Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi

Saat mengetahui rencana Ajip Rosidi (baca: duda cerai mati) untuk menjadi pengantin lagi, saya langsung teringat pada salah satu novel karyanya yang berjudul Perjalanan Penganten.

Novel itu saya pinjam dari seorang kawan, menjadi sebuah bacaan yang tak pernah dapat saya selesaikan. Selalu saja, usaha untuk membacanya hanya sampai di bagian kata pengantar yang ditulis oleh Profesor Andries Teeuw.

Bagi saya, di dalam kata pengantar yang ditulis Profesor Andries Teeuw yang juga merupakan karib si penulis, terlalu banyak menampilkan isi cerita utamanya. Dengan kata lain, saya seperti disuguhi beberan (spoiler) di dalam kata pengantar yang justru mengurangi kesenangan saat membaca ceritanya. Mungkin juga ketersendatan saya dalam membaca novel ini dikarenakan saya yang sudah membaca kumpulan cerita pendek karya Ajip Rosidi: Di Tengah Keluarga yang diterbitkan dua tahun sebelum novel ini terbit.

Usai membaca kata pengantar dari A. Teeuw, sudah terbayang apa yang akan dikisahkan oleh Ajip dalam novelnya ini. Sudah dapat dipastikan pula gaya penulisan Ajip yang otobiografis seperti dalam Di Tengah Keluarga. Mungkin tak hanya sebatas gaya penulis, namun juga bagian-bagian kisah dari kumpulan cerpennya rasanya akan muncul juga pada novel ini.

Beberapa hari lalu, saat saya membaca berita mengenai Ajip Rosidi yang sudah resmi menikah lagi, saya mulai meneruskan membaca novel Perjalanan Penganten. Kali ini bukan hasil meminjam, namun novel yang saya beli sendiri. Tak enak rasanya terus menyimpan novel yang malas saya baca karena ekspektasi isinya sudah dapat dibayangkan.

Pada kesempatan membaca kali ini, saya setidaknya sudah membaca lebih jauh hingga melewati bagian pembuka dan halaman-halaman awal bagian pertama. Namun sesudah membaca bagian-bagian tadi, saya menemukan beberapa kesamaan kisah dengan memoar Ajip Rosidi Hidup Tanpa Ijazah.

Bagian pembuka novel yang menceritakan malam menjelang hingga hari pernikahan, rasanya sama dengan apa yang ditulis Ajip dalam memoarnya. Kisah tentang kawan-kawannya yang datang berkumpul dan mengobrol hingga larut padahal esok pagi adalah pernikahannya, juga cerita seorang kawan yang khusus datang dari Solo untuk ikut mendandani Ajip, serta mobil pengantin yang disediakan dan disupiri oleh seorang kawannya yang lain.

Cerita tadi dapat ditemukan dalam tulisan Ajip dalam memoarnya. Kawan-kawan Ajip Rosidi di antaranya Trisno Sumardjo, memang berkumpul di malam menjelang pernikahannya. Sedangkan kawan yang datang dari Surakarta dan kawan lain yang menyediakan mobil pengantin adalah W.S. Rendra dan Ramadhan K.H.

Dengan temuan-temuan ini, makin menguatkan pendapat bahwa Ajip Rosidi memang menulis novel dengan gaya otobiografis. Pengalaman ini dapat ditemukan pula saat membaca novel Ajip Rosidi yang lain yaitu Anak Tanah Air. Walaupun dalam novel-novelnya si tokoh menggunakan nama lain, tetapi kisah-kisah di dalamnya akan terasa sama dengan kisah hidup Ajip Rosidi dalam beberapa memoarnya.

Bahkan dalam novel Perjalanan Penganten cetakan kedua tahun 1994 yang diterbikan oleh PT. Dunia Pustaka Jaya, tokoh utamanya hanya ditulis sebagai ‘aku’, sedangkan tokoh istrinya hanya disebut dengan ‘istriku’. Sementara itu, menurut A. Teeuw seperti yang dituliskannya dalam kata pengantar cetakan kedua, dalam novel cetakan pertama tokoh utama dalam novel ini bernama Ajip. Entah perubahan ini sebagai ikhtiar untuk menjauhkan kesan bahwa novel ini adalah memoar Ajip Rosidi mengenai perjalanan pernikahannya dengan Empat atau ada alasan lain.

A. Teeuw pun menegaskan dalam kata pengantar novel cetakan kedua, bahwa ia tidak berani mengatakan krisis mental yang terjadi pada tokoh utama dalam roman ini sama dengan apa yang dialami pula oleh Ajip.

“Yang terpenting ialah makna roman bukan terletak pada informasi yang terkandung di dalamnya tentang kepribadian Ajip sebagai individu; karya ini jauh mengatasi masalah atau krisis jiwa sembarang orang. Seperti setiap karya sastra, buku ini juga lewat cerita tentang tokoh individual menciptakan gambar universal tentang manusia yang terlibat dalam krisis nilai sebagai akibat pergolakan sosial yang hebat,” tulis A. Teeuw.

Jadi, setelah membaca tulisan dalam kata pengantar tersebut sepertinya tak ada pilihan lain bagi saya selain menyelesaikan Perjalanan Penganten. Bukan hanya mencari informasi saja, tetapi juga untuk memahami dan mengambil makna dari apa yang dihadapi tokoh utamanya.

Wilujeng oléng panganténan (deui) Pak Ajip. Apakah kali ini bapak akan kembali menuliskan perjalanan pengantenan? Dengan Bu Nani tentu saja. [Alex]

Advertisements