami, sebagaimana tokoh lain—misalnya Chairil Anwar dan Wiji Thukul, kerap terabaikan dan terlupakan, setidaknya dalam kutipan-kutipan. Mereka terlampau dilihat sebagai persona yang memesona di lini lain, di kehidupannya yang keras dan meletup-letup. Kalimat-kalimat seperti, “Aku mau hidup seribu tahun lagi,” “Hanya ada satu kata: lawan!”, atau pun “Kalau mati dengan berani, kalau hidup dengan berani”: rasa-rasanya tidak mewakili sisi kehidupan keluarga, dunia di mana mereka—utamanya Pram, mengalami jatuh bangun, berlindung atau pun berlari darinya.

Karya dan keberanian Pram yang menonjol, diproduksi berulang-ulang dalam banyak media. Kutipan yang menggambarkan satu sisi kehidupan Pram dibiakkan dan dikampanyekan di mana-mana. Lewat kutipan-kutipan, Pram hampir atau telah dikultuskan. Padahal memoar Sunyisenyap di Siang Hidup mendadarkan kondisi Pram yang limbung selepas bercerai: ia tinggal di kontrakan yang darurat, kondisi ekonomi morat-marit, dan baru divonis TBC. Ajip Rosidi dalam buku Mengenang Hidup Orang Lain merekam satu peristiwa yang menggambarkan bagaimana Pram benar-benar dalam kesulitan ekonomi: “Kau ada nasi tidak? aku sudah beberapa hari tidak makan,” ucap Pram.

Satu narasi ditonjolkan, dan narasi lain dilupakan, sementara Pram sudah berpesan agar sudah adil sejak dalam pikiran. Pram tidak tumbuh sendirian, ia ditempa oleh kehidupan keluarga yang berliku dan membekas dalam karya-karyanya. Keluarga bagi Pram adalah “Mula kehidupan manusia. Payung yang melindungi keturunan manusia daripada hujan dan terik pergaulan hidup. Titik permulaan di mana tiap suami dan istri mendapat atau tidak mendapat kebahagiaan.” [irf]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s