“Di masa itu kami tidak punya cukup uang untuk membeli buku. Jadi aku biasa meminjam dari tempat penyewaan buku bernama Shakespeare & Company, yang merangkap sebagai perpustakaan dan toko buku milik Sylvia Beach dengan alamat di 12 rue de l’Odéon. Terletak di sebuah jalan utama, di mana angin berembus dingin, tempat penyewaan buku tersebut juga berfungsi sebagai tempat untuk menghangatkan tubuh. Apalagi ditambah suasana yang menyenangkan.”

–A Moveable Feast, Ernest Hemingway

1

Bagi mereka, jazz adalah sebuah jalan hidup, cara yang sama sekali berbeda untuk mencapai proses kreatif waktu itu. Saya menjelaskan sejarah Beat Generation padanya, sebuah gerakan sastra yang dimulai oleh sekelompok penulis, utamanya Jack Kerouac dan Allen Ginsberg, yang karyanya mengeksplorasi dan memengaruhi budaya dan politik Amerika di era pasca-Perang Dunia II, dan bagaimana jazz modern bisa sampai popular dan dinikmati anak muda. Lalu dia bertanya soal kenapa Haruki Murakami bisa suka jazz. Masih berhubungan, timpal saya, karena Jepang kalah perang, maka terjadi Amerikanisasi saat itu. Bukan hanya musik, sih, kata saya, bahkan ketimbang baca Kawabata, Murakami justru lebih suka dan banyak baca Hemingway dan Kerouac. Murakami juga sampai pernah buka bar jazz sendiri, tambah saya. Wah, geus cocok yeuh jadi reporter Tirto soal pop culture, dia memuji. Saya membuka Google, mencari gambar Murakami muda dan bar Peter-cat Jazz miliknya. Saya menunjukkan fotonya yang sedang jadi bartender, memakai celemek di balik cabinet, lalu fotonya yang berpose enggak menatap kamera dengan latar berupa rak koleksi vinyl, dan satu lagi ketika dirinya yang tengah menimang kucing. Wah, siga di dinya, dia memuji lagi, ditambah cengengesan.

2

“Beberapa juta orang telah berjalan memasuki pintu kami seperti tumbleweeds yang terbawa angin,” tulis George Whitman dalam suratnya di edisi kedua dari The Paris Magazine, yang diterbitkan oleh toko buku ini pada tahun 1984, “dan kemudian berjalan keluar, rasa tidak bersalah mereka hilang, menjadi warga bebas dalam kosmos ini.” Tumbleweed sendiri, biasanya sering terlihat di film koboi ketika akan adu tembak, adalah bagian-bagian tanaman, bukan hanya rumput, yang mengering dan membentuk gumpalan, yang kemudian menggelinding terbawa angin. George percaya bahwa “kita semua pengembara tanpa rumah,” dan selama bertahun-tahun, Shakespeare & Co telah menyambut penulis pengembara dari zaman Hemingway yang menggawangi Lost Generation, lalu Allen Ginsberg dari Beat Generation, yang ketika membacakan puisinya di toko buku ini justru diledek bahwa puisinya bukan puisi, sampai penulis-penulis kontemporer semisal Jonathan Safran Foer dan Dave Eggers. Sudah banyak penulis, baik yang terkenal atau yang hanya menggelinding terlindas zaman, yang menginap di sini. Dari yang cuma sehari dua hari, atau bisa berbulan-bulan, untuk merampungkan karyanya, misalnya. George meninggal 2011 silam, toko bukunya diwariskan pada putrinya. Shakespeare & Co sendiri masih terbuka bagi siapa saja yang ingin menginap, ingin jadi Tumbleweed, meski sekarang dibatasi.

3

Tulisannya lebih cocok masuk Hipwee ketimbang Mojok. Tentu, saya enggak tega mengempiskan semangatnya, meski memang, rasa sungkan macam begini yang bikin proses belajar apapun jadi tumpul. Dia bersikeras agar tulisannya bisa tayang di situs Mojok, dan harapannya harus kandas sebentar lagi. Saya ingin mengutip nasihat Hemingway pada penulis muda: kau tidak harus menulis jika kau tidak bisa menulis. Saya sering mengalamatkannya untuk diri sendiri. Saya kira, nasihat tadi bukan larangan menulis, justru lebih sebagai pelecut. Dalam A Moveable Feast, Hemingway mengisahkan tentang kehidupan susahnya ketika muda saat tinggal di Paris, keresahan masa muda setelah keluar dari dunia jurnalistik dan hendak menggeluti fiksi, yang paling menarik adalah keluhannya karena merasa enggak mampu bikin kalimat yang baik sementara pengen bikin novel. Dan kita tahu, prosa seorang Hemingway, yang lugas dan begitu laki –sampai dihujat kaum feminis, yang menanggalkan gaya Romantik, justru jadi pembaharu dan menjadikannya maestro tulis menulis. Kembali pada salah seorang Tumbleweeds yang sering menginap di Kedai Preanger tadi, yang sering menyayangkan saya kalau harus balik ke rumah, yang sering minta nasihat menulis, saya ingin mengutip lagi Hemingway: biarkan tekanan terbangun. Irilah pada saya, seperti Hemingway ketika masih kere merasa rendah diri melihat James Joyce. Agar tulisan bisa dimuat di Mojok, saya kira, adalah cita-cita yang terlalu rendah. [Arif]

Sumber foto: http://wehaveconcerns.com

Advertisements