Menyoal The Creative City

Oleh : Lenny Martini

Dalam postingan ini saya akan mengulas dua buku utama mengenai kota kreatif, yaitu The Creative City yang ditulis Charles Landry dan Franco Bianchini tahun 1995, dan The Creative City: A Toolkit for Urban Innovators yang ditulis oleh Charles Landry.

Buku 1

Judul: The Creative City

Penulis: Charles Landry & Franco Bianchini

Penerbit: Demos

Tahun terbit: 1995

Jumlah hal: 60

Bahasa: Inggris

Ini adalah buku pertama yang memunculkan istilah ‘creative city’. Buku yang dikutip oleh seluruh karya akademik (dan banyak dari tulisan non akademik) dengan tagar ‘creative city’ ini telah mendapat lisensi creativecommon dan oleh karenanya dapat diunduh dengan bebas untuk keperluan non komersial. Kedua penulis, Charles Landry dan Franco Biancini adalah peneliti dan konsultan profesional di bidang urban development (Comedia) yang bekerja di wilayah Eropa dan Amerika.

Buku ini menginisiasi kerja-kerja lanjutan dengan topik kota kreatif dalam pengertian solusi kreatif bagi permasalahan kota, ekonomi dan non ekonomi. Charles Landry, melalui perusahaan konsultan pribadinya (www.charleslandry.com) mengembangkan kerangka pikir, analisis dan indikator untuk banyak kota yang mengadopsi gagasan kota kreatif ini. Ia menulis pula edisi kedua dari buku ini di tahun 2000 berjudul “Creative City: A Toolkit for Urban Innovators” yang kemungkinan besar akan saya tulis juga reviewnya setelah ini.  Sementara Franco Bianchini terus bekerja dalam riset yang membahas interaksi budaya dengan perkembangan kota.

Buku tipis ini terdiri dari 6 bab, membahas awal mula muncul istilah dan pemikiran mengenai ‘creative city’, menampung hasil olah pikir penulis mengenai kehidupan kota, pengertian kreatif dan kota kreatif dan memberikan contoh bagaimana kota-kota di Eropa bisa menjadi kreatif dalam mencari solusi untuk permasalahan-permasalahannya.

Bab satu membahas mengenai latar belakang kemunculan kreativitas sebagai ‘modal’ dan harapan sumber daya pembangunan kota setelah runtuhnya industrialisasi di wilayah British tahun 1990an.

Bab berikutnya membahas permasalahan umum yang terjadi di perkotaan wilayah Eropa barat pasca industrialisasi dan bagaimana selama ini pemerintah kota menghadapinya hanya sebatas dengan solusi fisik dan infrastruktur. Kedua penulis berpendapat bahwa dalam jangka waktu panjang hal ini akan memperparah kontradiksi yang terjadi di kehidupan kota dan menjauhi penduduk kota dari pencapaian kehidupan yang baik, seperti ide ‘the good city’ yang digagas urbanis Patrick Geddes, Lewis Munford dan Jane Jacobs.

Bagian ketiga membahas definisi kreatifitas dari perspektif pembangunan kota. Penulis berpendapat bahwa kreativitas adalah lawan dari pemikiran instrumentalis, yang dianggap cukup menyesatkan dengan berdasarkan hanya pada data kuantitas dan tidak menyentuh emosi, aspirasi, kebutuhan yang bersifat mendasar namun tak kasat mata.

Di bab selanjutnya, penulis mengusulkan bahwa untuk menjadi sebuah kota yang kreatif, pertama kali sebuah kota haruslah menyingkirkan halangan berupa birokrasi pemerintah kota yang berbelit dan seringkali bertujuan jangka pendek, khas pemikiran instrumentalis tadi. Setelah itu perlu disiapkan kerangka pikir yang berbeda, seperti mendefinisikan ulang sukses dan gagal, melihat kemampuan dasar, menyeimbangkan faktor internal dan eksternal, mendorong partisipasi warga, memulai dengan program-program kecil yang mudah sebagai penyemangat, menciptakan ruang-ruang kreatif dan mempersiapkan visi serta kepemimpinan yang sesuai.

Dalam bab lima, penulis mendeskripsikan cukup banyak contoh dari hal-hal kreatif yang telah dilakukan oleh kota-kota di Eropa dalam mengatasi masalahnya. Banyak dari usulan ini terdengar seperti hal biasa yang memang idealnya harus dilakukan setiap kota dimanapun di dunia ini. Misalnya, menciptakan lingkungan yang ramah anak, bersih, hemat energi, bebas macet, partisipatif, memanfaatkan ruang umum dan pengelolaan administrasi kota yang terbuka terhadap usulan pengembangan. Menurut pendapat pribadi saya, tidak banyak yang terdengar kreatif dari contoh-contoh ini. Bahkan gagasan seperti mempercantik penampilan kota untuk keperluan branding, menurut saya malah tidak kreatif sama sekali, karena kemungkinan besar malah memperparah masalah ketimpangan (inequality) dan memicu gentrifikasi. Hanya beberapa saja yang memang betul-betul menarik, kreatif, dan berbeda, sesuai dengan definisi ulang kreativitas yang dijelaskan di bab sebelumnya. Salah satunya adalah gagasan di Pieve S Stefano, Italy, yang menjadi City of Diaries. Kota tersebut mengadakan festival diary tahunan, mengundang warga untuk menerbitkan buku hariannya untuk dibaca bersama dan dinilai berdasarkan kisah hidup yang tertulis di dalamnya. Acara ini, yang saya lihat mirip dengan konsep project Human of New York atau Pride Project, menimbulkan rasa empati di antara masyarakat dan memunculkan banyak permasalahan kecil tapi pelik dan tak tertangani dalam pengelolaan kota.

Buku ini ditutup dengan kesimpulan bahwa untuk menjadi sebuah kota kreatif, segenap warga kota beserta semua pihak yang berkepentingan terhadap kehidupan kota harus bekerjasama dan berkontribusi dalam keseluruhan proses. Dari mulai pengenalan masalah, pemunculan gagasan, pemilihan ide yang akan digunakan, implementasi, sampai dengan monitoring dan evaluasi.

Sebagai catatan, hal yang saya dapat dari buku ini adalah pembentukan pengetahuan awal mengenai konsep kota kreatif berdasarkan pada pengalaman penulis bekerja dengan kota-kota di Eropa. Oleh sebab itu, kreativitas yang di gambarkan dalam buku ini juga masih sangat lekat dengan konteks Eropa, yang belum tentu bisa digunakan di kota-kota lainnya, termasuk kota Bandung.

—————————————————————————————————————————————–

Buku 2

Judul: The Creative City: A Toolkit for Urban Innovators

Penulis: Charles Landry

Penerbit: Earthscan & Comedia

Tahun terbit: Edisi pertama 2000, Edisi kedua 2008

Jumlah hal: 287

Bahasa: Inggris

Dari judulnya saya mendapat impresi bahwa fungsi buku ini adalah sebagai panduan untuk membentuk sebuah kota kreatif. Isinya ya sesuai dugaan, normatif, menyajikan segala sesuatu dalam bentuk ideal dan kontekstual.
Landry menulis buku ini dalam empat bagian besar. Yang pertama, urban groundshift adalah pernyataan mengenai pentingnya kreatifitas dalam kehidupan kota. Dilanjutkan dengan bagian dua berjudul the dynamics of urban creativity, dimana ia memberikan cukup banyak contoh kasus kreativitas dalam berbagai bentuk di kota-kota yang pernah ia amati, umumnya di Eropa. Bagian ketiga, a conceptual toolkit of urban creativity, berisi panduan langkah-langkah membentuk sebuah kota kreatif berdasarkan pengalaman Landry bekerja sebagai konsultan pembangunan kota bersama Comedia. Bagian terakhir, the creative city and beyond mengungkap gagasan Landry tentang menjadikan sebuah kota sebagai kota pembelajar (atau the learning city). Yang terakhir ini mengingatkan saya pada konsep Learning Organization-nya Peter Senge di buku The Fifth Discipline.
Namun, tetap saja ada cukup banyak hal yang bisa digali dari buku ini, di antaranya:
  • Pernyataan bahwa kota kreatif bukan hanya milik kelas kreatif (yang diartikan banyak orang sebagai para pemikir dominan otak kanan yang nyeni dan nyeleneh) tapi setiap orang yang bisa menemukan sudut pandang baru dalam memandang suatu masalah dan kemudian mengusulkan solusi, serta menjalani solusi tersebut dengan efektif. karakter yang diperlukan adalah berpikiran terbuka dan memiliki kapasitas besar untuk MENDENGARKAN! (secara harfiah mendengar dan secara umum pengertiannya adalah menjadi sensitif dan kritis terhadap segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar).
  • Telaah sang penulis mengenai konsep waqaf dalam Islam yang sesungguhnya sangat berpotensi untuk menjadi solusi permasalahan residensial di perkotaan
  • Contoh beberapa ide hebat yang sudah dipraktekan di kota-kota lain di pelosok dunia

Sebetulnya total ada 33 contoh kasus yang ditulis dalam buku ini, namun mari kita bahas 6 contoh dulu dalam postingan ini.

1. Hay-Wye Book Town, United Kingdom

Cerita tentang satu kota yang tadinya bergantung pada sektor pertanian yang mulai menurun dan menemukan kembali daya tariknya dengan menjadi kota buku. Dimulai dengan toko buku bekas yang berlokasi di sebuah kastil kemudian merambah ke lokasi unik bersejarah lainnya seperti gedung bekas bioskop, gedung pemadam kebakaran dll. Sekarang, Hay-Wye ini menjadi tempat kunjungan wajib untuk para pecinta buku yang sedang bertandang ke UK dan sudah memiliki agenda tahunan pameran buku internasional yang mendatangkan ribuan pengunjung dan meramaikan sektor wisata lokal.

2. The Pearls of Wisdom Program, Brooklyn

Program ini menggabungkan para penghuni kota berusia lanjut dengan generasi muda untuk bersama mendefinisikan kembali arti masyarakat. Anggota senior di kelompok ini menceritakan kembali kisah-kisah menarik yang terjadi di jaman mereka yang bertempat di lokasi yang persis sama dengan yang saat ini dijadikan ajang berkumpul untuk anak muda. Hal ini menimbulkan perasaan memiliki dan menghargai serta ingin menjadikan lokasi ini lebih baik lagi ke depannya.

3. Pak Pos yang juga Petugas Daur ulang di Mikkeli, Finland

Untuk meraih daerah yang sulit dicapai oleh petugas daur ulang kota, pemerintah lokal memutuskan untuk menugaskan kepada pak pos melakukan kerja ganda, mengumpulkan kertas untuk didaur ulang ketika mereka mengantarkan surat. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan area kerja petugas pos yang bisa menjangkau pelosok desa.

4. Desain sekolah untuk anak-anak di wilayah kumuh, Okhala, New Delhi, India

Sebuah sekolah dengan desain modern dan warna ceria menjadi ikon pertanda harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anak di wilayah kumuh Okhala, New Delhi, India. dengan menggunakan material yang murah namun dengan warna dan desain menarik, sekolah tersebut berhasil meningkatkan minat belajar untuk anak-anak sekaligus membawa pencerahan untuk lingkungannya.

5. Rent a granny, Berlin

Wah ini program yang ditunggu seluruh ibu bekerja. Yaitu para nenek sewaan yang bisa menjaga anak-anak dengan biaya jauh lebih murah daripada daycare namun tanggung jawab dan perhatian yang jauh lebih baik.

6. Pemulung yang diformalkan, Filipina

Ini juga saya rasa bisa jadi salah satu alternatif solusi untuk kota kota di Indonesia. Di Filipina, sebuah program dijalankan untuk menggaji para pemuluh yang memilah sampah dari rumah tangga dan perkantoran. Keuntungan yang didapat dari hasil pengolahan kembali sampah tersebut digunakan untuk menggaji para pemulung ini sekaligus juga meningkatkan status sosial mereka di masyarakat.

—————————————————————————————————————————————-
Jika kita mau MENDENGARKAN, alias menyerap pengetahuan dari sumber mana saja, bersikap rendah hati dan mau menjadi ANAK SEMUA BANGSA (meminjam istilah dari Pramoedya), dan memiliki cukup ketekunan dan keteguhan untuk menginisiasi sebuah perbaikan kecil dengan konsisten, niscaya membentuk suatu ‘kota kreatif’ di mana saja bisalah menjadi kenyataan. Kembali kepada kesimpulan saya di review buku pertama, bahwa definisi ‘kota kreatif’ dikembalikan kepada keinginan dan kebutuhan masyarakatnya sendiri. Maka, mau jadi seperti apa Bandung sebagai kota kreatif, marilah kita jawab dan tentukan bersama!

 

Advertisements

1 thought on “Menyoal The Creative City

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close