Dari Ramadan ke Ramadan

Di Paledang, dan mungkin di kampung-kampung lainnya, Ramadan bagi anak-anak adalah suatu kesenangan: keluyuran di malam hari, jajan kerupuk banjur, ngabuburit, main petasan dan lain sebagainya.

Bicara Ramadan, bagi saya, merupakan pengingat masa kanak-kanak. Tak hanya ingatan tentang kenakalan, tapi juga ingatan tentang teman-teman sebaya.

Kampung saya bukanlah Paledang yang berada di tengah kota dan terkenal akan minyak wanginya itu. Paledang tempat saya tinggal, adalah perbatasan Kota Bandung dan Kota Cimahi, yang berada di kelurahan Campaka dan kecamatan Andir. Berpuluh Ramadan saya lewati di tempat ini berikut puluhan kenangannya. Bagaimana tidak, saya menghabiskan hampir seluruh masa kecil saya di sini. Termasuk masa kecil di Bulan Ramadan.

Di kampung saya hanya ada 6 RT. Ini menunjukkan kalau kampung saya tidak terlalu luas. Saya bertempat di RT 5 yang secara geografis diapit oleh dua RT lainnya. Dari dua RT yang mengapit itu, RT 6 bisa disebut “saudara”, selain karena tidak terlalu jelas batas geografisnya, warga RT 6 sering berbaur dalam beberapa kegiatan yang diselenggarakan oleh warga RT 5 seperti kerja bakti, Agustusan, pengajian, dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Di waktu-waktu bermain, apalagi saat Ramadan, anak-anak dari RT 6 selalu menginvasi tempat bermain anak-anak RT 5. Ini salah satu yang membuat saya tak punya jarak dengan teman-teman RT 6. Bahkan hal ini terjadi sampai sekarang.

Masjid Al-Hikmah tempat saya melaksanakan salat Tarawih dan kegiatan keagamaan selama Ramadan, dengan bedugnya yang khas, menjadi tempat paling mengasyikkan. Saya dan teman-teman lainnya kerap kali stand by di area bedug untuk bergiliran ngadulag. Tak jarang antrian cukup panjang karena setiap teman ingin mencoba memukul bedug tersebut. Secara bergiliran kami ngadulag dengan langgam yang berbeda-beda, seolah sedang berkompetisi untuk menghasilkan lantunan yang enak didengar.

Hmm… Andaikan sejak kecil saya sudah “berkenalan” dengan Travis Braker, mungkin saya akan bergaya seperti dia dalam menabuh bedug. Untungnya belum, bisa dibayangkan kalau saya bergaya dengan pukulan-pukulan cepat saat ngadulag. Tangan bareuh menjadi suatu keniscayaan.

Jika Haryoto Kunto, dalam bukunya yang berjudul Ramadhan di Priangan menyinggung tentang jajanan tempo doeloe seperti soto “cipati” Abah Encim di Pasar Baru dan soto “Oranje” di Cibadak, Paledang tak mau kalah, tak jauh dari rumah saya ada pedagang dadakan yang hanya muncul di bulan Ramadan; Ceu Pupun, penjual kurupuk banjur dan baso tusuk. Menjajakan jajanan menjelang buka puasa sampai sekitar pukul 21.00 WIB.

Sejak kecil saya diterpa dengan pendidikan agama yang kuat. Apalagi jika bulan Sya’ban hampir berakhir. Masjid Al-Hikmah, tempat saya menimba ilmu agama itu, menjadi saksi bagaimana saya dan teman-teman mulai menyelenggarakan rapat-rapat untuk menghadapi Ramadan. Selain itu, karena pertemuan yang intens, masjid ini juga menjadi saksi jika saya pernah naksir  lawan jenis di usia SMP.

Arghh… Andai perempuan yang saya taksir membaca tulisan ini, dia akan senyum-senyum sendiri sambil membuka smartphone-nya untuk kemudian mencari tahu akun-akun sosmed saya, mungkin.

Berlanjut ke salat Tarawih, seperti kebanyakan anak-anak, adalah ibadah sunah dengan tingkat kebercandaan paling menyenangkan. Ngaheureuyan dan nyeungseurikeun bapak-bapak yang berbadan lucu, ngacak-ngacak sandal agar setelah Tarawih selesai bapak-bapak dan ibu-ibu terlihat pusing dan masih banyak lagi kenakalan lainnya.

Selain itu, saya sering membawa mie instan untuk dimakan saat Tarawih sedang berlangsung. Caranya cukup klasik, diremukkeun lalu dimakan saat berjamaah salat. Jadi, saat yang lain salat, saya ngagares mie instan sampai habis. Ukuran habisnya adalah jika rasa asin bumbu sudah sangat terasa. Jika sudah habis, saya tidak membuang bungkusnya di tempat sampah, melainkan saya buang di bawah sejadah bapak-bapak yang berada di dekat saya.

Satu lagi hal yang paling membuat kangen saat Ramadan adalah ngabuburit. Momen ini menjadi momen paling dinantikan. Banyak cara untuk menunggu azan Magrib seperti main gambar, monopoli, sampai main playstation jika ada uang.

Seorang teman berujar dalam catatannya: “Bulan Ramadan akan selalu sama setiap waktunya, ibadah shaum sebulan penuh, salat tarawih setelah berbuka, serta berbagai keceriaan murni ketika menyambut datangnya Ramadan. Rasa yang berbeda bukan datang dari bulan Ramadan, tetapi dari kita sendiri yang setiap tahun tumbuh, dan mulai memperlakukan Ramadan dengan cara yang berbeda.”

Ada benarnya juga sih. Hmm… Saya jadi ingat apa yang dikatakan si penulis Jalan Lain ke Tulehu, “Agaknya hidup memang berlangsung bukan dari waktu ke waktu, melainkan dari suasana ke suasana.

Ah… saya memang seorang yang sentimental. [Akay]

Foto: taleefcollective.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s