Ramadan Anak Gang Panah

“Yantii… Yantii… ke masjid yuk!”

Suara seperti itu hampir selalu saya dengar di awal datangnya bulan suci Ramadan. Teman-teman selalu bersemangat untuk pergi tarawih ke masjid Baitul Muhsinin yang ada di jalan SM. Raja, Rantauprapat, tepatnya di sebelah jalan Perisai yang mengarah ke Padang Bulan. Rumah saya yang letaknya paling mendekati masjid, menjadi jemputan terakhir oleh teman-teman. Walau terkadang, ada saatnya saya yang menjemputi teman-teman satu persatu untuk pergi ke masjid bersama.

Bukan sok alim atau sebagainya, tujuan kami ke masjid tidak murni ingin melaksanakan salat tarawih, hanya saja kalau di masjid teman-teman akan bertambah banyak, dengan kata lain masjid jadi tempat bermain untuk kami. Kadang ibu memelototkan matanya ke arah saya sebagai isyarat agar saya diam. Atau saya disuruh salat di sebelahnya yang berada di shaf tengah. Kalau sudah begitu, maka saya akan bolak balik ke kamar kecil sebagai alasan.

Pojok belakang kiri ruangan masjid menjadi shafnya anak gang Panah, di sana kami saling bertukar cemilan buka puasa. Terkadang kalau sedang musim jambu air, kami akan minta pada pemiliknya sebelum ke masjid, sebagai bahan cemilam kami. Di shaf tengah belakang, ada anak jalan Perisai, dan di pojok kanan belakang ada anak gang Tengku Muhammad Cane. Keseruan lain saat salat tarawih adalah memandangi wajah teman yang sedang serius dalam salatnya, atau terkadang iseng mengikat mukena mereka.

Jahil banget, tapi kami gak sepenuhnya main terus di masjid, saat salat wajib Isya, maka kami salat semua, kemudian saat ceramah kami isi dengan ngobrol. Saat tarawih yang 20 rakaat, waktu inilah kami gunakan untuk main, karena kata orang tua tarawih tidak harus penuh 20 rakaat, boleh istirahat kalau capek. Nah, jadilah waktu istirahat itu kami gunakan untuk makan-makan cemilan atau mengisengi teman, tarawih dilakukan berselang seling. Ketika tiba saat salat witir 3 rakaat, semua kami salat, karena tarawih akan berakhir. Biasanya setelah salat witir kami langsung pulang, tidak mengikuti doa selesai salat, terlalu lama.

Di perjalanan pulang, petasan sudah siap menanti, tepatnya di gang Tengku Cane yang di sebelah kantor Golkar. Di situ anak lelaki sudah menunggu kami lewat. Mereka suka jahil lempar petasan ke arah kami, kadang temanku ada yang berani main petasan dan membalas ke mereka, kalau aku sih lebih memilih lari, aku tidak suka bau asap korek dan juga asap petasan.

Bukan hanya tarawih yang menjadi keseruan saat Ramadan, tadarus juga sama halnya. Bersama guru mengaji dan teman-teman mengaji lainnya, kami melakukan tadarus. Mengaji dari rumah-ke rumah seusai salat tarawih. Yang paling aku suka adalah makanan yang disediakan oleh si tuan rumah hehe. Asyiknya ikut tadarus itu, kita bisa khatam Al-Quran dengan mudah, karena dilakukan bersama-sama. Gak enaknya, bacanya mesti pakai mic bikin gak pede, juga selesainya yang tiap hari hampir tengah malam.

Selain kegiatan malam, kegiatan di waktu subuh juga gak kalah menyenangkan. “Asrama subuh” begitu sebutannya, kegiatannya tentu saja salat subuh kemudian mendengarkan ceramah subuh. Bagi kami, itu hanya alasan untuk keluar rumah saja. Usai salat subuh kami jalan-jalan, suasana jalan yang sepi saat waktu subuh membuat kami asik tiduran di aspal, menunggu kendaraan datang, kemudian lari, semacam uji nyali gitu deh. Sebenarmya itu bahaya, karena jalanan yamg kami tiduri merupakan jalanan propinsi. Ya, namanya juga anak-anak.

Kalau sore saat menunggu buka puasa, kadang kami suka mencarter becak untuk jalan-jalan, berkeliling kota, juga memburu takjil, dan selain itu lagi-lagi perang petasan selalu ada, menyebalkan memang, tapi seruuu hihi..

Saat SMP saya pindah rumah, tapi masih ada di gang yang sama yaitu gang Panah. Rumah saya berada di belakang rumah si Ni juga Fikri, di antara rumah si Jannah dan Balqis. Letak rumah saya jadi strategis, berbeda saat dulu yang letaknya di depan jalan raya dan paling pinggir.

Di lingkungan yang baru ini saat sore tiba, selalu saja ada piring yang datang dari tetangga, baik itu kolak, buah malaka, bubur kacang ijo, dsb. Piring itu kami pulangkan dengan masakan yang kami punya. Sebenarnya tidak dibalas juga tidak kenapa, tapi bukankah berbagi itu menyenangkan? Selain itu, tentu saja karena ada hadits yang mengatakan kalau memberi makan orang yang berpuasa maka pahalanya akan sama dengan yang berpuasa.

Begitulah keseruan Ramadan di tempat tinggalku, Ramadan menjadi bulan yang sangat dinantikan di mana setiap kebaikan yang kita kerjakan akan dilipat gandakan. Saat bulan Ramadan saya banyak mendapat kebaikan dan insyaAllah saya selalu ingin membalasnya. Memang benar yang dikatakan orang, ternyata kebaikan itu menular, maka yuk kita selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. 😊  [Mey]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s