Solontongan Pos dan Sindrom Bartleby

Beberapa waktu lalu saya membaca Literature and Existentialism dari Jean Paul-Sartre. Yang saya pelajari, Sartre itu orang yang sok dan menjengkelkan. Apa-apa dipermasalahkan. Tentu, yang pengen paham eksistensialisme, Sartre orangnya. Buku tadi mengaitkannya dengan sastra. Ada tiga bab, yang membahas topik penting dan mendasar: Apa itu menulis? Kenapa menulis? Untuk siapa seseorang menulis? Sartre memperdebatkan segalanya, secara filosofis dan historis. Sayang, mungkin karena penguasaan bahasa Inggris saya yang payah, saya enggak terlalu paham, dan enggak terlalu berusaha juga buat memahaminya. Ada beberapa yang saya ingat, salah satunya soal kebutuhan seorang penulis agar dirinya merasa esensial dalam hubungan dengan dunia, yakni lewat tulisan mereka bisa mengungkapkan dunia lewat cara yang unik dan penting.

Ketimbang buku tadi, saya lebih ngeh sama esainya George Orwell, Why I Write. Dia menulis tentang kenapa ia menulis dan beberapa motif utama mengapa seseorang menulis. Salah satu motifnya adalah kepentingan pribadi. “Keinginan untuk terlihat pintar, menjadi bahan perbincangan, terus dikenang bahkan setelah kematian, membalas dendam kepada mereka yang meremehkan sewaktu kecil, dsb, dsb,” tulisnya. “Omong kosong jika berpura-pura menganggap bahwa ini tak pernah menjadi motif utama, apalagi salah satu yang terkuat.” Orwell adalah esais jungjungan aing pisan.

“Beritahu aku, kenapa aku harus menulis?” jawab istri penjual koran dalam Bartleby & Co, saat si narator mencoba menanyakan kenapa seseorang enggak menulis kepada masyarakat umum. Novel karangan Enrique Vila-Matas tadi mengisahkan soal sindrom Bartleby. Sejenis penyakit yang membuat seorang penulis berkata “enggak” dalam arti “enggak lagi menulis”. Novel ini merupakan sejenis penjelajahan untuk menemukan penulis-penulis macam begini.

Vila-Matas berhutang pada Herman Melville dan cerita yang dibikinnya, Bartleby, the Scrivener: A Story of Wall Street. Seperti judulnya, ceritanya berpusat pada seorang juru ketik bernama Bartleby. Awalnya, Bartleby seorang giat. Tapi suatu hari, ketika diminta untuk membantu mengoreksi sebuah dokumen, Bartleby menjawab dengan apa yang akan menjadi tanggapan terus-menerusnya terhadap setiap permintaan: “Saya lebih memilih untuk tidak melakukannya.”

I would prefer not to.

I would prefer not to.

I would prefer not to.

I would prefer not to.

Slavoj Zizek sering menyitir ungkapan ini, bahkan memakai kaos bertuliskan ucapan si Bartleby itu. Tapi saya lupa penjelasannya. Lebih tepatnya, saya lebih memilih untuk enggak menjelaskannya. Hehe.

Sindrom Bartleby tadi saya pikir hinggap di diri pemimpin redaksi Solontongan Pos. Media yang pas dimasukkan dalam The Book of Imaginary Beings-nya Jorge Luis Borges. Sebabnya, ketika kawan-kawan Solontongan lain sibuk berlomba menulis dan mengirimkannya ke berbagai media daring, dia lebih memilih untuk enggak melakukannya. Blognya sendiri telah lama ditutup. Sesekali mengomentari isu terkini lewat cuitan di Twitter, meski hanya selewatan dan enggak penting-penting amat, layak buat dilupakan.

Media tanpa berita #SolontonganPos

A post shared by Solontongan Pos (@solontonganpos) on

Lebih memilih untuk enggak memberitakan, jelas sebuah sikap yang patut diapresiasi. Dalam terpaan tsunami informasi hari ini, buat apa menulis dan mengabarkan?

+

Foto: In the Mood for Love

 

Advertisements

One thought on “Solontongan Pos dan Sindrom Bartleby

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s