Asrama Dara: Sepiring Lotek Ala Usmar Ismail

Oleh: Arifin Surya Dwipa Irsyam

asrama dara

Sungguh anda orang paling bahagia. Jika punya seorang pacar jelita. Tapi Bung jangan coba bermain mata dengan dara-dara satu asrama.

Usmar Ismail merupakan Sutradara film Indonesia yang paling saya kagumi. Karya-karyanya banyak yang mencuri hati saja. Sebut saja, Enam Djam di Djogdja (1951), Lewat Djam Malam (1954), Tiga Dara (1956), dan Asrama Dara (1958). Saat kecil, saya menonton film-film tersebut bersama keluarga melalui layar kaca. Stasiun TVRI lah yang memfasilitasi saya untuk mengenal sosok Usmar lewat karya-karyanya. Kemarin, 06 Maret 2018, Bioskop Preanger memutar film Asrama Dara di Jl. Solontongan 20D. Saya sudah lima kali menamatkan film ini, namun masih saja tertarik datang ke Kedai Preanger untuk menonton yang keenam kalinya.

Asrama Dara ditayangkan pada tahun 1958. Film bergenre drama musikal ini dibintangi oleh sederet aktor dan aktris ternama yang legendaris, seperti Fifi Young, Chitra Dewi, Aminah Cendrakasih, Suzanna van Osch, Baby Huwae, Rendra Karno, dan Bambang Irawan. Soundtrack pengisinya pun sangat memanjakan telinga, ada Suami Istri Bahagia, Trem & Bis Kota, Puspa Jelita, dan Rindu Lukisan. Lagu-lagu tersebut menjadi bagian yang paling menarik dan memperkuat cerita di dalamnya, sehingga tidak bisa dipisahkan begitu saja dari film Asrama Dara. Lagu Rindu Lukisan yang merupakan karangan Ismail Marzuki pun turut menghiasi Asrama Dara. Pada film produksi Perfini ini, Rindu Lukisan didendangkan oleh Pranadjaja dan Nina Kirana.

Menurut saya film ini ibarat sepiring lotek dengan berbagai macam komposisi di dalamnya. Semua rasa di dalamnya disatukan oleh sehelai benang merah. Banyak hal yang ingin saya bahas dari film ini. Mari kita lucuti saja satu per satu.

***

Asrama Dara mengambil latar mengenai kehidupan dan peliknya berbagai masalah para remaja perempuan yang tinggal di sebuah asrama. Ada beberapa tokoh utama di film tersebut, yaitu Rahimah (Chitra Dewi), Tari (Aminah Cendrakasih), Maria (Baby Huwae), Sita (Nun Zairina), Ani (Nurbani Jusuf), dan Ina (Suzanna). Rahimah adalah seorang dokter lulusan Universitas Indonesia yang konservatif, galak, dan tidak dapat menolak keinginan orang tuanya. Ia rela berkorban demi orang tua, meski batinnya tersiksa. Semua itu ia lakukan karena Sang Ayah telah berjuang keras untuk menyekolahkannya di Jakarta. Sehingga pemberontakan kecil pun ia anggap sebagai tindakan yang sarat akan kedurhakaan. Rahimah digambarkan sebagai perempuan muda yang kaku dengan masalah asmara. Ia berpikir bahwa sudah saatnya perempuan fokus untuk meniti karir dan menyampingkan urusan cinta yang berujung dengan perkawinan. Ironisnya, ia tidak dapat berbuat banyak untuk memperjuangkan pola pikirnya saat dijodohkan dengan seorang Insinyur bernama M. Saleh. Rahimah kesepian. Sehingga ia menjadi pribadi yang galak dan judes. Ia ingin terlihat selalu tegar di hadapan para penghuni asrama, meskipun hatinya rapuh dan mudah hancur. Selera fashionnya pun tak seluwes yang lain. Ia cenderung tampil lebih sederhana ketimbang Sita atau Maria.

Pada tahun 1950an pun sudah ada cewek matre. Tipikal wanita seperti ini diwakilkan oleh sosok Maria, seorang pramugari maskapai penerbangan Garuda Indonesia yang mudah tergiur oleh harta dan jabatan. Maria pencemburu dan karakternya mudah dibaca oleh teman-temannya yang lain. Luapan rasa cemburu sangat terlihat jelas saat Broto, pria perlente yang kece (saat itu), berusaha mendekati Sita dengan gencar dan penuh kode. Ia sangat piawai mengendus kode-kode yang dikirim oleh Broto untuk Sita. Ya wajar saja.. lha wong dia pramugari! Hahahha.. Emosi Maria naik turun bak roller coaster terutama untuk masalah cinta. Ia mudah jatuh hati dan mudah pula patah hati. Baru saja ia menjauhi Broto, sudah langsung berani menjalin hubungan baru dengan Imansyah, pilot yang sebelumnya ia tolak dan tak dianggap.

Ada percakapan antara Imansyah dan Broto yang sangat begitu membekas buat saya.

Imansyah: “Aku mau dia. Dia mau anda. Anda mau itu!”

Broto: “Itulah hidup!”          

(Kemudian saya menangis sembari menyelesaikan naskah ini)

***

Karakter selanjutnya adalah Tari. Perempuan ini sebenarnya menyenangkan dan menggemaskan, meski secara fisik memang kurang menarik. Sama seperti Rahimah, ia kesepian. Acap kali iri dengan dara lain yang punya kekasih. Ibu Asrama mengganggapnya bodoh, karena ia hanya menjadi korban rayuan para lelaki semata.

Ibu Asrama: “Heh.. dengar bocah cilik, semua laki-laki suka senyum. Suka manis-manis sama wanita. Kenapa? Buat serep! Kalau nanti tidak ada yang lain, yang lebih menarik atau yang lain yang suka padanya. Pikirnya yang kurang-kurang sedikit juga boleh. Mengerti?”

Tari: “Tidak!”

Ibu Asrama: “Tolol! Anak ijo! Mentang-mentang laki-laki itu baik jangan gampang terjebak. Was-awas!”

Para pria hanya mempermainkan perasaannya saja. Tanpa berpikir jauh tentang segala kebaperan yang dirasakan oleh Tari. Bayangkan… Tari kesepian, kemudian datang seorang pria yang menggodanya sekedar untuk iseng. Mungkin Tari memang bukan pilihan pertama, tapi ia punya harga diri! Sayangnya… sosok Tari memiliki pemikiran yang pendek. Ia membabi buta menerima gombalan kaum pria, untuk menghilangkan rasa sepi di hati. Adegan yang menempel di otak yaitu saat Tari bernyanyi di atas trem setelah pulang kuliah. Saya membayangkan jika film ini dibuat ulang, maka tentu saja Tari akan berdendang di dalam KRL yang padat.

Namanya Ina, seorang gadis kecil korban perceraian orang tua. Ina kurang mendapatkan asupan kasih sayang dari Ayah dan Ibunya, sehingga ia memburu perhatian dari para dara. Tidak mengherankan jika Ina banyak bicara dan bertingkah, semua itu ia lakukan agar mendapat perhatian dari orang-orang sekitar. Kasihan memang Ina. Di umur belia, telah menjadi korban keegoisan orang tua. Tidak dipungkiri bahwa sosok Ina membawa angin segar dalam film ini. Tingkahnya yang manja, jahil dan kekanak-kanakan memperkaya watak penghuni asrama dan mampu membuat penonton dibuatnya gemas. Akting Suzanna dalam film ini menarik perhatian saya. Gayanya asik dan kemayu. Tentu sangat jauh berbeda ketimbang sosok Sundel bolong yang biasa ia perankan. Oleh sebab itu, melihat Suzanna berakting sebagai Ina merupakan suatu pengalaman yang berbeda bagi saya.

***

Di samping drama dalam kehidupan para dara asrama, banyak hal yang membuat film ini sangat bagus. Usmar Ismail mengangkat tema kesetaraan gender dan hak perempuan di tahun 1950an. Melalui film ini, ia menyampaikan bahwa perempuan perlu diberi kebebasan untuk mengambil pilihan hidup dan menyuarakan haknya. Meskipun, ada konsekuensinya dan tidak bisa lepas begitu saja dari tanggung jawab kaum pria. Sebagai contoh, Usmar menggambarkan kebebasan berkarir yang dipilih oleh perempuan dapat menghancurkan rumah tangganya, bila tidak dikomunikasikan dengan baik bersama suami.

Jika Kau di Mayapada ingin hidup berdamai, mulailah damai dalam rumah tangganya sendiri. Mulailah damai antara suami isteri.

Selain itu, lewat film Asrama Dara, Usmar juga ingin menunjukkan identitas Indonesia pasca kolonialisme. Kesan tersebut terasa sangat kental saat adegan promosi Garuda Indonesia Airways, yang notabene dahulunya merupakan maskapai penerbangan milik Hindia Belanda bernama Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchvaart Maatschappij (KNILM). Hal yang sama juga dapat dirasakan oleh penonton saat adegan para dara asrama mempelajari tarian modern yang berbasis tari tradisional khas Bali. Walaupun gerakan tariannya mirip dengan apa yang orang Eropa Totok dan Indo pernah lakukan di Societeit Concordia puluhan tahun yang lalu.

Jalinan cerita yang apik akan semakin sempurna dengan sentuhan akting pemain, lagu-lagu pengisi, setting, sudut pengambilan gambar, dan juga kostum. Amboiii…. gaya fashion yang diaplikasikan dalam film ini sangat memanjakan mata! Gaun-gaun yang indah, corak-corak baju yang menarik, dan gaya rambut yang mempesona membuat saya tak berkedip. Saya pun jadi berandai-andai hidup di tahun 1950an. Semua aspek membuat film ini menjadi sangat bermakna. Ibarat suguhan lotek yang semuanya disajikan dengan pas. Tidak kurang atau berlebih. Sedap di lidah. Intinya, film Asrama Dara saya beri nilai 9.5 dari 10!

 IMG-20180306-WA0030

****

 IG: @suryadwipa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close