Ahmad Bakri Memotret Perkawinan Lintas Kasta

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi

Potret atau foto dapat menjadi benda pengingat yang sangat berharga. Setidaknya, tanyakan hal itu pada Robert Smith. Saat rumah vokalis band The Cure ini terbakar tak bersisa, Robert hanya dapat menemukan dompetnya di tengah-tengah puing rumahnya. Di dalam dompetnya itu terdapat poto kekasihnya, Mary Poole. Bagi Robert, sepotong potret itu terasa sangat berharga bak tali penghubung antara dirinya dengan sang kekasih. Dari pengalamannya ini, lahirlah lagu Pictures of You yang termuat dalam album Disintegration (1989).

“Oh aku telah melihat pada gambar dirimu

Aku hampir percaya itu nyata

Oh aku sudah memandang potret dirimu

Seolah aku hampir percaya bahwa hanya potretlah yang dapat ku rasakan.”

Dulu lagu ini sering diplesetkan menjadi Potrét Manéhna, sebuah lagu sunda karya Nano S.

Potret atau foto juga menjadi ide bagi Ahmad Bakri dalam menulis novel berbahasa Sunda berjudul Potrét. Lewat karyanya ini, Ahmad Bakri mengambil gambaran bagaimana tingkah polah kaum menak laki-laki (bangsawan Sunda) yang menikahi perempuan dengan serampangan, terutama perempuan yang berasal dari golongan rakyat jelata. Biasanya, pernikahan berbeda kasta ini hanya berlangsung sementara, dan setelahnya, istri dan anak seringkali ditinggalkan. Akibatnya hubungan orang tua dengan anak hasil pernikahan lintas kasta ini pun ikut terputus begitu saja.

Pernikahan sementara ini biasanya terjadi saat si pria tengah merintis jenjang karir sebagai ambtenaar pada masa sebelum perang. Meskipun para ambtenaar muda itu masih merintis karir dan belum mapan, baik dari sisi materi dan jabatan serta masih harus berpindah-pindah tempat tugas, tetapi hasrat menikah sudah muncul. Oleh karena itu, mereka memilih istri yang biasanya berasal dari kalangan rakyat jelata.

Bagi kalangan rakyat jelata, menikah dengan kaum bangsawan adalah kebanggaan serta sebagai bentuk pengabdian. Sedangkan bagi para pria bangsawan, menikahi perempuan dari kalangan rakyat jelata adalah suatu kemudahan. Selain itu, karena kekuasaan yang dimilikinya, maka dengan mudah saja si pria yang berasal dari kalangan bangsawan meninggalkan istri dan anak hasil pernikahannya pada saat berpindah tempat tugas atau dengan alasan sudah tidak cinta lagi.

Anak hasil penikahan ini biasanya akan dibiarkan hidup dalam lingkungan pengasuhan sang istri, dan kemudian terlupakan karena hampir tak ada komunikasi yang terjalin lagi. Si anak yang merupakan hasil pernikahan dengan rakyat biasa tentu saja tidak dapat menjadi golongan bangsawan. Kisah anak dari hasil pernikahan antara menak dan rakyat biasa inilah yang kemudian dikisahkan oleh Ahmad Bakri dalam novel Sunda berjudul Potrét.

Den Suria adalah seorang ambtenaar yang baru diangkat dan ditugaskan di sebuah kawedanaan di daerah Priangan Timur. Ia berasal dari Sumedang. Ayahnya adalah seorang Mantri Pulisi. Sepeninggal ayahnya, Den Suria dan ibunya diurus oleh uwaknya yang dikisahkan sebagai Patih Sumedang.

Di bagian-bagian awal, novel ini mengisahkan suka-duka Den Suria memulai tugasnya di lingkungan yang baru. Den Suria berkawan dekat dengan dua upas kawedanaan. Dengan bahasa yang sederhana dan memikat, Ahmad Bakri menceritakan kegiatan-kegiatan Den Suria di daerah yang baru, seperti interaksinya dengan penduduk di tempat tinggalnya yang baru, ikut berburu, dan pertemuannya dengan gadis desa yang kemudian disukainya.

Di bagian selanjutnya, rasa suka tersebut beralih ke gadis lain yang dilihatnya melintas di alun-alun kawedanaan. Ternyata gadis tersebut adalah putri seorang pensiunan wedana. Den Suria kemudian jatuh cinta pada gadis yang berdarah biru ini.

Ketika pertama kali akan berkunjung ke rumah sang pujaan hati, Den Suria menerima surat kaleng yang diantar oleh seorang lelaki tak dikenal. Surat kaleng itu diterima oleh induk semangnya. Isi surat tersebut adalah sebuah potret yang memperlihatkan gambar mendiang ayahnya ketika masih muda, yang berada di samping seorang wanita muda yang tengah memangku anak kecil yang jelas bukan dirinya. Misteri semakin menjadi dengan surat yang ikut menyertai potret tadi, yang isinya menjelaskan bahwa sang pengirim, yang tak kalah misteriusnya, adalah kakak Den Suria dari lain ibu. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah peringatan yang disampaikan bahwa ada pihak yang ingin mencelakakannya.

Misteri ini kemudian disimpan rapat-rapat oleh Ahmad Bakri hingga bagian akhir dari novel. Bahkan untuk membuat pembaca sedikit berteka-teki, di bagian pertengahan, ditampilkan sosok yang diduga sebagai pengirim surat misterius tersebut.

Akhirnya kisah dalam novel “Potret” ini ditutup dengan perjumpaan Den Suria dengan kakak tirinya, yang ternyata adalah orang yang selama ini berada dekat di lingkungan pergaulan tempatnya bekerja. Sang kakak ini tidak pernah berkenalan langsung dengan ayahnya, karena orang tuanya berpisah saat sang ayah dipindahtugaskan. Ia kemudian diurus oleh ibunya. Satu-satunya kenangan akan ayahnya adalah sebuah potret yang dibuat ketika dirinya masih bayi.

Di bagian akhir, Ahmad Bakri memberikan pula unsur kejutan tambahan. Den Suria tak dapat menikahi gadis pujaannya karena ternyata mereka masih bersaudara. Padahal mereka berdua tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan dan undangan sudah disebarkan. Ayah Den Suria ternyata menikahi perempuan lain saat menjadi Wedana Sagalaherang dan berpisah pada saat putri hasil pernikahannya masih kecil. Perempuan ini kemudian menikah dengan tokoh pensiunan wedana lainnya yang sudah memiliki seorang anak perempuan dari pernikahan sebelumnya

Mengenai jawaban siapakah yang ingin mencelakai Den Suria? Bagaimanakah seterusnya hubungan percintaan Den Suria? Akankan pernikahan tetap berlansung? Rasanya jawabannya akan lebih baik ditemukan dengan membaca sendiri novel berbahasa Sunda ini.

Hal yang perlu untuk disimak dari penceritaan Ahmad Bakri lewat “Potret” adalah akibat dari begitu mudahnya kawin-cerai yang dilakukan oleh lelaki bangsawan saat itu, terjadi ketidakjelasan asul-usul keturunan yang dapat mengakibatkan aib. Hal ini akan terjadi jika pernikahan Den Suria dengan gadis pujaannya benar-benar terjadi karena ketidak-tahuan bahwa mereka saudara sedarah. Sedangkan dalam hukum agama adalah terlarang untuk menikahi saudara sendiri.

Hal lainnya adalah kesia-siaan kakak kandung Den Suria yang ditinggalkan ketika masih kecil. Sosok ayah yang hilang hanya didapatkannya melalui potret dan sedikit informasi data diri sang ayah dari mendiang ibunya. Dirinya yang berasal dari pernikahan dengan rakyat biasa hanya dapat menjadi pegawai level bawah di lingkungan kewedanaan. Masih beruntung sosok ini digambarkan oleh Ahmad Bakri sebagai sosok yang menerima nasib dirinya. Bahkan ia tetap melindungi Den Suria dari marabahaya saat mengetahui bahwa mereka bersaudara.

Berbeda dengan sosok kakak laki-laki Den Suria, nasib gadis pujaannya, yang ternyata juga adiknya, lebih beruntung. Sang adik dapat dikatakan memiliki kedudukan sebagai menak karena sang ibu menikah dengan Wedana lain dan dirinya dipelihara seperti layaknya putrinya sendiri.

Melalui novel ini, Ahmad Bakri ingin menyoroti gambaran kehidupan kaum bangsawan yang karena kuasanya justru memberikan kesengsaran dan kekisruhan hubungan persaudaraan dan kekeluargaan. Padahal kaum ningrat inilah yang sangat mengutamakan asal-usul keturunan keluarga. Manusia dinilai bobotnya dari silsilah keluarga. Sementara tindakan yang mereka lakukan justru mencemari nama keluarga yang mereka banggakan. (Alex/Candra)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s