Di saat yang sama ketika pengarang besar Rusia Leo Tolstoy bergumul dengan depresi dan krisis spiritualnya, di sisi lain Eropa, ikon kreatif lainnya ikut-ikutan sedang berjuang dengan kegelapan dalam lansekap psikoemosionalnya sendiri. Di kala gangguan mental yang sangat, Vincent van Gogh melukis karya seni paling terkenalnya dan yang bakal berpengaruh di masa-masa mendatang.

Ada sebuah adagium bahwa untuk menciptakan karya besar seorang seniman harus membayarnya dengan semacam penyiksaan. Merasa teralienasi dan disalahpahami. Keseringan merokok dan minum-minum. Mengalami frustrasi seksual dan patah hati yang berulang, dan umumnya tampak terbebani oleh emosi dan konflik batin mereka sendiri. Tortured artist, istilahnya. Para seniman yang tersiksa ini seringkali rentan terhadap mutilasi diri dan memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi.

Selama beberapa dekade, para psikolog tertarik soal potensi hubungan antara kreativitas dan depresi ini. Studi paling awal dan elementer adalah penelitian terhadap tokoh-tokoh terkemuka terutama di bidang sastra dan seni. Studi yang menemukan bahwa orang-orang kreatif tadi punya gangguan mood yang luar biasa tinggi. Charles Dickens dan Tennessee Williams menderita depresi klinis. Begitu juga Tolstoy, Ernest Hemingway dan Virginia Woolf. Sylvia Plath, penyair favorit saya, paling terkenal karena memasukkan kepalanya ke dalam oven saat kedua anaknya sedang tidur.

Untuk memahami dunia hari ini, sebut filsuf Slavoj Zizek, kita membutuhkan film, secara harfiah. Hanya lewat film saja kita mendapatkan dimensi krusial yang belum siap kita hadapi dalam realitas kita. Jika kita mencari apa yang sebenarnya lebih nyata dari kenyataan itu sendiri, lihatlah fiksi dalam sinema. Dengan catatan, bahwa dalam film ada yang namanya romantisasi dan bias.

Menonton adalah membaca. Bioskop Preanger merupakan kegiatan nonton film yang rutin diadakan di Kedai Preanger tiap pekannya di hari Selasa. Tiap bulan ada satu tema yang diputar. Saya kira ini bisa dijadikan latihan psikoanalisis ala Zizek tadi. Saya tertarik dengan tema sebulan kemarin. Biopic pelukis-pelukis berpengaruh yang harus berjuang melawan depresi: Frida (2002), Lust for Life (1956) dan Pollock (2000).

Vincent van Gogh membarukan impresionisme; Frida Kahlo mengawinkan surealisme, simbolisme, realisme magis, realisme sosialis, primitivisme, naturalisme, naive art, dan menjadikannya satu arketip dalam seni modern; Jackson Pollock mewarnai ekspresionisme abstrak dengan gaya uniknya menitiskan cat warna. Kesamaan dari ketiganya: kegilaan!

Hanya orang gila yang bisa menelurkan kebaruan. Gilanya, itu emang benar. Seperti dilansir CNN dalam judul The Dark Side of Creativity: Depression + Anxiety + Madness = Genius?, bahwa ada hubungan kreativitas dan skizofrenia.

Scott Barry Kaufman, psikolog Amerika dan penulis Scientific American, telah menyimpulkan hasilnya dengan cara ini. “Tampaknya kunci kognisi kreatif adalah membuka semacam gerbang banjir dan membiarkan informasi masuk sebanyak mungkin,” tulisnya. “Karena Anda tidak pernah tahu: terkadang asosiasi yang paling aneh bisa berubah menjadi ide kreatif yang paling produktif.”

Jelas beberapa orang menderita karena seni yang mereka ciptakan, dan jelas beberapa seni berasal dari penderitaan. Para psikolog telah membangun hubungan antara penyakit jiwa dan kreativitas, namun mereka masih menyusun mekanisme yang mendasari itu. Jadi enggak tepat untuk mengatakan bahwa semua seniman berisiko terkena penyakit jiwa. Meski kebanyakannya begitu, dan harus. [/AIP]

+

Post-scriptum:

Berawal dari forum Movies di Kaskus, saya memulai kegiatan yang sebenarnya enggak penting-penting amat: merekap dan meresensi film yang ditonton selama sebulan. Niatnya, buat nambah pos dan numpang tenar. Ritual ini kemudian beralih ke blog pribadi. Niat utamanya hampir sama, agar ada bahan untuk dipos dan biar disangka movie snob. Dalam sebulan, meski filmnya beragam tema dan genre, tapi saya berusaha menghubung-hubungkan, bahkan memaksakan bahwa ada kesamaan antara film-film yang saya tonton selama sebulan itu. Makin ke sini, karena intensitas nonton yang enggak banyak-banyak amat dalam sebulan, maka saya hanya benar-benar merekap film-film yang emang setema. Tentang tema cinta atau soal penulis, misalnya. Soal pos rekapan film ini emang saya bikin seenak jidat juga sih. Kalau lagi enggak malas.

 

 

 

Advertisements