Semua orang tua mereka-reka cerita, atau lebih tepatnya berbohong, untuk membantu anak-anak mereka agar bisa memahami dunia sebelum mereka benar-benar siap menerima. Mungkin kita masih ingat apa jawaban konyol mereka saat kita bertanya soal dari mana datangnya bayi. Begitu juga yang dilakukan Ma pada anaknya Jack dalam film Room (2015). Ketika Ma memutuskan untuk mengatakan kepada Jack yang sebenarnya saat berusia lima tahun, bocah tersebut tentu saja memberontak. “Kisah ini membosankan,” protes Jack. “Inilah cerita yang harus kamu dapatkan,” sang ibu memberi tahu anaknya.

Room adalah adaptasi dari sebuah novel populer karya penulis Irlandia Emma Donoghue, dengan skenario film yang ditulisnya sendiri. Berkisah tentang Ma dan anaknya Jack yang disekap dalam sebuah ruangan selama bertahun-tahun. Saya sendiri belum baca novelnya. Yang pasti, film tersebut mendorong batas-batas luar dari apa yang kita pahami tentang cinta, keluarga, parenting, epistemologi, dan bahkan makna eksistensial. Sampai akhir film, yang saya pikirkan adalah soal alegori guanya Plato.

Sebagai perangkat literasi, alegori sendiri adalah metafora yang kendaraannya bisa berupa karakter, tempat atau kejadian, yang mewakili masalah dan keadaan di dunia nyata. Alegori telah digunakan secara luas sepanjang sejarah dalam segala bentuk seni, terutama karena ia dapat dengan mudah menggambarkan gagasan dan konsep kompleks dengan cara yang dapat dipahami atau menarik minat penonton, pembaca, atau pendengarnya.

Plato, filsuf Yunani klasik berpengaruh, murid dari Sokrates dan guru dari Aristoteles ini, mengajukan sebuah alegori paling terkenalnya, soal gua. Dalam cerita klasiknya, orang-orang dirantai di gua yang gelap. Yang mereka lihat hanyalah bayang-bayang orang yang datang dan pergi, dari hal-hal yang terjadi, terpantul ke dinding gua. Bagi mereka, bayang-bayang itulah semua yang mereka ketahui tentang dunia, semua itu yang benar-benar eksis bagi mereka. Suatu hari, seorang berhasil melarikan diri dari gua dan menemukan dunia tiga dimensi yang kaya dengan warna dan bentuk, pemandangan, suara, dan bau. Dia kembali ke gua dan mencoba menceritakan yang lain, tapi mereka enggak mau mendengarnya.

Room tentu saja sangat mewakili alegori gua Plato. Bagi Jack, televisi sama dengan bayang-bayang dalam gua. Jack melihat orang, tempat, objek, hewan, dan tumbuhan, yang sejauh yang dia tahu sama nyatanya dengan garis-garis gelap di dinding, yang artinya, enggak nyata. Ma yang telah menjalani dunia di luar, terpaksa berbohong sampai Jack siap. Kamar mereka adalah batas alam semesta yang dikenal.

Masalahnya, bagi Ma adalah bahwa dia bukan hanya seseorang yang lolos dari gua. Dia enggak selalu berada di dalam gua. Dia tahu ada dunia yang lebih besar karena dia pernah di sana. Namun bagi anak kecil, batas-batas dunia jauh lebih sulit ditemukan.

Di sini kita bisa mafhum, berbohong adalah kendaraan paling tepat. Kita bisa memaklumi kenapa para orangtua berbohong. Meski asyiknya, kita belajar berbohong ya dari mereka. Berbohong, secara sadar adalah apa yang diperbuat fiksi sepanjang sejarah, baik itu dalam sastra atau film atau media lainnya. Fiksi, sebut Albert Camus, adalah kebohongan yang dengannya kita menceritakan kebenaran.

*

room 2015 bioskop preanger

Bioskop Preanger adalah nonton bareng rutin yang diadakan di Kedai Preanger tiap hari Selasa malam.

Advertisements