waiting

“Mau saya poskan berkasnya ke rumah Bapak?”

“Oh, ga usah. Biar saya langsung ambil ke sana.”

“Bukannya merepotkan Pak? Jalanan sedang macet, rumah Bapak lumayan jauh juga.”

“Tidak apa-apa. Saya malah lebih repot ketika harus dibuat menunggu.”

Duloh memang tidak pernah mau dibuat menunggu, bagaimanapun alasannya atau apapun kepentingannya. Baginya menunggu adalah hal yang lebih melelahkan daripada mengejar, menunggu adalah hal yang lebih menyiksa daripada mencari.

Sejak kecil, Duloh lebih senang mengambil buah mangga dengan memanjat pohonnya, bukan menunggu buah mangga itu jatuh dengan sendirinya. Ia pun lebih senang berperan sebagai pencari daripada yang sembunyi kalau sedang bermain petak umpet. Karena ia pikir peran yang bersembunyi itu lebih melelahkan daripada yang mencari, sudah cape-cape cari tempat yang paling tersembunyi untuk bersembunyi, akhirnya aturan main yang mengharuskan yang bersembunyi keluar dari tempat persembunyiannya. Capenya tiga kali, mencari tempat bersembunyi, bersembunyi dan keluar dari persembunyian.

Berbeda dengan yang menjadi kucing, perannya cuma satu hanya mencari yang bersembunyi. Lagipula, Duloh selalu bertanya-tanya mengapa peran si pencari seakan-akan dianggap peran antagonis, pihak yang kalah, pihak yang terjatuhi hukuman berat yaitu harus mencari semua yang bersembunyi. Sedangkan, yang bersembunyi seakan-akan dianggap sebagai peran protagonis, yang selamat, yang menang di permainan, bukan pihak yang dijatuhi hukuman harus repot-repot mencari. Mungkin, pikir Duloh lagi, karena jumlah yang bersembunyi lebih banyak dari pencari yang hanya seorang.

Lewat permainan petak umpet itu pikiran Duloh sempat terganggu oleh beberapa pertanyaan, yaitu apakah pemenang adalah yang tenang bersembunyi, dan pecundang adalah yang sibuk mencari? Apakah pemenang adalah yang sembunyi-sembunyi pasif oportunis, dan pecundang adalah yang aktif mencari dan menciptakan peluang? Duloh memang lebih suka menjadi kucing, meski aturan main bisa saja menjadikannya pemenang dalam sekejap.

Sejak remaja tidak berbeda, Duloh lebih senang mengejar perempuan yang disukainya. Ia akan langsung mengutarakan apa yang dirasakannya, dan tidak mau dibuat menunggu akan jawaban: iya atau tidak.

“Hmm… Aku pikir-pikir dulu ya.”

“Baiklah lebih baik tidak usah, aku batal ingin memacarimu daripada harus menunggu jawaban. Lupakan saja permintaanku tadi,” timpal Duloh sambil berlalu. Sang perempuan melongo.

Menginjak bangku kuliah, Duloh pun tak berubah. Ia tidak mau dibuat menunggu ketika dosen bimbingan skripsinya molor dari waktu pertemuan yang disepakati. Ia memilih pergi dan meninggalkan draf skripsinya di meja dosen yang sepi. Tak lupa ia menuliskan surat di atas draf itu:

“Untuk Bu Neneng, dosen pembimbing yang saya hormati. Maaf saya tidak bisa berlama-lama menunggu Ibu. Terlampir draf bab 1 sejumlah 15 halaman. Sudi kiranya Ibu mengoreksi setiap hal yang dirasa tidak sesuai. Saya akan kembali menemui Ibu jika kita sudah sepakat tidak ada lagi yang harus dibuat menunggu. Sekali lagi maaf Bu, saya tidak bisa menunggu terlalu lama. Salam, Duloh Mahasiswa Bimbingan.”

Tak heran, draf skripsi Duloh tak pernah sekalipun dikoreksi oleh Bu Neneng dosen pembimbingnya itu. Bahkan, lembar-lembar draf skripsi Duloh tenggelam dalam tumpukan kertas-kertas lain, yang kemudian dijual ke tukang gorengan di depan kampus, lalu dimodifikasi dari kertas penuh teori menjadi kertas pembungkus gorengan yang fungsional.  Tak sampai di situ, Duloh dikeluarkan dari kampus karena dianggap telah melecehkan seorang guru besar. Duloh kecewa, tetapi ia mengambil sisi baik dari peristiwa ini. Duloh anggap hal ini adalah berkah, karena ia tidak harus lama-lama dibuat menunggu untuk sebuah perayaan bernama kelulusan.

Setelah drop out dari kampus, Duloh memilih bekerja sebagai pedagang batik keliling, bukan pekerja kantoran di balik meja dan kursi yang nyaman. Dulloh tidak mau menunggu pekerjaan datang kepadanya sambil sibuk main soliter di depan komputer. Ia memilih berpanas-panasan, berjalan kaki menawarkan barang dagangan. Dari rumah ke rumah, dari toko ke toko, dari satu penolakan ke lain penolakan.

Duloh tidak mau terus menerus menerima semua penolakan itu. Ia tidak mau menunggu terlalu lama untuk sebuah penerimaan. Maka Duloh segera saja pergi ke seorang dukun, meminta agar bisnisnya dilancarkan. Tak disangka, bisnis Duloh berkembang. Bahkan ia dapat mempekerjakan 12 orang pegawai di toko batiknya, dan toko itu ia beri nama Toko Batik Ojo Nunggu.

Sebagai bos, Duloh sering mengingatkan para pegawainya, “Kejar terus calon pembeli, jangan nunggu rejeki datang, bagaimana kalau sang rejeki itu bernama Neneng? Kau akan mati kelaparan!” Para pegawai yang mendengar motivasi bosnya itu serentak mengiyakan lalu saling pandang dengan muka heran, bertanya-tanya siapa pula itu Neneng.

Toko Batik Ojo Nunggu semakin berkibar namanya dalam dunia perbatikan, baik di dalam maupun di luar negeri. Siapa yang tidak tahu pola batik Ojo Nunggu yang punya ciri khas dan berkarakter sesuai namanya Ojo Nunggu, bersemangat, beringas, tak pernah puas, selalu mengejar apa yang ingin dikejar, setelah dapat ya mengejar lagi kejaran baru.

Omset Toko Batik milik Duloh terus meningkat, cabang-cabang tokonya ia resmikan di setiap kota. Jumlah pegawainya bertambah banyak , uang di rekeningnya bertambah banyak, beristri banyak, bahkan berniat memperbanyaknya terus. Asetnya tersebar dalam berbagai bentuknya yang banyak. Duloh sudah punya banyak, bahkan kebanyakan.

Namun, sifat asli Duloh tidak pernah berubah, ia tidak mau dibuat menunggu. Sarapan harus sudah siap di meja makan ketika ia baru duduk. Istrinya harus sudah siap di ranjang ketika ia ingin bercinta. Pernah suatu ketika semua istrinya sedang haid di waktu bersamaan, Duloh yang tidak mau dibuat menunggu lantas menjadikan salah satu pembantunya sebagai istri, dinikahi hari itu juga!

Dahulu ia sering kesal dibuat menunggu oleh antrean atau kemacetan, kini persoalan itu selesai. Kemacetan diatasi dengan kawalan polisi, soal antrean biar salah satu ajudannya yang melakukan. Semua menjadi serba cepat berkat uang dan kekuasaan yang ia dapat.

Suatu pagi, Duloh baru saja bangun dari tidurnya. Semalam ia telah meniduri tiga istrinya sekaligus. Dengan malas ia beranjak dari tempat tidurnya yang empuk dan luas itu, membuka jendela membiarkan udara pagi masuk membawa kesegaran. Tubuhnya menggeliat, mulutnya menguap lebar-lebar.

***

Duloh mengumpat dalam hati, mengapa di padang pasir ini ia masih tetap harus dibuat menunggu. Mengapa di padang pasir gersang ini harus ada antrean yang bahkan panjangnya melebihi antrean sembako. Bahkan ujung antreannya pun tak kelihatan dari tempat ia mengantre. Ingin sekali ia menyerobot antrean ini, tapi antrean ini dijaga oleh makhluk-makhluk bukan manusia, mungkin malaikat, tapi kok bentuknya tidak seperti malaikat di film-film Hollywood. Mana sayapnya?

Bukannya tidak tahu, Duloh tahu bahwa dia sudah ada di akhirat. Tadi pagi ia menguap di depan jendela, sebelum tiba-tiba ada lalat terbang dengan kecepatan tinggi melesat masuk ke dalam tenggorokannya. Entah lalat macam apa, tenggorokannya tersumbat, jalan nafasnya terhenti, lalu ia mati. Sesederhana itukah ia mati? Satu-satunya hal yang tak pernah ia perhitungkan akhirnya datang juga, dari seekor lalat.

Bagaimana jadinya toko batikku? Segala macam koleksiku? Aset-aset dan istri-istriku? Duloh tak henti-henti meratap dalam antrean, sampai tak ia sadari ia sudah ada di muka sebuah loket.

“Duloh Marciano!”

“Dari mana ia tahu namaku. Nama lengkap malah. Nama pemberian kakekku yang gemar nonton tinju.”

Duloh hanya mengangguk ketika petugas loket menyebut namanya, bibirnya tertutup rapat seperti dikunci.

Petugas loket kemudian memeriksa catatan-catatan hidup Duloh di dunia, kadang tersenyum kadang dahinya mengernyit, wajahnya tertekuk, matanya yang besar melirik tajam ke arah Duloh dari balik kaca matanya yang bulat.

“Hmm. Baiklah. Kau tidak jahat-jahat amat. Sudah diputuskan kau termasuk golongan A1209, kau akan masuk surga.”

Duloh senang mendengarnya. Ia tersenyum. Tak disangka akhirat ternyata tak buruk-buruk amat!

“Tetapi…” petugas loket melanjutkan penjelasannya, “Kau harus menunggu giliranmu selama 10.000 tahun waktu akhirat di padang pasir ini.”

Duloh terhenyak. Senyumnya sirna seketika. 10.000 tahun?! Duloh tidak tahu apakah itu sebuah waktu yang lama atau tidak di akhirat ini, tapi ia tidak peduli, seberapapun lamanya, selama itu disebut menunggu ia tak akan pernah mau! Berat rasanya.

“Bagaimana? Kenapa kau terlihat bingung dan tidak suka? Kau akan masuk surga! Apa kau mau masuk neraka yang tidak pernah ada antreannya itu? Semua orang tak perlu menunggu lama, mereka akan dijebloskan begitu saja, selesai!”

Duloh terdiam mendengar penjelasan petugas loket itu. Ia melirik ke arah pintu gerbang neraka yang memang sepi, hanya terlihat satu dua orang yang diseret beberapa penjaga neraka tanpa kompromi. Duloh menghela napas panjang, lalu mulai melangkahkan kakinya, melewati petugas loket sambil tersenyum. “Sepertinya menunggu akan tetap lebih menyiksa daripada berada di neraka.” [Candra]

Kredit foto: thecentraltrend.com

Advertisements