Sore Gedung Merdeka

Sore Gedung Merdeka

Hujan deras mengguyur Jalan Asia-Afrika. Sore itu saya sedang berjalan menuju parkiran motor di Jalan Braga setelah melihat mendung yang begitu tebal. Saya berlari kencang menuju Gedung Merdeka untuk menyelamatkan kamera dari guyuran hujan. Setelah mengatur nafas, saya naik ke undakan ketiga tangga di depan pintu masuk gedung dan duduk sendiri di sana.

Sepuluh menit berlalu. Alih-alih reda, hujan malah bertambah deras. Angin yang bertiup semakin kencang, membuat dedaunan pohon angsana yang ada di seberang jalan terbang dan jatuh ke jalan. Penjaga keamanan Bank NISP yang awalnya berdiri di dekat pohon itu bergegas mengenakan jas hujan berwarna hijau stabilo, agar hujan tak mengganggu tugasnya mengatur keluar masuk kendaraan di halaman parkir.

Ponsel saya keluarkan dari saku jaket untuk berkomunikasi dengan kawan-kawan Komunitas Aleut. Terlalu asyik berburu foto sebelum hujan turun membuat saya melewatkan beberapa obrolan di grup komunikasi. Satu-persatu percakapan kawan-kawan saya baca dan tanggapi. Ada yang tengah berdiskusi soal perubahan nama Gedung Majestic di Jalan Braga, ada juga yang tengah melaporkan kondisi cuaca di tempatnya masing-masing.

“Mau beli lontong atau bala-bala, kang?” tanya seorang pedagang makanan keliling yang ternyata sudah cukup lama berdiri di dekat saya. Pertanyaan itu membuat saya agak kesal karena cukup mengagetkan saya yang sedang asyik menatap layar ponsel. Setelah saya jawab tidak, bapak ini berpindah duduk ke sebelah kiri sambil mengelap wadah kaleng dagangannya yang terkena cipratan air hujan. Baju hijau yang ia kenakan juga terlihat agak basah.

Beberapa menit berselang, ia mencoba membuka obrolan dengan menceritakan penuhnya Jalan Asia-Afrika saat ada acara musik semalam. “Wah kang, semalem mah pinuh pisan jalan ini. Mulai dari Jalan Sukarno sampai ke arah Hotel Homann sana,” ujarnya. Obrolan ini menarik perhatian saya karena sebelumnya berniat untuk datang ke acara tersebut, namun akhirnya batal karena ada acara keluarga.

Namanya Oma, namun saya panggil Pak Oma karena perbedaan usia kami yang terpaut jauh. Saat acara musik berlangsung, ia baru selesai berjualan di daerah Balai Kota. “Dagangan saya udah habis pas dateng, tinggal sisa roti aja”, ujarnya sambil membetulkan susunan makanan di wadah dagangannya. Saat itulah saya melihat dagangannya yang terlihat masih penuh. Hati saya tergerak untuk membeli dagangannya, meski sebelumnya saya bilang tidak dan sedang tak lapar-lapar amat.

“Senin ini mah emang sering sepi, apalagi kalau hujan. Kayaknya masih pada tekor karena keluar hari Minggu,” ujarnya sambil memasukkan pesanan saya ke dalam plastik. Ia jarang keluar berdagang pada hari Senin karena kondisi tersebut. “Hari ini mah saya nyoba peruntungan aja, yah namanya juga dagang”, ujarnya saat menerima selembar uang rupiah yang saya sodorkan.

Meski sehari-hari Pak Oma berdagang di daerah Balai Kota sampai ke sekitar Jalan Asia-Afrika, namun ia juga terkadang berjualan ke lokasi yang berjauhan dengan wilayah dagangnya. Jika kampus-kampus di Bandung melangsungkan wisuda, Pak Oma pasti akan sengaja datang ke sana untuk berjualan. “Malah kalau Persib main di Jalak Harupat, saya belain datang ke Soreang buat dagang”, ujarnya.

Sejak dibukanya Taman Sejarah, pengunjung Balai Kota memang meningkat pesat. Hal ini juga berpengaruh terhadap peruntungan Pak Oma di sana. Menurut penuturannya, dagangan yang ia jajakan di sana seringkali habis sebelum petang menjelang. Jika belum habis, ia akan menjajakannya ke daerah Jalan Braga dan Asia-Afrika sambil pulang ke tempat kostnya di daerah Pasar Buku Palasari.

“Bapak ngekost? Aslinya dari mana gitu?” tanya saya. Sambil mengeluarkan rokok dari bagian bawah wadah dagangannya, ia bercerita tentang kampungnya di Pagelaran, Cianjur. Sebulan sekali biasanya ia pulang menggunakan kendaraan umum. Dari tempat kostnya ia naik angkot ke Leuwipanjang, kemudian dilanjutkan naik kendaraan umum ke Ciwidey, dan kembali berganti kendaraan umum yang langsung menuju kampungnya di Pagelaran. “Dari sana saya biasanya dijemput sama anak, kalau jalan mah jauh” ujarnya.

Obrolan sempat terhenti saat ia meminjam korek api ke pengendara motor yang sedang ikut meneduh di hadapan kami. Saat kembali ke tempat duduknya, saya bertanya soal asal makanan yang ia jual. Sambil menghembuskan asap rokok kretek dari mulutnya, Pak Oma berujar kalau makanan yang dijajakan ia ambil dari daerah Pasar Ancol, tak jauh dari tempat kost-nya. Jumlah yang diambil tak selalu sama, tergantung hari apa ia berdagang. Di akhir pekan, terutama hari Minggu, ia akan membawa lebih banyak karena di hari itulah ia bisa mendulang pundi-pundi rupiah paling banyak. Jika dagangannya tak habis, ia akan mengembalikan kepada distributornya.

Terkadang juga ia menerima pesanan dalam jumlah banyak. “Ya ada aja kang, kadang ada yang suka beli borongan sampai 1.000 buah buat kotakan”. Jika ada pesanan seperti itu, ia tinggal ambil makanan ke distributor dan membeli kotaknya. Meski menurutnya melelahkan karena mengerjakannya sendiri, namun hasilnya sebanding.

Obrolan kami kembali terhenti karena Pak Oma bolak-balik beranjak dari tempat duduknya untuk melihat ke arah Alun-alun. Melihat beberapa bus dari luar kota yang berlalu menuju tempat parkir Alun-alun membuatnya tak sabar untuk segera menuju ke sana untuk menjemput rezeki. Namun, hujan masih terlalu deras untuk ditembus.

Pak Oma duduk kembali, namun kini dengan raut wajah yang berbeda setelah rokok kretek di tangan kanannya habis. Kelelahan yang sebelumnya tak terlihat saat ia merokok kini terlihat jelas di wajahnya. “Duh, biasanya mah ada tukang rokok lewat kalau ga hujan”, keluhnya. Saya hanya tersenyum, dan tak lama kemudian ponsel saya berdering. Telepon yang berdurasi tak sampai semenit itu saya tutup, dan saat saya kembali melihat ke arah Pak Oma ia sudah tertidur bersandar ke pilar Gedung Merdeka.

Ia tidur pulas, mungkin kelelahan karena beban dagangan kelilingnya hari ini cukup berat. Bahkan saat sebuah mobil di dekat kami duduk membuka-tutup pintu menurunkan penumpang, Pak Oma tak bergeming sedikit pun. Hujan mulai reda dan cukup aman untuk diterjang, tapi saya tak sampai hati untuk membangunkan Pak Oma yang sedang tidur pulas itu untuk berpamitan. Saya memilih untuk kembali berinteraksi di grup komunikasi Komunitas Aleut sambil menunggu ia bangun dengan sendirinya.

Hujan akhirnya betul-betul reda menjelang petang. Pak Oma terjaga dan langsung melihat ke arah Alun-alun. Terlihat ada dua buah bus yang baru saja masuk ke tempat parkir. Sambil mengambil kantong kresek dari saku dan mengenakannya ke kepala, ia kemudian pamit kepada saya yang sedang kembali asik memainkan ponsel. “Pamit ya, Kang. Saya mau jualan ke sana”, ujarnya sambil mengangkat dagangan ke atas bahunya. Saya menjawab sambil mengangkat jempol kanan dan tak lama kemudian berlalu ke arah berbeda untuk pulang. [Arya]

Advertisements

One thought on “Sore Gedung Merdeka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s