Plus Minus Mencintai Pasangan Ala Marx dan Sartre

fanpop.com-OK
Foto: fanpop.com

Oleh: Arif Abdurahman

“Truly, I would write it down as a refrain,

For the coming centuries to see –

LOVE IS JENNY, JENNY IS LOVE’S NAME.”

Siapa bilang seorang Karl Marx enggak bisa jatuh cinta? Bait puisi di atas dialamatkan Marx buat gebetannya. Gombal pasaran, tapi enggak buruk-buruk amat sih. Marx sendiri seorang penyair, telah menulis tiga album puisi yang dibikin pada akhir musim gugur 1836 dan pada musim dingin 1836-1837.

Dia kesengsem dengan Johanna Bertha Julie Jenny von Westphalen atau Jenny, anaknya Baron Ludwig von Westphalen, seorang aristrokrat Prusia yang sering mengajak Marx berdiskusi soal seni, filsafat, politik, dan sastra Inggris di sepanjang Sungai Moselle. Cinta pun bersambut, karena Jenny sama-sama suka.

Hubungan dengan keluarga Westphalen memang telah banyak memengaruhi hidup Marx. Ludwig von Westphalen adalah mentornya. Sementara abangnya Jenny adalah teman paling karib, bahkan sahabat satu-satunya Marx ketika masih bocah. Dengan Jenny, Marx secara teratur sering bertemu satu sama lain sejak bocah juga. Jenny empat tahun lebih tua dari Marx.

Awalnya sederhana, mereka jadi teman dekat saat remaja. Keduanya pembaca yang tekun dan sama-sama intelek. Ketika Marx pulang setelah menyelesaikan tahun pertama di universitas, hanya beberapa bulan setelah ulang tahun ke-18, ia dan Jenny mulai pacaran secara diam-diam. Menurut gombalan Marx, seperti lelaki lain yang menyanjung pujaan hatinya, Jenny adalah gadis paling cantik di kota Trier.

Marx dan Jenny bertunangan pada 1836. Mereka akhirnya menikah pada 19 Juni 1843 di gereja Kreuznacher Pauluskirche, distrik Bad Kreuznach. Yang paling nyeleneh, Marx membawa banyak buntelan yang berisi lebih dari 40 buku saat bulan madu. Tetap harus ada kerja-kerja yang dilakukan.

Saat masih hidup, musuh politik dan intelektual Marx begitu banyak, tapi dia justru lebih sering melukai orang-orang yang justru dicintainya. Selain sahabatnya, Friedrich Engels, justru keluarganya sendiri yang sering tersakiti, terutama istrinya. Keluarga sering berpindah-pindah, apakah untuk mencari tanah yang subur untuk direvolusionerkan atau pencarian suaka.

Kemiskinan selalu mengikuti mereka di mana pun mereka berada. Saat tinggal di London, Marx terkenal enggak jago mengatur keuangan, terpaksa Jenny jadi pelanggan tetap rumah gadai. Ditambah Marx yang sering mengabaikan keluarga karena doyan baca tulis di perpustakaan atau pesta minuman keras. Diperparah dengan Marx yang kemudian tertangkap main serong. Tapi Jenny tetap setia.

Kisah kasih Marx dan Jenny bisa dibaca lengkap di Love and Capital yang ditulis jurnalis Mary Gabriel. Buku ini ditulis untuk memanusiakan seorang Karl Marx. Marx enggak salah jatuh cinta. Seperti kata Leo Tolstoy dalam pembukaan novel Anna Karenina, “Seluruh keluarga bahagia, bahagia dengan cara yang sama. Keluarga tidak bahagia, tidak bahagia dengan cara masing-masing.”

Kisah cinta lainnya yang patut dijadikan pelajaran adalah  Jean Paul-Sartre dan Simone de Beauvoir. Sebuah kisah cinta yang ganjil. Kisah cinta dua pemikir penting asal Prancis. Alkisah, Sartre dan Beauvoir bertemu di Paris pada 1929, Sartre berusia 24, Beauvoir menginjak 21.

Keduanya sedang sama-sama belajar ujian kompetensi agar bisa masuk jadi pengajar di persekolahan Prancis. Beauvoir adalah seorang perempuan yang rupawan dan stylish. Ia masih punya pacar kala itu, tapi kemudian jatuh cinta sama Sartre yang bisa dibilang tak rupawan dan nggak fashionable banget. Sartre sendiri mengakui itu.

Sartre dan Beauvoir terkenal sebagai pasangan dengan kehidupan yang independen, bebas untuk menikmati hubungan lain, tapi hubungan mereka berdua terpelihara layaknya pasangan yang sudah menikah. Karena enggak mau saling melumpuhkan kebebasan masing-masing, mereka enggan untuk menjalin ikatan pada umumnya.

Sartre dan Beauvoir sama-sama aktif dalam pergerakan politik Kiri dan banyak menelurkan ide-ide radikal. Soal kapitalisme, Sartre berpendapat bahwa ini adalah mesin raksasa yang dirancang untuk menciptakan rasa keharusan yang sebenarnya enggak ada dalam realitas.

Kapitalisme membuat orang mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa orang harus bekerja sesuai jam kerja tertentu, merasa harus membeli produk atau jasa tertentu yang sebenarnya enggak dibutuhkan. Dalam hal ini, yang ada hanya pengingkaran kebebasan dan penolakan bahwa orang sebenarnya bisa mengambil kemungkinan lain dalam hidup.

Mungkin terdengar omong kosong, tapi salah satu upaya paling mudah meruntuhkan kapitalisme adalah dengan jatuh cinta. Jangan takut jatuh cinta, sebut filsuf Slavoj Zizek dalam ceramahnya Our Fear of Falling in Love. Dia mengkritisi biro jodoh yang terlalu formal. Dia menjelaskan mengapa jatuh cinta penting bagi dua sejoli.

Menurutnya, dua orang tertarik satu sama lain karena ketidaksempurnaan atau cacat dalam dirinya sendiri, dan ada semacam idealisme yang ingin dimiliki. Zizek menjelaskan bahwa ketika dua orang jatuh cinta, itu adalah pengalaman yang menyiksa karena dunia kedua pihak dipaksa berubah. Seluruh hidup mereka berdua berubah.

Zizek juga menjelaskan bahwa ada bentuk penyiksaan ketika idealisme yang setiap orang harapkan pada pasangan ternyata enggak sesuai ekspektasi. Ini adalah bentuk penyiksaan ketika menemukan realita sebenarnya. Dua bentuk penyiksaan dalam jatuh cinta ini menarik bagi Zizek, karena justru sebagai proses belajar yang terus menerus bagi setiap pasangan kekasih untuk bertumbuh.

Benarlah kata filsuf Alain Baidou, bahwa cinta adalah bentuk komunisme mungil. Mencintai harusnya saling menguntungkan kedua pihak, sarana menumbuhkan kesadaran kolektif. Sepertinya ada yang harus dikritisi dari lagu Efek Rumah Kaca yang judulnya Jatuh Cinta Itu Biasa Saja. Pada kenyataannya, jatuh cinta itu luar biasa. Jatuh cinta adalah upaya meruntuhkan kapitalisme, minimal ego kapitalis dari diri masing-masing pasangan.

Gimana mblo? Eh, maap… [ ]

Tayang pertama kali di voxpop.id tanggal 17 April 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s