Tujuh Langkah Bikin Cerpen Eksperimental dari Abdullah Harahap

 

Hantu hanya ada dalam khayalan manusia-manusia penakut. Semakin mereka takut, semakin mereka percaya. – Abdullah Harahap, Misteri Perawan Kubur

1

Semuanya berawal dari kontol. Juga memek, tentu. Dorongan untuk ewean adalah yang harus dipersalahkan atas segala tindak-tanduk manusia. Saya pikir Abdullah Harahap membaca Sigmund Freud, atau pernah mendengarnya. Yang pasti, emang si Abdullah Harahap itu jenius. Saya enggak bohong.

2

Baiklah, tulisan ini cuma transkrip obrolan saya bersama Candra Asmaravaka, suami dari Alifia Rachmanitia Sudradjat, pada Rabu, 19 April 2017, waktunya lupa lagi dari jam berapa sampai jam berapa, tapi sebelum pukul duabelas siang. Obrolan, saya kira, seperti mimpi, enggak tahu di mana mulainya, dan sampai mana berakhirnya. Bikin pening aja nulisnya juga. Hanya orang kurang kerjaan yang menuliskannya. Menulis membuatmu abadi, katanya. Haha, tai. Tapi mumpung lagi enggak banyak gawean ya nulis aja. Candra bilang dia biasanya bikin cerpen dari pengalaman langsungnya juga hasil obrolan atau curhatan orang lain. Sial bagi Candra, saya akan mengikuti wejangannya.

3

Di kedai kopi. Iya emang pasaran. Selalu di kedai kopi. Sudah enggak tahu sampe ada berapa cerpen yang latarnya di sini. Dekaden banget. Sialnya, obrolan kami juga di tempat ginian. Tapi kedai kopi yang beda. Kedai yang bisa sepuasnya ngomong kasar dan cabul; unjang-anjing, kuntal-kontol, uwa-ewe. Tah kawas si Anggi, tapi ari ka istrina mah sieuneun. Baheula si Anggi teh da cicingeun. Enya ayeuna gacor. Cawokah geus pasti. Cabul yang hanya dalam perkataan, enggak kayak si anjing Sitok Srengenge. Justru ketika orang berlaku sok suci dan sok arif, orang macam gitu yang harus diwaspadai. Karena ada yang berusaha dia sembunyikan. Cewek mau nginep di luhur wae da moal dinanaon, ungkap saya, urang mah ngomong cabul, tapi ari ka awewe mah teu wani cabul.

4

Kenapa Candra menikahi Fia? Dia berbeda. Kalau sama yang lain urang ingin nunjukin sesuatu dan nyembunyiin sisi yang lain. Dia berbeda. Jurus-jurus urang ge teu mempan ka si eta mah. Dia berbeda. Ketika yang lain terkagum-kagum dan cuma mengiya-iyakan apa yang urang omongkan atau tampilkan, dia mah rada cuek. Dia berbeda. Ada yang berbeda setelah menikah. Urang mah baheula sinis keneh soal pernikahan, kenangnya, bahwa menikah adalah game over bagi kebebasan kedua belah pihak. Tah, urang ge masih mikir kitu, ungkap saya, teuing mun engke. Pas nonton The Godfather deui nu kadua kalina jadi asa berbeda weh. Mungkin manusia butuh kebebasan, tapi ada juga sisi lain yang berusaha agar dirinya sendiri berada dalam aturan mengikat yang menyiksa, sebut saya sok iye. Ah, mereka juga berbeda. Pasangan suami istri yang sering nanyain kapan lulus kuliah biar saya bisa cepet kerja jadi kangofukushishi di Jepang. Dia berbeda.

5

Apakah seorang Abdullah Harahap membaca Freud dan Borges? Saya enggak berniat melucu. Ini benar-benar pertanyaan yang selalu muncul saat membaca novelnya, lebih-lebih setelah menamatkannya. Saya enggak banyak membaca penulis negeri sendiri, tapi saya berani bertaruh kalau Abdullah Harahap ini emang penulis jenius. Memang benar ceritanya soal horror dan seks, tapi ada lebih dari itu. Sering ditemui beberapa kekurangan detail-detail teknis, misalnya dialog yang enggak begitu ngalir dan terasa bersuara sama. Tapi secara keseluruhan, saya betul-betul menyukai novelnya.

6

Peradaban yang maju adalah ketika membicarakan seks seperti membicarakan makanan. Dan emang bener. Seks adalah kebutuhan pokok, kebutuhan fisiologis, sama kayak makan, minum, tidur. Dorongan seks begitu alamiah. Saat bahasan ini dianggap tabu, maka bakal ada yang salah. Bener Ip, lamun geus making love pasti jadi rada santai, asa euweuh beban. Haha, lamun soal ieu mah, urang can bisa komentar atuh.

7

Saha sih filsuf posmodern teh? Nu mana tea? Foucault? Lain, nu ngomong bahwa segala sesuatu teh ya dari teks. Oh, Derrida? Enya eta Derrida. Mengubah realitas berarti mengubah teks, dan teks itu sendiri adalah realitas kehidupan. Makanya kudu didekonstruksi. Lain teks hungkul, tapi perasaan oge. Dekonstruksi perasaan. Hahaha. Hehehe.

8

Cerita apaan sih? Judul kemana cerita kemana? Lagi mabok, ya? Seperti yang dibilang Julio Cortazar, salah seorang eksperimentalis paling gila dalam kesusastraan modern, kerja menulis novel merupakan kerja anarkis. Ini bisa juga diterapkan pada cerpen. Jadilah anarkis. Tentu, ketika saya berusaha memformulasikan apa itu cerpen eksperimental, ketika itulah saya bukan lagi seorang anarkis. Tapi enggak tahu deh apa yang dimaksud cerpen eksperimental menurut para juri lomba itu. Ketika makin menua kita pun makin kehilangan sisi anarkis. Saya, tentu saja akan menjadi.

9

Abdullah fuckin’ Harahap, love you to Agrabinta and back!

Of course, I love you too~

[Arip]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s