“Bagaimana seorang penulis yang berada dalam satu budaya mengkomunikasikan prinsipnya kepada pembaca di tempat yang sangat berbeda?” tanya Adam Kirsch dalam The Global Novel: Writing the World in 21st Century. Sebagai jawabannya, dia menyodorkan karya dari delapan penulis: Orhan Pamuk, Haruki Murakami, Roberto Bolaño, Chimamanda Ngozi Adichie, Mohsin Hamid, Margaret Atwood, Michel Houellebecq, dan Elena Ferrante. Mereka mewakili enam bahasa asal, Turki, Jepang, Spanyol, Inggris, Prancis, dan Italia, dan mereka adalah tokoh terkemuka di jajaran sastra dunia.

 

Saya belum baca buku dari Kirsch, hanya penggalannya doang di Murakami vs. Bolaño: Competing Visions of the Global Novel. Kebetulan, karena dari keenam penulis yang disebut di atas, hanya dua nama itu yang sudah saya baca. Bahkan, dua penulis itu yang paling banyak saya baca karya-karyanya. Pemimpin redaksi Solontongan Pos pernah bertanya siapa penulis favorit saya, dan saya jawab dengan diam. Penulis favorit saya, sejauh ini, adalah mereka berdua.

Murakami, penulis seleb kelahiran Kyoto yang sering nongol tiap tahunnya kalau mendekati pengumuman Nobel Sastra. Menawarkan cerita surealis dan melankolis bahkan fatalistik. Menampakan Kafkaesque, soal keterasingan dan kesepian, yang ia susun dalam narasinya. Radiohead-nya sastra. Dianggap sebagai tokoh penting dalam sastra postmodern. Salah satu novelis besar di dunia yang masih hidup, puji The Guardian.

Bolano, seorang gelandangan cum penyair yang lahir di Santiago di tahun yang sama pas Stalin dan Dylan Thomas mokat. Tulisan-tulisan Bolaño berulang kali memanifestasikan perhatian dengan sifat dan tujuan sastra dan hubungannya dengan kehidupan. Satu penilaian terakhir atas karyanya membahas gagasannya bahwa budaya sastra adalah ublag. Bolaño menyebut realisme magis bau tai. Karya yang dibikinnya enggak tepat disebut menghibur, dan seringkali menjadi beban untuk dibaca.

Berbeda dengan Murakami, Bolaño sudah pupus pada 2003 silam di usia lima puluh tahun karena kerusakan hati. Meski begitu, setiap ada naskah Bolaño yang ditemukan, pasti langsung diterbitkan.

Soal gaya penulisan, tentu berbeda. Namun antara Murakami dan Bolaño beroperasi pada tingkat kosmik. Lewat metafora dan parabel, juga melalui plot dan karakter, keduanya mengacukan bahwa dunia yang mereka tulis secara fundamental terganggu dan kacau, bahwa masa lalu, sekarang, dan yang akan datang adalah tempat yang durjana.

Untuk premis ceritanya sendiri mencuri kisah ala detektif. Tapi bukan seperti Sherlock Holmes atau Hercule Poirot. Dalam Murakami, pasti ada tokoh wanita yang hilang, sementara Bolaño menghilangkan tokoh yang biasanya seorang penyair. Harus ada yang hilang, agar ada proses pencarian. Tentang hasilnya apakah ditemukan atau enggak, bukan soal. Yang utama adalah tentang mencari.

 

The Wind-Up Bird Chronicle ditulis ketika Murakami berada di Amerika saat jadi dosen Princeton. Novel ambisius yang dengan sadar diri memuat spektrum yang luas juga berat: sifat fana cinta romantis, kekosongan kejahatan politik kontemporer dan yang paling provokatif dari semua, warisan agresi kekerasan Jepang dalam Perang Dunia II. Berharaplah jangan jadi perempuan atau kucing dalam dunia fiksi Murakami, karena kemungkinan besar kamu akan hilang. Jadi lelaki pun sama sih, bahkan lebih nelangsa, Toru Okada dalam semesta novel ini, contohnya. Setelah kehilangan pekerjaan, lalu kucingnya, kemudian istrinya pun ikut-ikutan hilang. Dan yang dilakukan si Toru Okada tadi malah masuk ke dalam sumur kering, kampret banget kan? Mau nyusul Kagome sama Inuyasha kali ya.

2666. Membaca buku setebal 900 halaman ini saat menunggu soto ayam, saat menunggu cuci motor, saat gogoleran di masjid, dan entah di mana lagi. Beruntung, karena baca versi ebook lewat hape. Butuh 45 menit hanya untuk menjelaskan apa isi novel ini, keluh seorang sutradara yang mementaskan 2666 ini. Judulnya saja udah misterius, dan enggak ada penjelasannya. Novel kolosal yg belum usai. Jadi tentang apa novel ini? Hmmm. Akademisi Eropa, salah satunya Amalfitano, penulis Jerman misterius bernama Benno von Archimboldi, para kritikus sastra yang mengejar keberadaannya, Meksiko, Santa Teresa, Gurun Sonora, jurnalis Amerika yang ditugaskan ke sana meliput pertandingan tinju, pembunuhan terhadap 112 korban wanita antara 1993-1997, Perang Dunia II, Meksiko, Santa Teresa. Santa Teresa! Tokoh utama novel ini adalah distrik fiksional itu sendiri, Santa Teresa.

Jika boleh kasih saran, jangan dulu baca The Wind-Up Bird Chronicle dan 2666 sebagai awalan untuk baca dua penulis itu. Selain karena tebalnya, sebaiknya kita adaptasi dulu.  Tapi ini bukan keharusan. Untuk Murakami bisa dimulai dengan Norwegian Wood atau Kafka on the Shore, sementara Bolano bisa dari Night by Chile atau The Savages Detective. Atau bisa juga dimulai dari baca cerpen-cerpen keduanya, sudah banyak tersebar di internet.

Tentu, masih banyak yang bisa dibahas. Sialnya saya malas melanjutkan.

Baiklah, saya akhiri dengan pertanyaan sok filosofis aja. Ketika seorang penulis bikin buku yang sama populernya di Tokyo, Los Angeles, Mexico City dan Bandung, apakah dia membuktikan bahwa kehidupan abad ke-21 di semua tempat pada dasarnya sama, dan karena itu dapat dipahami secara bersamaan? Ataukah universalitas ini hanya merupakan manipulasi seperangkat konvensi dan referensi yang dipahami setiap orang karena telah dikatrol oleh industri kultur global?

 

Advertisements