Musim semi tiba, itu artinya mari katakan sayonara pada musim salju. Datangnya musim semi selalu dinantikan oleh masyarakat Jepang karena dipercaya sebagai awal yang bahagia, ditandai dengan mulai bermekarannya bunga sakura. Tanah yang dulunya tertutupi putihnya salju lambat laun akan berubah menjadi merah muda oleh bunga sakura yang berguguran.

Inilah waktu yang sangat tepat untuk mengunjungi negara Jepang. Karena pada musim ini selalu diadakan perayaan untuk menyaksikan bunga sakura bersama keluarga atau orang-orang tercinta yang disebut Hanami.

Masa mekar bunga sakura sangat singkat, sekitar setengah bulan sejak bunga itu mekar hingga layu. Bunga sakura memiliki makna yang cukup dalam bagi masyarakat Jepang. Ia makna kesejukan, kebahagian, keheningan dan ketenangan.

Bunga sakura juga melambangkan perpisahan. Ini tercermin ketika bunga sakura mulai berguguran diterpa angin yang membawa kehangatan. Tiada yang abadi. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan.

Ia datang memberikan keindahan bagi siapa saja yang melihatnya, meninggalkan kenangan, lalu ia akan pergi bersama datangnya musim dingin. Sakura akan dirindukan dan ia akan datang kembali di waktu yang sama dengan generasi yang baru.

Begitu juga perpisahan akan dialami oleh manusia. Karena semua yang hidup pasti akan mati. Ada hal yang menarik dari kematian seseorang di Jepang, yakni adanya sebuah profesi perias mayat yang disebut Nokanshi. Saya tahu tentang nokanshi setelah melihat film Departures yang judul aslinya adalah Okuribito (おくりびと) yang menceritakan kehidupan seorang Nokanshi.

Di negara Jepang citra suatu profesi sangat penting. Di Jepang tak beda jauh dengan Indonesia, lelaki yang bekerja, sedangkan perempuan tinggal di rumah. Di sana lelaki bekerja dengan pakaian yang hampir seragam. Media di sana menyebutnya dengan istilah sarariman (berasal dari kata salaryman yang artinya pekerja gajian yang berpakain jas, kemeja putih dan membawa tas). Pekerjaan sarariman ini harus wajar dan tidak aneh-aneh. Jika aneh, seberapa besar pun gajinya, maka istri atau keluarga akan malu.

Maka tak heran jika pekerjaan Nokanshi yang dilakukan oleh Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki) dalam film Departures dianggap memalukan, karena pekerjaan ini berhubungan dengan mayat dan kotor. Pekerjaan ini pun biasanya dilakukan oleh orang pendatang seperti dari Korea, karena pada masa itu profesi ini tak begitu diminati oleh warga pribumi.

Dengan dibuatnya film Departures yang disutradarai oleh Yōjirō Takita ini diharapkan dapat mengubah citra Nokanshi jadi lebih dihargai. Lewat film ini kalian akan melihat betapa penting dan indahnya pekerjaan Nokashi. Apalagi gerakan-gerakan seorang Nokanshi dalam mengurus mayat dilakukan begitu penuh perasaan dan memiliki seni tersendiri.

Nokanshi pekerjaan yang membantu mempersiapkan mayat agar berpenampilan bersih dan rapi. Di Jepang sebuah kematian dianggap sebagai gerbang menuju menuju kehidupan baru. Maka tak heran jika mayat dipersiapkan dan didandani layaknya akan menuju suatu pesta dengan mengenakan pakaian ataupun aksesoris yang mendiang sukai di masa hidupnya.

Dalam film ini kalian akan lihat seberapa pentingkah Nokanshi dalam proses pengurusan mayat. Tak hanya merias, seorang Nokanshi harus mampu memimpin ritual dari pemandian, doa, hingga dimasukannya mendiang ke dalam peti mati sebelum dikremasi.

Dari sini kita bisa lihat bahwa Nokanshi bukan hanya sebagai pekerja perias mayat tapi ia adalah seorang pengantar yang akan mengantarkan yang diantar menuju gerbang ke kehidupan baru. [Upi]

 

Advertisements