Cerita di Sabtu Sore

the20last20supper

Oleh: Hendi Abdurahman (@akayberkoar)

Gaya orang yang difoto di Tebing Keraton ya gitu-gitu aja, kebanyakan membelakangi kamera dengan pandangan yang tertuju pada langit dan deretan pohon pinus. Gitu juga orang-orang yang mengambil foto di salah satu bukit buat motret perkebunan teh Cukul yang pemandangannya aduhai dengan hehijauan dan jalanan berkeloknya. Semuanya hampir seragam.

Saya mengangguk pertanda mengamini saat Arfin, teman sekaligus pembicara pada Kelas Literasi bertema “Fotografi Jalanan” menyinggung tentang bagaimana ngehitsnya fenomena orang-orang yang berfoto di Tebing Keraton dan Perkebunan Teh Cukul. Gaya dan hasil fotonya, kata Arfin,  gitu-gitu aja dan cukup mudah ditiru. Berbeda dengan fotografi jalanan yang lebih bercerita.

Dengan alasan itulah dia lebih suka memotret di jalanan yang mana saat pengambilan angel dan momentumnya lebih membutuhkan kreatifitas dan kesabaran.

Kelas Literasi Sabtu sore itu bertempat di ruangan audio visual Museum Gedung Sate. Dengan AC yang cukup dingin, ditambah penceritaan dan juga foto-foto yang ditampilkan pada layar membuat saya dan mungkin peserta lainnya seperti dininabobokan.

Mengenai dunia memotret ini, saya sebenarnya tak memiliki ketertarikan atau antusias berlebih. B aja. Namun di zaman yang no pic hoax ini, meski sebenarnya dunia fotografi bukan sesuatu yang baru, seenggaknya, saya juga mesti tahu perkembangannya, dong.

Kedongoan saya tentang dunia memotret ini sebenarnya sudah terbukti jauh-jauh hari. Beberapa kawan menjadi saksi.

Suatu sore yang sejuk di salah satu warung nasi di Agrabinta, Ana menggantungkan kamera yang terlihat imut. Saya sempat melihat beberapa kali kamera sejenis. Dengan percaya diri, saya berbisik pada seorang kawan saat kami selesai makan.

Kamera nu jiga si Ana eta teh naon sih, moriles lain?” tanya saya sedikit ragu, tanpa menunjuk Ana tentu saja.

Kawan saya tiba-tiba nyeletuk kepada kawan lainnya. “Eta si Akay ngomong kamera si Ana moriles  hahaha,” beberapa kawan menengok ke arah saya untuk kemudian tertawa berjamaah. “Mirrorless koplok nu kitu mah,” dia menambahkan dengan tetap terbahak. Saya tersenyum kecut, malu. Ana menarik bibirnya melihat keceledingansaya.

Kembali ke Kelas Literasi Sabtu itu, tak terasa penceritaan tentang dunia fotografi jalanan memasuki babak akhir. Acara dilanjutkan dengan sedikit sesi sharing dan berbagi pengalaman.

Hujan turun membasuh halaman Gedung Sate saat kami hendak pulang. Saya teringat dan menyetujui apa yang pernah ditulis Aip. Tentang kekecewaannya karena Indonesia cuma memiliki dua musim: hujan dan kemarau. Kenapa enggak ada musim salju? Padahal soto ayam, kata Arif, yang disantap saat berbarengan dengan guyuran salju bakalan menjadi pengalaman paling transendental. Saya menambahi, menyesap kopi saat musim salju setelah makan soto ayam juga bakalan jadi pengalaman yang tak kalah asyik. Apalagi diakhiri dengan lamunan.

Beberapa orang menerobos kebasahan untuk tetap pulang, beberapa lagi menunggu hujan di kantin Gedung Sate. Saya termasuk ke golongan “beberapa lagi” hahaha…

Tanggal di kalender sedang merah, begitu juga wajah dari bala-bala, karoket, dan gehu yang saya pelototi untuk dipilih. Seolah mereka malu karena hendak saya bawa untuk dijogreskan bersama torabika susu. Di kantin hanya dua kios yang buka. Kios-kios lainnya menggigil, etalasenya berselimut.

Orang-orang berkerumun di meja dan kursi kantin, mungkin biar hangat, meski nyatanya enggak. Atau biar seperti lukisan Perjamuan Terakhirnya Leonardo Da Vinci, nyatanya enggak juga. Bahkan akhirnya kami memilih meja masing-masing. Beberapa kawan yang menjadi panitia salah satu kegiatan bertajuk Biotour berkumpul di salah satu meja bagian barat. Ada yang mencatat, ada yang memberikan ide, ada yang curi-curi pandang. Di area tengah, beberapa kawan yang lain tak kalah asyik dengan ceritanya. Saya tak tau apa yang mereka ceritakan. Dari intel yang tidak bisa saya percaya, mereka sedang membicarakan tentang media-media online yang sedang tumbuh hari ini. Sedangkan saya, tak mau kalah. Duduk di bangku agak timur, saya, Upi, Aip dan Hamdan, juga beberapa teman lainnya sosoan berbicara tentang penulisan. Tentang bagaimana ide dalam penulisan bisa berkembang dan lain sebagainya. Aip menjadi imam besar. Meski banyak dicerca pertanyaan ini itu, dengan uga-ugeu yang menjadi ciri khasnya ia tetap bercerita.

Saya sempat ingin bertanya tentang mengapa tulisan yang saya kirim ke media daring banyak yang tak dimuat. Padahal kan lumayan, bisa dapat honor dan bisa beli rokok berbungkus-bungkus. Namun tentu saja saya urungkan pertanyaan tersebut. Kiranya saya sudah tau jawaban Aip bila saya bertanya seperti itu. Kalau pengen kaya dan dapat banyak uang, jangan jadi penulis, atau jika tetap ingin jadi penulis yang kaya kamu harus menikah dengan anak penerbit. Kurang lebih begitulah sepertinya jawaban yang akan saya terima jika pertanyaan tadi masih tetap saya lontarkan.

Jawaban lainnya, bisa saja seperti ini: Hahahaha menjadi penulis itu pelik, awalnya kamu menulis karena senang melakukannya, terus kamu menulis untuk orang lain, dan akhirnya menulis untuk uang.

Tiga kubu yang berada di kantin Gedung Sate saat itu begitu menikmati sore harinya. Beberapa gelas kopi dan teh dipesan, habis pesan lagi. Enaknya jajan di kantin ini juga karena saya bisa beli rokok ketengan. Sesuatu yang enggak bisa bila saya nongkrong di CK.

Hujan nampak bosan yang akhirnya kelelahan untuk kemudian berhenti. Begitu juga kami. Obrolan sabtu sore penuh faedah itu akhirnya mesti diakhiri dan dilanjut pulang.

Di kantin itu, beberapa kedipan mata saya merekam, untuk kemudian saya tuangkan.

Duh, biar maknyusss, tulisan ini harus diakhir sama quote terbaiq dari jungjunan kita semua, Fiersa Besari.

“Lensa terbaik adalah mata. Kamera terbaik adalah otak kita. Jangan cuma foto yang tercipta, namun lupa untuk merangkai cerita”

Siaaaap Bosqueeee!!! Laksanakeun!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close