Suatu Hari di Kedai Preanger

Aip pocer

Jika Shakespeare & Company punya andil besar bagi Hemingway, maka bagi saya itu adalah Kedai Preanger. Sebagai rumah kedua, ia telah membuka beragam minat: literasi, kopi, cuci piring, dan entah apa lagi.

Pukul sepuluh kurang dua puluh menit, lelaki itu masuk, menempati meja yang membelakangi jalan, membuka laptop berlogo apel, lalu memesan espresso. Kopi yang asem nyak, pintanya. Kemudian ia menawarkan sekeresek penganan berupa bolu-bolu dari gula merah. Saya belum terlalu paham soal kopi, sementara barista asli masih ada keperluan di toilet. Flores weh, jawab si barista asli saat saya menanyakan harus pakai kopi apa. Sebenarnya kedai kopi ini belum masuk jam buka. Meski begitu, saya tetap membikinkannya.

Saat menyerahkan espresso pesanannya, lelaki itu bertanya apakah saya sudah mempelajari artikel saya yang tayang dan sudah dia koreksi di portal media asuhannya. Ada banyak gubahan dari naskah awal saya. Begitu banyak. Kalimat-kalimatmu terlalu panjang dan pelik, padahal bisa lebih disederhanakan, kritiknya, juga struktur alurnya loncat-loncat. Macana rieut, keluhnya.

Memang, membaca tulisan awal dari artikel saya, bagi saya sendiri bikin pening.

Sok nulis naon deui? Dia bertanya. Saya diam, pura-pura berpikir. Dia kembali menekuri laptopnya. Dikenal sebagai kolumnis yang lihai mengawinkan sepakbola dan sastra, dengan Simulakra Sepakbola-nya, lelaki itu sekarang lebih sering di ibukota, sebab sedang jadi editor at large di portal bertagline “Jernih mengalir mencerahkan” itu. Saya bilang punya ide tulisan soal melankolia kolektif, tapi biar digarap sama penulis Bakat Menggonggong saja, yang juga reporter di Tirto.

Setelah tak tahu harus mengobrol soal apa lagi, saya kembali ke bak cuci piring. Selain membaca, mencuci piring jadi kesenangan saya berikutnya. Entah kenapa. Melihat tumpukan piring berminyak dan gelas dengan ampas kopi sisa malam kemarin, dan harum Sunlight, berasa sedang melakoni seorang George Orwell dalam Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London. Terbayang ketika Hemingway nyaman makan di hotel modis di rue de Rivoli, Orwell sedang berpeluh menghadapi piring-piring kotor di dapur bawah dengan perut keroncongan. Lagu-lagu Doel Sumbang – yang bertema cinta, hidup dan pemandangan alam sangat saya sukai, tidak untuk lagu-lagunya soal wanita yang terkesan misoginis – masih terputar, menandakan kalau ini masih di Bandung. Paris lainnya.

Saat sedang masyuk mencuci piring, muncul lelaki lain yang menunggangi sebuah media dengan niche Persib. Khususnya Bandung, klub sepakbola bergelar Pangeran Biru ini jadi satu ceruk tersendiri, menjual sudah pasti. Bagi bobotoh, media yang dikepalai lelaki barusan adalah yang sering dijadikan rujukan. Melihat fenomena ini, dalam satu Kelas Literasi yang rutin diadakan di kedai ini pernah mengangkat soal penulisan sepakbola, atau literasi bal-balan. Jika lelaki sebelumnya sudah tersohor sebagai orang yang berada di balik Panditfootball, maka lelaki yang datang belakangan ini belum banyak diketahui. Dia merupakan orang yang ada di balik Simamaung. Dia datang dengan celana training biru favoritnya, sambil membawa sepiring nasi dari warteg sebelah. Mengambil Ceritera Dipati Ukur-nya Edi S. Ekadjati dari rak buku dan, sebagai manusia modern yang dituntut multi-tasking, makan sambil membaca. Meski banyak melankolisnya, saya selalu suka berdiskusi soal sejarah dan teologi Islam dengannya.

Tanpa terasa, siang sudah meninggi. Kedua lelaki tadi pamit pulang, yang satu ingin melihat anak istrinya karena kepalang kangen ditinggal kerja di Jakarta, satu lagi balik ke kantornya yang memang tak terlalu jauh. Saya masih membaca Cerita Hidup Rosidi dari Tosca Santoso, buku tentang kisah seorang tahanan politik yang salah tangkap dalam tragedi 1965. Gerah mulai terasa, pertanda kipas angin harus diputar.

Kedai Preanger berdiri di sebuah ruko sewaan di Jl. Solontongan No. 20-D, Buahbatu, Bandung. Tempatnya mungil saja. Tidak se-hipster Kineruku. Lebih sebagai markasnya Komunitas Aleut, komunitas apresiasi sejarah dan wisata di Bandung.

Seperti di Shakespeare & Company, saya menjadi salah satu tumbleweed, atau penginap di lantai dua. Sebagai bentuk terimakasih karena telah jadi rumah kedua, saya merasa harus untuk membantu sebagai pegawai meski tanpa upah. Cuci piring, belajar meracik kopi dan teh, dan tentunya bersih-bersih.

Semenjak sering nongkrong di Kedai, saya bertemu banyak kenalan. Pertemuan dengan orang-orang dengan minat yang sama, yang sedang belajar, bahkan dengan yang dianggap pakar dari berbagai bidang perlu disyukuri. Pada perjalanannya, karena ditopang oleh jaringan pergaulan yang cukup luas, Kedai Preanger memang kerap dikunjungi oleh konsumen yang berlatar hubungan perkawanan yang datang dari banyak tempat, dan hendak mencoba ragam kopi atau teh yang disediakan. Para pengunjung menikmati suasana, bercengkerama sambil berbagi cerita. Terkait hal ini sang pemilik, penggagas, dan pengelola Kedai Preanger, sekaligus Komunitas Aleut, pernah menjelaskan bahwa bukan karena racikan kopi dan teh yang luar biasa, apalagi dengan peralatan yang sangat seadanya. Ada hal lain yang dapat ditemukan di kedai ini, tuturnya.

Malam pun turun. Kali ini, seorang lelaki datang membawa buku Dari Beranda Tribunal dan Singapura: Hidup Semasa Tipu Daya Sang Rezim rilisan terbaru Ultimus. Buat kedai, bung, katanya. Dia memang aktor penting dalam penerbitan Kiri itu. Sepanjang yang sering saya lihat, dia selalu tampak mengenakan kaos kasual, celana selutut, dan sandal jepit, bahkan saat bermotor jauh sekalipun. Saat itu, di lantai dua sedang dilakukan katalogisasi koleksi perpustakaan yang dipunyai Kedai Preanger. Tumpukan buku tersebar acak di lantai. Udah banyak ya, komentarnya sambil mengangguk-angguk, yang Ultimus-nya ga banyak, ya? Dia berkeliling melihat-lihat dan kembali ke bawah. Dia sengaja datang untuk merembukkan buku-buku yang hendak dirilis Komunitas Aleut.

Waktunya tutup. Biasanya ada banyak tumbleweed, atau penginap. Yang paling ribet adalah agar enam sepeda motor bisa dimasukkan di lantai satu. Sementara di lantai dua buku-buku tadi belum terkatalog semua, dan kantuk sudah menyelimuti. Buku-buku tadi hanya digeser ke sisi. Saya kembali membuka laptop, awalnya untuk menulis. Bingung antara harus menulis cerpen atau mengoreksi skripsi, atau melanjutkan novel, atau membuat artikel, dan berakhir dengan menonton YouTube. [Arif]

Tayang pertamakali di pocer.co tanggal 17 April 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s